
Suasana haru menyeruak di ruangan itu. Hamdan mendongak, mengedipkan matanya agar air yang menggenang disana tidak jatuh. Ia begitu terharu, melihat sang istri telah berdamai dengan Zahra.
Selang berapa menit, mereka sudah bisa menguasai diri. Mereka mengobrol santai.
"Jadi, kamu akan tinggal dengan Zidan?" tanya Rosa, saat Zahra menceritakan tentang dirinya yang akan pindah ke rumah sang kakak hari ini juga. Dan dia pulang saat ini adalah untuk mengambil beberapa barang pribadi dan pakaiannya.
"Iya Tan, kakak dan Melati memintaku membantu merawat Alifa. Katanya ini pengalam pertama Melati menjadi seorang ibu. Jadi, dia pasti sangat butuh bantuan. Tante Cahaya dan mama Laras, keduanya sangat sibuk dengan pekerjaan. Jadi tidak bisa stay di rumah Kak Zidan."
"Yah, padahal niat Om dan Tante tadinya mau ngajak Zahra tinggal di rumah kami. Tapi, benar yang Zidan katakan. Awal menjadi ibu itu sangat ribet, Melati pasti butuh bantuan kamu."
Rosa sedikit kecewa. Tapi, dia membenarkan keputusan Zidan.
"Om dan Tante jangan sedih. Zahra akan lebih sering bermain ke rumah Om dan Tante nantinya."
__ADS_1
"Terima kasih sayang. Kamu selalu menemani kami selama ini. Meski sikap tante tidak ramah pada kamu."
Rosa kembali merasa bersalah. Tiga bulan ini Zahra selalu ke rumahnya setiap hari minggu. Tapi, dia malah bersikap tidak baik pada gadis itu.
"Jangan membahasnya lagi Tan. Semua sudah berlalu. Sekarang kita hanya perlu menjalani hidup. Belajar menerima kenyataan meski itu pahit sekali pun."
Sekali lagi keduanya saling peluk. Dan selang beberapa menit, Rosa dan Hamdan membantu Zahra berkemas kemudian mengantarnya ke rumah Zidan. Sekalian, mereka ingin memberi ucapan selamat pada Zidan dan Melati atas kelahiran putri pertama mereka.
...
Mungkin Allah memang telah menghendaki agar adiknya itu bangkit dari masa lalu menyakitkannya.
Sekitar jam enam petang. Hamdan dan Rosa pamit untuk pulang. Zidan, Melati dan Zahra sudah meminta keduanya untuk menunggu waktu makan malam. Tapi, katanya malam ini mereka ada pertemuan dengan seorang klien.
__ADS_1
Yah, sepeninggal sang putra yang merupakan seorang pendiri perusahaan besar. Hamdan yang seorang polisi harus merangkap menjadi pebisnis juga saat ini.
Entahlah, miris juga dengan kedua paruh baya itu. Satu-satunya penerusnya meninggal tanpa meninggalkan penerus lain. Sepertinya, rantai keluarga mereka akan terputus disana.
...
Hari-hari Zahra kembali berwarna semenjak kelahiran keponakannya. Gadis itu menjadi lebih semangat dan kembali selalu ceria. Walau saat menjelang tidur ia masih meratapi kepergian Sam. Tapi, sepertinya dia sudah bisa merelakan. Dia tersadar, jika bukan ratapan yang Sam butuhkan di alam sana. Melainkan doanya.
*Kenangan denganmu, biarlah ku simpan menjadi sebuah sejarah. Sejarah indah yang akan aku abadikan di dalam hati.
Kepergian Mu, serasa membawa serta diriku. Namun, diri ini sadar. Jika, hidup harus terus berjalan. Akan ku kenang dirimu. Menjadi lantunan doa di dalam sujudku*.
Sejak kepergian sang pujaan hati. Zahra tidak lagi bisa fokus menulis novel. Pikirannya hanya terfokus pada Sam. Hobby menulisnya hanya ia tuangkan dalam sebuah buku diary.
__ADS_1