Islam Teman Sepiku

Islam Teman Sepiku
Bab 84


__ADS_3

Zahra merasa canggung, oleh tatapan yang dari tadi tertuju padanya. Dia menyadari, mungkin karena dia satu-satunya orang yang berhijab di sana.


Bukan berarti tidak ada orang muslim di acara itu. Tentunya ada beberapa. Karena sebagian kolega Hansen dan Leonard ada yang seorang muslim.


Tapi, yang membuat orang menatapnya dengan raut penasaran. Tentunya karena gadis itu, datang berdua dengan Samuel Smit Gentara. Seorang pengusaha muda sukses, yang namanya lagi trending di negara itu.


Samuel pun menyadari tatapan semua orang. Dia kemudian melirik Zahra yang terlihat canggung.

__ADS_1


"Santai saja. Mereka tidak pernah melihat bidadari. Makanya saat melihatnya langsung, mereka merasa takjub," ucap Samuel di iringi rayuan. Ingin rasanya ia merangkul atau setidaknya menggandeng Zahra untuk membuat gadis itu rileks. Tapi, tentu urung ia lakukan. Ia tahu batasan seorang Zahra.


Samuel dan Zahra melangkah bersama ke atas panggung. Memberi selamat pada Vano dan Isabel. Setelahnya, barulah Samuel mengajak Zahra duduk di kursi yang berada tepat di depan panggung. Dimana, di sana sudah ada Hamdan dan istrinya Rosa, Leonard dan istrinya Jean, juga Hansen.


Sekedar info, dari tiga bersahabat. Hansen seorang yang sudah tidak memiliki pasangan. Istrinya meninggal sesaat setelah berjuang melahirkan Isabel. Dia tidak menikah lagi meski sudah bertahun lamanya menduda. Dia hanya fokus membesarkan sang putri tercinta. Baginya, hidup berdua dengan putrinya sudah sangat sempurna. Tapi, entah kenapa dua bulan terakhir, putrinya yang kini berbahagia itu memilih tinggal di apartemen. Hal itu tentu membuat Hansen kehilangan. Akan tetapi, sekarang no problem. Isabel telah berjanji, akan tinggal bersamanya kembali sampai rumah yang Vano buat rampung.


Vano telah merancang rumah masa depannya. Dan baru rampung sekitar 70 persen. Niat awal akan tinggal di apartemen dulu setelah menikah. Tetapi, Isabel meminta agar mereka tinggal di rumah Hansen saja hingga rumah mereka sendiri rampung dibuat. Awalnya Vano ragu, karena ia merasa akan terlihat menumpang pada mertuanya jika begitu. Tapi, atas bujukan Isabel dan permohonan Hansen sendiri. Akhirnya Vano setuju. Toh, paling hanya satu dua bulan, rumah masa depannya akan rampung sudah.

__ADS_1


"Perkenalkan Om, tante. Namanya Zahra, calon istri Sam!"


Dengan santainya Samuel berucap. Membuat Zahra yang baru duduk di salah satu kursi di sana, merasa semakin malu.


"Wah, cantik sekali! Dapat malaikat dari mana putra semata wayangmu ini Ros?" seru Jean girang. Meski sedikit ada yang yang menjanggal di pikirannya tentang bagaimana mungkin Samuel akan menikah dengan gadis muslim. Tapi, tak lantas menghilangkan sisi ramahnya.


Sedang Rosa yang ditanya, hanya merespon dengan senyum. Harus ia akui. Jika hatinya belum terlalu setuju dengan hubungan Samuel dan Zahra.

__ADS_1


Sisa waktu, Zahra habiskan dengan bercengkrama dengan Jean. Ternyata, wanita berumur 50an itu sangat baik dan ramah. Dan entah kenapa, Jean merasa sangat tertarik dengan Zahra. Bagi Jean, Zahra merupakan sosok gadis tangguh, cerdas dan mandiri. Yah, dia menyimpulkan itu atas beberapa penggalan kisah yang Zahra ceritakan. Zahra pun merasa nyaman berbicara dengan Jean. Keduanya tampak begitu akrab dan cocok. Rosa saja dibuat bingung, 'kenapa mereka cepat sekali akrab?' batin Rosa sambil memperhatikan Zahra. Dan kemudian ia menyadari, 'Zahra memang gadis yang sempurna. Mungkin saatnya aku membuka hati untuknya. Wah, aku tidak terima. Calon menantuku lebih akrab dengan Jean dari pada aku,' batin Rosa tak terima.


__ADS_2