Islam Teman Sepiku

Islam Teman Sepiku
Bab 116


__ADS_3

Setelah seharian berkeliling. Arsyad kembali membawa Zahra pulang. Rencananya besok mereka masih akan bertualang ke tempat wisata lainnya.


Tadinya, Arsyad masih belum mau pulang. Tapi, dia melihat sang istri sudah tampak kelelahan.


Usai makan malam dan sholat isya. Keduanya memilih langsung istirahat.


Pagi, harinya. Arsyad kembali melajukan mobilnya menuju tempat wisata yang akan menyejukkan hati para kaum Muslim.


Arsyad membawa Zahra untuk melihat beberapa masjid besar di kota tersebut. Dari Masjid Sultan Ahmet Moskee, yang letaknya sekitar 18 km sebelah utara Amsterdam. Lalu, keduanya berpindah ke masjid-masjid lainnya. Salah satunya Masjid Westermoskee. Masjid ini terletak di sebelah barat kota Amsterdam. Dan terakhir, saat hari mulai gelap, keduanya berada di sebuah masjid dengan sejarah besar. Yaitu Masjid Fatih.


Keduanya ikut berjama'ah maghrib disana.


"Kamu tahu Zahra, kenapa bentuk masjid ini beda dengan masjid lainnya?" ujar Arsyad saat keduanya duduk di pekarangan masjid tersebut.


Zahra menatap masjid itu, "Maksudnya berbentuk seperti gereja?"


"Iya! Itu karena, dahulu masjid ini memang sebuah gereja umat katolik," sahut Arsyad.


"Oh ya?!" Zahra merasa terkejut. Karena gadis itu sejak tadi memang penasaran dengan bentuk unik masjid tersebut.


Arsyad mengangguk, "Pada tahun itu, komunitas katolik meninggalkan masjid ini yang saat itu masih berfungsi sebagai gereja. Akhirnya gereja ini dijual dan dibeli oleh komunitas Muslim Turki dan membuatnya beralih fungsi sebagai masjid." tutur Arsyad menjelaskan.

__ADS_1


Keduanya terus mengobrol disana. Hingga suara perut Zahra yang berbunyi membuat Arsyad tersenyum.


"Maaf! Lapar yah? Ok, kita cari makanan. Disekitar sini banyak kok makanan dengan logo halal."


Arsyad meraih jemari Zahra. Menautkannya dengan jemari besarnya. Kemudian keduanya berjalan beriringan menuju mobil.


...


Dan disinilah mereka berada. Di sebuah restoran dengan logo halal.


"Mau pesan apa?" tanya Arsyad saat keduanya telah duduk.


Arsyad mengangguk, lalu memesan beberapa makanan dan minuman.


Keduanya kemudian makan dengan lahap. Ternyata Arsyad tak kalah laparnya dari Zahra.


...


"Mas, besok temani aku beli oleh-oleh buat semua orang yah? emm kalau tidak merepotkan," ujar Zahra, saat keduanya hendak merebahkan diri di atas kasur.


"Ngomong apa sih! Mana mungkin merepotkan. Kita akan belanja untuk semua orang dan tentu untuk dirimu juga. Aku akan menemani." Arsyad berkata dengan tulus.

__ADS_1


"Terima kasih mas!"


"Sama-sama! Tidurlah!"


...


Hari ini, Arsyad menemani Zahra ke pusat perbelanjaan. Keduanya membeli beberapa oleh-oleh buat orang-orang yang terkasih.


Dan setelah hampir empat jam keliling. Keduanya memutuskan makan siang lalu bergegas pulang. Rencananya, esoknya mereka akan kembali terbang ke kampung halaman.


"Ini apa mas?" tanya Zahra, saat Arsyad memberikannya sebuah kotak biru berukuran kecil.


"Buka saja. Itu untuk kamu yang sibuk membeli oleh-oleh buat semua orang. Tapi, lupa untuk membeli sesuatu untuk diri sendiri."


Arsyad yang menemani Zahra belanja oleh-oleh. Tentu tahu jika gadis itu tidaklah membeli satu pun barang untuk dirinya sendiri.


"Tapi, aku tidak ingin apapun mas. Memberikan semua keluarga oleh-oleh, sudah membuat aku bahagia," ujar Zahra.


"Dan, memberikan sesuatu buat istri, merupakan kebahagiaan tersendiri bagi seorang suami. Bukalah!" pinta Arsyad.


"Terima kasih mas!" Zahra bahkan belum membuka isi kotak tersebut. Dan dia sudah berterima kasih.

__ADS_1


__ADS_2