
Pukul delapan malam, Samuel terlebih dahulu sampai di Bar langganannya sejak lama.
"Wah tumben bosku ini datang lebih awal. Sepertinya semangat banget."
Vano bersama gadis cantik nan anggun berjalan menghampiri Samuel.
Meski tidak mengharapkan Isabel bergabung malam ini, tapi Samuel tidak keberatan akan kehadirannya dan mempersilahkan keduanya duduk.
"Tentu saja, jika kamu datang sebelum aku, aku takut kamu akan memesan berlebihan tuk menguras dompetku." Imbuh Samuel bercanda.
"Ayolah, bukankah tadi kamu yang berjanji akan mentraktirku sepuasnya?" Ucap Vano lalu memanggil pelayan, "Syanti, keluarkan semua minuman favorit aku dan Isabel."
Vano memesan tanpa ragu pada pelayan wanita yang merupakan temannya yang bekerja disana.
"Ok!"
Dengan sigap Syanti langsung menuju bartender.
Jantungnya berdetak kencang setiap melihat Vano, pria yang telah menyelamatkannya dari preman beberapa bulan lalu. Dan Vano jugalah yang telah memberikannya pekerjaan yang bergaji tinggi di Bar langganan Vano itu.
Beberapa saat kemudian Syanti sudah membawa beberapa botol minuman di meja Vano.
__ADS_1
Ingin rasanya Syanti menyapa pria pujaannya itu, dan bertanya kenapa selama sebulanan ini dia baru muncul? tetapi sebagai seorang pelayan, meski posisinya adalah ketua para pelayan disana, tetap saja Syanti merasa malu dengan Vano yang kaya raya. Terlebih mata Syanti dapat melihat dengan jelas jika Vano sangat menyukai gadis seksi dan kaya raya di samping kiri Vano saat ini.
"Apa kamu begitu sibuk?"
Saat Syanti hendak pergi dari sana, Vano menahan lengannya.
"Ti tidak. Ada apa?"
Meski hanya sesaat, tapi Syanti merasa terhanyut saat tangan dingin Vano menyentuh pergelangannya.
"Kalau begitu bergabunglah dengan kami." Ucap Vano sambil menepuk satu kursi kosong di samping kanannya.
"Emmm."
Samuel hanya mengangguk.
"Ayo duduk."
Lagi dan lagi, Vano menarik tangan Syanti agar dia duduk disana.
Dengan canggung, Syanti pun bergabung dengan mereka.
__ADS_1
Tapi entah kenapa, Isabel merasa tidak suka dengan kehadiran Syanti disana.
Dia merasa kesal saat Vano dari tadi bercakap begitu akrab dengan Syanti. Terlebih Vano sampai menuangkan gadis itu bir di dalam gelasnya.
Sedang Syanti yang sebenarnya sama sekali tidak pernah minum minuman beralkohol, merasa ragu meneguk minuman merah di gelasnya itu. Tetapi karena Vano yang secara langsung menuangkannya, maka Syanti pun meneguknya habis.
Selang beberapa jam kemudian, semua botol di meja itu telah kosong.
"Astaga, Bel? Isabel? apa yang kamu lakukan?"
Vano dengan panik menepuk-nepuk pipi Isabel yang kini tak sadarkan diri.
Iya, semua isi botol disana hampir dihabiskan oleh Isabel sendiri tanpa disadari oleh semua orang, termasuk Vano yang dari tadi sibuk bertukar cerita dengan Syanti. Sedang Samuel jangan ditanya, pikirannya sejak tadi fokus pada wanita yang dia cintai namun kini menjadi temannya.
"Eugh." Ceguk Isabel.
"Antar dia pulang, aku juga harus pulang sekarang." Ucap Samuel sambil melirik Isabel sekilas.
Entah kenapa gadis yang selalu tampak elegan itu.
"Biasanya dia hanya minum satu atau dua gelas, tapi malam ini ckck." Batin Samuel, namun dia segera pergi dari sana karena dia tau Vano pasti akan mengurus Isabel dengan baik. Dan jika tak salah lihat, Isabel mungkin sedang cemburu pada Syanti yang begitu dekat dengan Vano, pikir Samuel.
__ADS_1