
Fase trisemester sang istri, membuat Arsyad yang awam hal tersebut kelimpungan. Ada-ada saja tingkah dan permintaan aneh Zahra yang terkadang membuat Arsyad cengo.
Contohnya hari ini!
Waktu masih menunjukkan pukul empat dini hari. Dan Zahra sudah membangunkan Arsyad yang baru memejamkan mata.
Yap, pria malang itu hampir tiap malam dibuat begadang oleh calon bayinya. Zahra semakin manja dan bertingkah aneh.
"Mas!" rengek Zahra masih mengguncang tubuh Arsyad.
"Iya sayang!" Arsyad membuka matanya yang terasa begitu berat.
"Mau sesuatu?" tanya Arsyad saat matanya sudah bisa di ajak kompromi.
Zahra mengangguk, sedikit ragu. Tak tega juga pada sang suami. Tapi, spa daya, dia sangat ingin dan tidak kuat menahannya. Rasanya ingin menangis saat hal yang ia inginkan tak segera dituruti
Arsyad duduk di atas kasur dan membelai perut rata Zahra.
"Katakan, anak papa ini mau apa, hem?" tanyanya pada sang jabang bayi.
Ragu, namun Zahra menyebut keinginannya.
"Nanas!" ucapnya.
__ADS_1
"Apa? Kamu mau makan nanas sayang?" tanya Arsyad. Dia sudah belajar dan mencari tahu apa-apa tentang ibu hamil. Termasuk yang boleh dia makan dan tidak. Dan, nanas tidak baik buat wanita yang hamil muda. Itu sangat berbahaya bagi janin.
"Iya!" sahut Zahra lirih.
"Tapi itu tidak baik sayang. Berbahaya untuk bayi kita." ujar Arsyad selembut mungkin.
Mata Zahra mulai berkaca-kaca. Dia sudah menduga respon sang suami. Dia pun bukannya tidak tahu mengenai hal itu. Tapi, dia sungguh kepengen dan tak bisa menahannya.
Arsyad mulai panik saat melihat air mata Zahra mengalir tanpa bisa di cegah.
"Ganti yang lain yah sayang. Asal tidak berbahaya untuk kamu dan bayi kita, aku akan berusaha memenuhinya," bujuk Arsyad mengusap pipi Zahra yang basah oleh air mata.
Zahra menggeleng, "Tidak mau yang lain," ujarnya sesenggukan.
Arsyad dibuat berpikir keras akan hal itu.
Zahra dengan cepat mengangguk dan air matanya yang bagai sumber mata air, mengering seketika.
"Tunggu yah!" ucap Arsyad sambil mengusap kepala sang istri.
Kemarin Arsyad melihat di kebun kecil Aisyah ada nanas yang sudah matang. Dia akan ke belakang untuk memetiknya. Ada baiknya juga hobby ibunya itu.
...
__ADS_1
Aisyah yang terbangun karena haus. Mendapati Arsyad di dapur.
"Ngapain jam segini di dapur?" tanya Aisyah. Dia belum melihat apa yang putranya itu lakukan karena posisi Arsyad membelakanginya.
Aisyah heran. Dia melihat jam di dinding dan ini masih pukul empat lewat lima menit.
"Ngupas nanas mah!" sahut Arsyad.
Aisyah mengernyit, "buat apa?" tanyanya lagi. Tak berpikir jika itu request'an sang menantu.
"Zahra pengen makan nanas mah."
"Loh, tapi itu tidak aman bagi janinnya."
"Yah, Arsyad tahu. Tapi, ini kemauan cucu mama. Arsyad sudah membujuk, tapi cucu mama itu bandel sekali. Dia bahkan membuat ibunya menangis."
Aisyah tersenyum, membuat Arsyad heran.
"Haha, benar-benar anak kamu. Dulu, saat mama hamil'kan kamu pun, mama juga buat papa kelimpungan karena ngidam nanas di tengah malam," ucap Aisyah.
"Pantes saja!" gerutu Arsyad sambil memotong nanas yang sudah ia cuci.
...
__ADS_1
Aisyah mengikuti Arsyad ke kamar.
"Jangan banyak-banyak yah sayang! Tidak aman buat janin kamu." tutur Aisyah lembut, saat melihat sang menantu melahap nanas segar di depannya.