Islam Teman Sepiku

Islam Teman Sepiku
Bab 100


__ADS_3

Tiba waktunya jam makan siang. Hampir semua orang telah meninggalkan ruang meeting tersebut.


"Ar, kapan kamu balik dari Amsterdam?" tanya Zidan, menghampiri Arsyad yang hendak keluar.


"Baru empat harian. Sorry bro, saat itu aku nggak bisa hadir di acara pernikahan kamu. Soalnya bertepatan juga dengan acara sepupu aku yang berada di luar kota.."


Begitulah mereka. Akan bersikap non-formal saat diluar pembahasan bisnis. Karena keduanya memang teman dekat. Hanya saja, akhir-akhir ini mereka jarang bertemu. Sebab Arsyad lebih sering stay di Amsterdam kurang lebih tiga tahun ini. Pemuda itu, lagi fokus pada usahanya disana.


"Tidak masalah. Asal saat nanti kamu main ke rumah, kado pernikahannya dibawa serta. Dan, jangan lupakan hadiah untuk ponakan kecil kamu." ucap Zidan berseloroh. Namun, langsung ditanggapi antusias oleh Arsyad.


"Apa kamu sudah memiliki anak? Wah, ok! Aku akan membawakan hadiah untuknya sekaligus hadiah pernikahan kalian. Cewek apa cowok?" girang Arsyad.


"Cewek. Usianya sudah dua tahun. Jangan repot-repot, aku hanya bercanda. Tapi, yah. Nanti malam kamu harus main ke rumah kami. Alamatnya nanti aku share."


"Tentu! Insya Allah aku akan datang."


Lihatlah! kedua laki-laki itu begitu serius. Hingga mengabaikan Zahra yang juga berdiri disana.

__ADS_1


"Kak, Zahra ke ruangan Zahra dulu yah!"


Suara gadis itu menyadarkan kedua pria tersebut. Sebenarnya hanya Zidan yang melupakan kehadiran sang adik. Arsyad dari tadi memperhatikan kok. Hanya, malu juga dia mengajak Zahra ngobrol. Terlebih ada rasa sungkan karena tahu gadis itu adalah adik sang sahabat sekaligus partner bisnisnya. Akan tetapi, ada satu hal yang membuat Arsyad penasaran. Kenapa selama ini dia tidak tahu jika Zidan punya saudari kembar?


"Astagfirullah, maaf Ra, kakak sampai mengabaikan kamu. Ar, kenalin adik aku Zahra. Pasti kamu bingung dan penasaran kan? Nanti malam aku ceritain." ujar Zidan sambil merangkul sang adik.


"Ok! Kalau begitu aku pamit dulu. Banyak berkas numpuk di kantor. Gara-gara sering tinggal." sahut Arsyad lalu pamit dari sana.


Sepeninggal Arsyad Zidan meminta Zahra mengemas barang-barangnya di ruang kerjanya. Dia akan pindah ke ruang barunya. Bersebelahan dengan ruangan sang kakak.


...


Malam hari, sekitar pukul delapan. Suara mobil berhenti terdengar di halaman rumah Zidan.


Siapa lagi kalau bukan Arsyad. Pria itu begitu semangat untuk datang dan memenuhi undangan Zidan. Ingin bertemu istri dan putri sahabatnya juga ingin mendengar penjelasan Zidan tentang Zahra.


"Assalamualaikum!"

__ADS_1


Arsyad melangkah ke dalam rumah saat seorang pelayan rumah Zidan mempersilahkan.


"Waalaikumsalam!"


Di ruang tamu, sudah ada Zidan dan Melati yang menanti.


"Apa yang kamu bawa Ar? kamu ngeborong isi toko yah?"


Zidan geleng-geleng saat Arsyad meletakkan banyak sekali barang berupa mainan perempuan di depannya.


"Ini hanya sedikit mainan untuk ponakan aku. Mana dia? Eh, sorry ini kakak ipar yah? Kenalin aku Arsyad."


Arsyad mengatupkan telapak tangannya di depan dada. Kemudian di balas serupa oleh Melati, "Melati! Mari ke dalam. Alifa sedang membantu aunty'nya di dapur."


"Alifa! Kok nama itu tidak asing yah? Oh ya ampun, jangan bilang sih cantik Alifa waktu itu putri kalian. Kenapa aku tidak kepikiran!"


Arsyad memukul keningnya. Iya, bisa-bisanya dia tidak ngeh siapa putri Zidan. Sedang dia sudah tahu Zahra adalah adik Zidan. Dan waktu di taman dia bertemu Zahra dan Alifa bukan?

__ADS_1


__ADS_2