Islam Teman Sepiku

Islam Teman Sepiku
Bab 107


__ADS_3

Melati tersenyum saat melihat Arsyad kembali menuju kamar.


"Haha biarin saja. Biar Zahra merasakan juga debar-debar cinta yang dulu aku rasakan," gumamnya.


Sedang Arsyad memasuki kamar dengan canggung.


"Zahra!" panggilnya pelan.


"Iya, Melati mana?" Zahra kembali menyembulkan kepalanya dari dalam kamar mandi. Sejak tadi ia berusaha membuka resletingnya. Tapi, tidak bisa juga.


"Mbak Melati sedang buatkan susu untuk Alifa. Terus mau nidurin Alifa dulu. Emmm kalau Mas yang bantu bagaimana?"


Ragu, tapi Arsyad menawarkan diri.


Zahra sungguh frustasi. Waktu dzuhur dikit lagi berganti ashar. Kalau dia menolak, bisa telat sholat dia.


Akhirnya dengan berat hati, Zahra mengangguk. Membiarkan Arsyad membantu menurunkan resleting gaunnya.


Susah payah, Arsyad menelan Saliva nya. Saat tangannya menarik resleting gaun Zahra.


"Sudah Mas terimakasih. Biar aku yang lanjutkan."

__ADS_1


Wahaha, kasian sekali Arsyad. Kiranya akan ada hal romantis yang ia dapat. Tapi, nyatanya hanya membantu sang istri menurunkan sedikit resleting gaunnya. Sedikit, sangat sedikit. Hanya agar Zahra bisa meraihnya sendiri.


...


Untuk kali pertama. Arsyad menjadi imam Zahra dalam sholatnya. Keduanya tampak khusyu' melakukan kewajiban waktu dzuhur itu.


Usai sholat dan berdoa. Arsyad memutar badan menghadap sang istri. Mencium kening Zahra, lalu dengan canggung Zahra pun mencium punggung tangan Arsyad.


Ada debaran yang sulit di artikan pada diri keduanya. Entahlah. Ciri-ciri jantungan atau stroke mungkin, hehe.


...


*Semoga kamu tenang di surga sana Samuel!


Arsyad tak bisa mengalihkan pandangannya dari sang istri. Gaun dengan model ekor panjang berwarna putih yang membalut tubuh istrinya itu sungguh semakin mempercantik penampilannya.


'Masya Allah, Sungguh kah Engkau menciptakan Malaikat tanpa sayap_MU ini untuk hamba Ya Robb?' batinnya.


Pesta pernikahan di gelar di halaman rumah Zidan. Banyak sekali tamu yang datang. Kerabat dan kolega Zidan, Melati, Arsyad, juga kolega-kolega Yoga, Gibran, Hasan, Hamdan, bahkan Vano dan Isabel juga hadir disana.


Zahra memeluk Isabel dengan berderai air mata. Melihat Isabel, dia jadi teringat Samuel.

__ADS_1


"Berbahagialah Ra! Sam, pun sudah bahagia di surga sana," ucap Isabel sambil mengelus pundak Zahra. Kemudian, Isabel beralih ke Arsyad, " tolong, jaga dan bahagiakan Zahra. Sudah cukup air matanya tumpah selama ini. Dia berhak bahagia sekarang."


Isabel menghapus dengan hati-hati air mata Zahra. "Jangan ada air mata lagi." ucapnya.


"Semoga bahagia Zahra. Sudah waktunya kamu menjalani masa depan yang lebih berwarna." ucap Vano yang berdiri di samping Isabel. Di gendongan pria itu ada seorang anak laki-laki yang begitu tampan.


"Jangan menangis aunty. Nanti cantiknya hilang."


Damian, putra Vano dan Isabel yang berusia tiga tahun mengusap lembut pipi Zahra yang masih basah oleh air mata.


Zahra tersenyum. Dia yang sangat menyukai anak kecil merasa gemas dengan Damian.


"Kan cantik!" ujar Damian saat melihat senyuman Zahra.


Vano, Isabel dan Arsyad ikut tersenyum mendengar pujian Damian pada Zahra.


Arsyad tentu tahu siapa tiga orang di depannya itu. Mereka punya jalinan bisnis. Dan Arsyad juga sudah tahu keseluruhan kisah Zahra, termasuk kisah Samuel, Vano dan Isabel. Zidan yang menceritakannya.


Arsyad memandang wajah sang istri yang semakin cantik dengan senyumannya yang merekah sempurna.


'Izinkan aku menjadi penawar dukamu!' batinnya.

__ADS_1


__ADS_2