Islam Teman Sepiku

Islam Teman Sepiku
94


__ADS_3

Saat makan malam, Zidan mencoba membujuk Zahra untuk tinggal dengannya. Dia tidak tega melihat sang adik mengurung diri di rumahnya sendiri setiap hari.


Ya, Selain waktu bekerja Zahra sama sekali tidak pernah keluar rumah. Bahkan untuk berbelanja bahan dapur pun, ia membeli secara on_line.


Namun, melihat seharian wajah adiknya tersenyum indah. Terlebih tadi Zahra dengan antusias menghias kamar baby 'A', dan itu Zahra berbelanja sendiri secara langsung.


Zidan ingin mencoba peruntungan. Mungkin saja adiknya itu akan menerima tawarannya mengingat sang adik begitu lengket dengan putri kecilnya.


"Ra! Bagaimana kalau mulai sekarang tinggal disini saja?" tanya Zidan.


Zahra tak langsung merespon. Ia terdiam, seperti mempertimbangkan tawaran sang kakak.


"Kasian Melati kalau mengurus Alifa sendiri. Soalnya baru kali pertama. Kalau kamu disini kan bisa bantu momong kalau pulang kerja. Iyakan sayang?"

__ADS_1


Melihat Zahra menimang tawarannya. Cepat Zidan menambahi. Zahra tidak langsung menolak tadi, itu artinya adiknya itu antara mau dan tidak.


"Iya Ra, aku sangat butuh bantuan kamu. Tidak mungkin aku minta ditemani mama. Tau sendirikan mama sibuk dengan pekerjaannya dan sering keluar kota. Kalau mama Laras lebih tidak mungkin lagi. Kan sibuk di rumah sakit." sahut Melati menambahi.


Suami istri itu saling pandang. Menanti jawaban sang adik.


Sesaat kemudian, Zahra mengangguk, "baiklah, Zahra akan kembali ke rumah besok untuk mengambil barang-barang Zahra."


Zidan dan Melati tersenyum lega. Keduanya saling mengerlingkan mata. Ini langkah yang baik untuk membuat Zahra bangkit dari keterpurukan.


Zahra yang pulang ke rumah untuk mengambil beberapa barang dan pakaiannya. Dikejutkan dengan kehadiran Hamdan dan Rosa di depan rumahnya.


"Om, Tante! Kok nggak ngabarin kalau mau kesini? Kan Zahra bisa pulang lebih cepat. Jadinya Om dan Tante tidak berdiri di luar rumah. Oh, maaf! Ayo Om, Tan, masuk dulu."

__ADS_1


Hamdan dan Rosa mengikuti Zahra memasuki rumah. Ini kali pertama mereka ke rumah Zahra. Sebelumnya mereka meminta alamat Zahra dari Laras.


"Silahkan duduk Om, Tan! Zahra ambil minum dulu." ucap Zahra, kemudian berjalan ke arah dapur.


Tak lama Zahra kembali dengan membawa dua cangkir teh panas.


Zahra duduk di hadapan kedua orang tua mendiang calon suaminya. Sebenarnya gadis itu sedikit heran dan bingung dengan kedatangan keduanya yang tiba-tiba. Hamdan mungkin masih wajar. Tapi Rosa? Bukankah wanita itu begitu membencinya. Lalu, alasan apa yang membawanya datang? Namun sesaat kemudian pertanyaan Zahra terjawab.


"Zahra, Om dan Tante kesini untuk minta maaf. Tolong maafkan sikap dan perkataan tante kemarin-kemarin. Tante sadar, tante terlalu egois. Tante hanya menyalahkan kamu tanpa mengerti jika kamu bahkan sangat menderita dan terpukul atas kepergian Sam. Tolong, maaf kan Tante, karena menyalahkan kamu atas takdir dan maut yang sudah seharusnya Samuel hadapi. Maaf tante, atau Samuel akan marah di surga sana karena tante telah menyakiti hati wanita yang dia cintai."


Air mata Rosa lolos begitu saja. Wanita itu terlihat menyesal.


Setelah kepergian Zahra dari rumahnya tuk terakhir kali. Rosa merenungi semua sikapnya. Dan hingga ia tidur di malam harinya. Ia bermimpi bertemu Samuel. Dalam mimpinya ia melihat Samuel berada di suatu tempat tak berujung. Putranya itu terlihat bahagia dengan wajah berseri. Namun, saat Samuel berbalik dan melihatnya. Wajah bahagia Samuel berganti raut sedih.

__ADS_1


'Mama menyakitiku! Mama membuat Sam sedih! Kenapa mah? Zahra gadis yang baik. Sam pergi karena memenuhi takdir sang pencipta. Bukan, karena kesalahan Zahra. Sam sangat mencintai Zahra mah. Begitu pun dengan Zahra. Tapi, Sam tidak bisa mengabaikan panggilan Tuhan yang jauh lebih mencintaiku dibanding siapa pun di dunia. Tolong mah, berhenti menyakiti gadis yang Sam cintai. Dia sudah cukup menderita karena Sam meninggalkannya begitu saja. Jangan menambah deritanya lagi. Sudah saatnya dia bahagia. Mencari dan menemukan masa depan yang lebih indah.'


__ADS_2