
Saat Zahra meletakkan kembali cangkirnya. Dia dikejutkan dengan tingkah Arsyad. Pria itu meletakkan kepalanya di pangkuan sang istri.
"Aku pernah bermimpi. Suatu saat akan menikmati senja bersama seorang bidadari. Dan, mimpi itu kini menjadi nyata."
Arsyad meraih jemari Zahra dan meletakkannya di atas dada bidangnya. Oh, tolang Zahra Tuhan! Jantungnya berdetak melebihi ritme seharusnya. Dia sungguh belum terbiasa dengan sikap manja dan romantis suaminya.
"Terima kasih. Kamu telah hadir dalam hidupku. Melengkapi ketidak sempurna'an ku. Tolong tegur dan nasehati, saat aku berbuat khilaf dan salah." ucap Arsyad.
Sedang, Zahra hanya diam dan membeku. Posisi mereka saat ini membuat setiap sendinya menjadi kaku.
Hingga suara masjid terdengar. Barulah Arsyad mengajak Zahra masuk. Keduanya menunaikan Sholat maghrib bersama.
...
Usai sholat isya dan mengaji sebentar. Zahra, duduk di tepi tempat tidur. Arsyad tadi ke lantai tiga. Sepertinya ada sedikit pekerjaan.
__ADS_1
Selang beberapa menit, Arsyad membuka pintu kamar. Membuat, Zahra refleks menengok ke arahnya.
Namun, sedetik kemudian dia kembali mengalihkan pandangannya. Jantungnya berdebar kencang, saat Arsyad mendekatinya. Arsyad duduk di sisi Zahra dan menatapnya dengan seksama.
Zahra merasa gugup. Apa Arsyad akan meminta haknya? Tapi, dia belum siap!
Meski pun begitu, Zahra pasrah saat tangan Arsyad terulur untuk membuka niqab'nya. Yah, Arsyad belum pernah melihat wajah Zahra yang tersembunyi di balik niqab. Dan saat pria itu melihatnya, dia tentu semakin memuja kecantikan sang istri dan kuasa sang pencipta.
Bukan hanya Zahra, namun Arsyad pun merasa sangat gugup. Meski demikian, perlahan Arsyad membuka hijab yang menutupi rambut indah istrinya itu.
Sedang Zahra saat ini bukan hanya merasa gugup. Dia merasa takut. Takut, sang suami meminta haknya.
Zahra, sadari itu kewajibannya. Tapi, Zahra sungguh belum siap. Rasanya, dia sedang melihat jasad kaku Samuel di depannya. Membuatnya kembali teringat semua perjuangan dan penantian Samuel terdahulu.
'Maaf Sam! Maaf!' batin Zahra. Dia merasa bersalah karena mengingat Samuel yang begitu mencintainya dan hendak menghalalkannya. Tapi, saat ini dia malah akan melakukannya dengan pria lain.
__ADS_1
Jujur, Zahra tidak ingin melakukannya. Tapi dia sadar, itu kewajibannya. Dan dosa hukumnya menolak sang suami. Zahra paham itu. Makanya, ia memasrahkan diri.
Tanpa bisa ia cegah. Air mata Zahra tiba-tiba luruh. Membuat tangan Arsyad yang kini beralih hendak membuka pakaian sang istri terhenti.
Arsyad memandang wajah Zahra. Wajah istrinya itu memucat. Terlihat jelas raut takut di matanya.
"Tidurlah!" ucap Arsyad, lalu memperbaiki posisi tidurnya di sebelah Zahra. Dia tentu mengerti dengan rasa takut Zahra. Meski sulit, dia akan menahan dan menunggu hingga sang istri siap.
Zahra menatap Arsyad bingung. Seolah bertanya kenapa suaminya itu berhenti?
"Aku akan menunggu sampai kamu sendiri yang datang padaku." ucap Arsyad kembali duduk, seakan mengerti maksud tatapan sang istri. Lalu pria itu meraih kepala sang istri dan mendaratkan ciuman singkat di keningnya.
"Tidurlah!" ujarnya tersenyum lembut.
Zahra semakin menangis. Bukan lagi karena Sam. Tapi, karena merasa bersalah pada sang suami yang ternyata begitu memahaminya.
__ADS_1
'Ya Allah, Maafkan hamba yang telah dzolim pada suami hamba," batin Zahra sambil melihat Arsyad yang telah memejamkan mata.