
Saat Melati sedang serius mengamati sekeliling bagian luar rumah. Tiba-tiba dia dibuat terkejut dengan Zidan yang tanpa permisi langsung menggendongnya.
"Sul, Zid, ...!"
Melati yang dibuat terkejut dan hendak berceloteh harus dibuat bingung dengan pemikiran harus ia panggil apa suaminya kini? Dulu dia memanggilnya Sultan. Tapi kini namanya di patenkan menjadi Zidan. Namun tidak mungkin ia memanggil suaminya dengan sebutan namakan? nggak sopan.
Sambil menggendong sang istri ke dalam rumah. Zidan yang menyadari kebingungan istrinya itu tersenyum.
"Panggil senyamannya kamu saja sayang."
Entah sudah latihan sejak kapan. Zidan begitu santainya menyebut Melati dengan panggilan sayang.
Lihat! Jangankan memanggil suaminya dengan kata yang sama. Mendengarnya saja, wajah Melati sudah sama persis dengan kepiting rebus.
Jangan tanyakan ritme jantungnya. Sudah melebihi normal!
Sebenarnya Zidan pun demikian. Tetapi, sebagai lelaki, dia harus punya inisiatif memulai bukan? Masa iya pengantin baru mau diam-diaman.
Zidan menurunkan sang istri di atas kasur.
Sebenarnya Melati mau bertanya. Tidak capek kah suaminya itu? menggendongnya hingga ke kamar. Catat! Kamar mereka berada di lantai dua rumah itu.
Tetapi Melati belum mampu membuka mulutnya. Tiba-tiba dia merasa setiap sendinya kaku.
__ADS_1
Belum hilang, bahkan belum berkurang rasa gugupnya. Kini sang suami telah duduk di hadapannya sambil mengulurkan tangannya.
'Deg! Mau apa ini? Aduh, kok aku nggak siapin mental untuk hal semacam ini sih?' batin Melati.
Naif memang. Mau menikah tapi tidak menyiapkan mentalnya untuk hal-hal yang berhubungan dengan suami istri. Jadilah kini ia gugup sedemikian banget.
Zidan membuka bros kecil yang menempel pada jilbab sang istri. Lalu, beralih melepas ikatan cadarnya.
Ah, jantung Zidan pun nyatanya berpacu melebihi ritme normal.
Melati refleks ingin menunduk, saat cadarnya berhasil sang suami lepas. Namun, tangan kekar Zidan menahannya. Zidan memegang lembut dagu Melati, memandang wajah wanita yang kini halal untuknya itu.
'MasyaAllah!' puji Zidan dalam hati.
'uh baru begini, aku rasanya mau pingsan. Bagaimana kalau... ah astaghfirullah.' batin Melati yang tak tahan dengan tatapan Zidan.
Dan benar saja. Tangan Zidan kini melepas jilbab yang menutupi rambutnya. Dan saat Zidan melepas jepitan rambut yang menahan gulungan rambut Melati. Rambut panjang nan lembut kini jatuh tergerai dengan indah di hadapan Zidan.
Melati benar-benar tidak tahan dengan tatapan memuja sang suami. Dia refleks menutup wajahnya dan membenamkan kepalanya di dada sang suami.
"Jangan melihatku begitu. Kamu seakan mau memakan ku saja." lirih Melati.
Zidan tersenyum melihat tingkah sang istri. Dia yang tadinya juga begitu gugup kini merasa lebih santai saat istrinya itu kini memperlihatkan tingkah menggemaskannya.
__ADS_1
"Hehe, sepertinya itu ide bagus." ucap Zidan enteng.
Alhasil, dia mendapat ciuman dari dua jari sang istri.
"Aowh sakit sayang!" Pekik Zidan. Sakit beneran atau tidaknya. Entahlah. Karena Melati memang mencubitnya agak keras.
"Biarin. Dah, aku mau mandi. Badan aku lengket."
Melati beranjak dari kasur dan berjalan menuju kamar mandi.
Zidan hanya geleng-geleng sambil tersenyum melihat sisi pemalu istrinya itu.
Namun, beberapa saat kemudian. Sang istri memunculkan kepalanya dari balik kamar mandi.
"Kenapa?" Tanya Zidan.
"Emmm... Itu. emmm..." Melati terlihat kebingungan menjawab. Padahal Zidan hanya bertanya kenapa.
"A_ku sudah berusaha. Tapi tidak bisa membuka gaun ini sendiri." jawabnya pelan.
"Terus?"
Wah, ternyata Zidan punya sifat penggoda yang seusil Kevin juga ternyata. Lihat saja, dia sudah mengerti maksud istrinya itu berkata demikian. Tetapi dia sengaja bertanya seakan tidak mengerti.
__ADS_1