Islam Teman Sepiku

Islam Teman Sepiku
Bab 64


__ADS_3

Seharian di kantor, Zahra sibuk dengan berbagai berkas.


Samuel tidak pernah nampak batang hidungnya selain Zahra yang bisa melihatnya saat memberi laporan.


Pria yang dari tadi sibuk berkutat dengan laptop itu. Sengaja tidak keluar ruangan. Dia sebisa mungkin menghindari bertemu dengan Zahra.


Samuel menutup kasar laptopnya. Dia teringat pagi tadi, saat berdua dengan Zahra di dalam lift. Dia hampir saja kehilangan kontrol dan hendak menyatakan isi hatinya kembali. Tapi untung dia bisa menahannya.


Sulit! Sangat sulit bagi Samuel untuk menghapus perasaannya pada Zahra. Apalagi dia memang tidak berniat menghapusnya.


Tapi, dia sadar diri. Dia tidak pantas untuk Zahra. Wanita yang menurutnya sempurna, tanpa cacat kecil sekali pun.


Hingga pukul lima sore, Samuel meraih jasnya dan kemudian menelpon Vano.


"Temani aku ke tempat biasa." Hanya itu yang Samuel katakan lalu memutuskan sambungan telponnya.


"Siapa honey?"

__ADS_1


Tanya Isabel. Dia dan Vano masih di jalan menuju apartemennya.


"Bos singa!" jawab Vano.


Isabel tersenyum melihat wajah bete sang kekasih.


"Ada apalagi dengan singa itu?"


"Dia minta di temani di tempat biasa. Sepertinya dia lagi gabut. Kamu ikut nggak honey?" Tanya Vano.


Dia sudah hafal dengan watak Samuel. Samuel selalu melampiaskan rasa kesal dan sedihnya dengan wine. Tapi, pria itu tidak berani minum sendiri. Dia menghindari kejadian yang tidak di inginkan. Zaman sekarang banyak wanita yang mengambil kesempatan pada pria yang tidak sadarkan diri dan menjebaknya. Samuel menghindari itu. Jadi, setiap kali mau minum. Samuel miminta Vano menemaninya. Dengan syarat Vano tidak boleh minum diatas dua gelas. Yah, agar Vano tidak mabuk dan bisa menjaganya yang pasti akan mabuk berat.


"Hmm, jadi pengawal lagi gue malam ini." gerutu Vano.


...


Malam ini, Vano menemani Samuel minum di bar langganan mereka.

__ADS_1


"Oh my goodness! Sam, loe mau minum berapa banyak hmm?"


Vano di buat kalang kabut dengan tingkah Samuel malam ini. Pria itu memang sudah terbiasa dengan alkohol. Tapi malam ini, Samuel sudah menghabiskan beberapa botol sendirian. Dan dia masih belum mau berhenti.


"Sebenarnya ada apa lagi? Kali ini karena apa? Zahra? Bukankah kamu sudah belajar melepaskan dia?" Tanya Vano.


"Tidak bisa Van! Aku tidak bisa tanpanya. Rasa ini jangankan hilang, memudar pun sama sekali tidak."


Akhirnya, Samuel buka suara juga.


"Kalau begitu ungkapkan. Yakinkan dia. Bukan malah seperti ini." Tak habis pikir Vano dengan jalan pikiran Samuel kali ini. Pria jenius itu kini terlihat bodoh karena seorang gadis.


"Tidak semudah itu. Zahra sangat jauh di langit sana. Sangat sulit aku gapai. Aku ingin! Sangat ingin memilikinya. Tapi ada dinding tak kasat mata yang memisahkan kami. Aku mau menembus dinding itu, tapi dia tidak mengizinkan. Aku harus apa? Dengan apa aku bisa membuatnya percaya. Jika cintaku sangat besar padanya. Bahkan melebihi cintaku pada DIA yang katanya menciptakan aku." Ucap Samuel panjang lebar, namun terdengar seperti racauan karena efek alkohol.


"Satu, satu saja kesempatan yang aku minta Van. Aku akan membuktikan cintaku padanya. Tapi jangankan untuk membuktikannya. Bahkan untuk meminta satu kesempatan itu padanya, aku tidak sanggup. Aku sudah tahu akan dapat penolakan. Kenapa? Kenapa terlahir berbeda agama harus menjadi jarak pemisah yang begitu besar di antara kami? Bukankah Tuhan cuma satu. Perbedaannya hanya dari cara kita menyembahnya. Lalu kenapa? Kenapa tidak ada yang mengerti kesulitan dan rasa sakit ku. Rasanya aku ingin menghadap Tuhan saat ini. Bertanya padanya tentang takdir yang dia mainkan pada hatiku." Samuel terus meracau hingga kesadarannya menghilang.


Melihat sepupunya yang begitu kuat dan tegar bisa sampai selemah ini. Hati Vano terasa perih.

__ADS_1


'Seandainya aku bisa membantumu Sam. Aku akan melakukannya untukmu.' batin Vano, sambil menyimpan handphonenya ke dalam saku yang dari tadi mengarah ke Samuel dalam mode merekam.


__ADS_2