
Kevin yang keluar dari gerbang sekolah melihat mobil Melati di pinggir jalan.
Kevin melihat kakaknya itu sedang bicara di telpon, jadi dia melangkah ke arah kakaknya dan menyeberangi jalan, karena posisi sekolahnya adalah sebelah kanan, sedang mobil Melati di sebelah kiri jalan.
Melati yang baru mengakhiri sambungan telponnya dengan ibunya melihat adiknya hendak menyeberang. Melati ingin berteriak agar Kevin menunggu saja di seberang sana karena itu berbahaya, tapi terlambat.
"Aaaaaaahhh..."
Suara Kevin yang tertabrak sebuah motor terdengar menggema di telinga Melati.
"Keviiiiiinnnnn."
Melati berlari keluar mobil dan menghambur ke arah tubuh Kevin yang tergeletak di tengah jalan.
...
Melati dengan tangan gemetar menyetir mobilnya mengantar Kevin ke rumah sakit.
Para perawat yang melihat kedatangan Melati langsung menyiapkan ranjang untuk Kevin.
"Dok tolong adik saya dok. Dia kehilangan banyak darah."
Melati dengan tubuh penuh darah segar adiknya, memohon pada seorang dokter disana.
__ADS_1
Dokter langsung memasuki bangsal dimana perawat baru saja membawa Kevin ke dalam.
"Maafkan kakak, kakak yang salah... ini salah kakak."
Melati menyalahkan dirinya karena jika saja dirinya tidak berhenti di pinggir kiri jalan, maka Kevin tidak mungkin harus menyeberang jalan dan berakhir seperti ini.
"Mah, Ke Kevin, Kevin kecelakaan huhu."
Melati menghubungi ibunya dan mengabarinya tentang Kevin yang kecelakaan.
"Apa? i iya iya... kami akan segera pulang."
Cahaya, ibu Melati sangat kaget saat Melati mengatakan Kevin mengalami kecelakaan.
Melati duduk di depan ruangan Kevin dengan berbanjir air mata.
Laras yang mendapat telpon dari rumah sakit karena ada kasus darurat, merasa terkejut saat melihat Melati yang penuh darah duduk menangis di depan ruangan yang ingin dia masuki.
"Tante..." Melati memeluk Laras dan menangis di pelukannya.
"Sayang kamu kenapa? dan..."
Laras tidak bisa melanjutkan perkataannya, karena dia sudah bisa menebak. Dengan pakaian Melati yang penuh darah, dia tau jika korban kecelakasn yang dia ingin tangani pasti kerabat dekat Melati.
__ADS_1
"Tunggu disini yah sayang, tante akan melakukan yang terbaik di dalam." Laras langsung masuk ke ruangan Kevin berada.
...
"Bagaimana tan? adik saya baik-baik saja kan?" Tanya Melati saat Laras dan rekannya keluar.
Laras yang mendengar, jika pasiennya itu adalah adik Melati merasa sangat kasian. Dia tau, pasti Melati sangat cemas saat ini.
"Tenang dulu yah sayang." Laras mengajak Melati duduk di kursi yang ada disana.
"Adik kamu memang kehilangan banyak darah, tapi dia in syaa allah akan baik-baik saja. Sekarang kita hanya perlu melakukan donor darah padanya." Ucap Laras lagi, sambil memegang tangan Melati yang dari tadi tak henti bergetar.
"Ambil darah saya, darah kami sama tan, tolong lakukan sekarang, aku tidak mau terlambat sedetik pun."
Melati langsung berdiri dan menarik tangan Laras agar darahnya segera di ambil.
Melihat Melati yang tadi pagi masih tertawa ceria bersamanya di rumah, dan kini gadis itu dengan malangnya tak henti menangis, membuat Laras merasa perih.
"Baiklah ayo ikut tante."
Laras kemudian melakukan pencocokan antara darah Kevin dan Melati. Kemudian saat tau hasilnya beneran cocok, tanpa menunggu Laras langsung mengambil darah Melati yang terus mendesaknya untuk secepatnya mengambil darahnya buat adiknya.
...
__ADS_1
"Istirahatlah disini, tante akan kembali ke ruangan adik kamu."
Setelah melakukan pendonoran langsung, Melati di pindahkan ke ruangan lain yang berada disebelah ruangan Kevin.