Islam Teman Sepiku

Islam Teman Sepiku
Bab 23


__ADS_3

"Maaf jika aku bertanya hal pribadi tentang kamu apa kamu tidak keberatan?"


Sultan memberanikan diri memulai percakapannya dengan Zahra dengan ucapan basmalah, sungguh dia sangat berharap dapat menemukan jadi dirinya yang sebenarnya. Dia sangat menyayangi orang tuanya saat ini, tapi meskipun begitu dia tetap harus mengetahui semua kebenaran tentangnya, apalagi jika yang dia pikirkan benar maka itu sangat penting dia lakukan.


Mendengar pertanyaan Sultan, Melati dan Zahra sama-sama hampir tersedak makanan dengan pemikirannya masing-masing.


"Tidak, bukan hal seperti itu." Sultan buru-buru menghapus kesalah pahaman yang ada di otak mereka.


"Apa kamu masih mencari saudara kembar laki-lakimu?" Tanya Sultan sambil menatap mata Zahra yang dia rasa sangat mirip dengannya.


Zahra dan Melati kembali tersedak dengan pertanyaan Sultan. Baru kali ini ada yang menanyakan itu pada Zahra, bahkan Melati pun tidak berani menyinggung hal itu selama ini karena takut membuat Zahra sedih.


"Maaf, tapi aku sangat membutuhkan informasi darimu, ini juga menyangkut diriku." Kata Sultan lagi.


"Iya, aku masih mencarinya, bahkan akan terus mencarinya sampai aku berhasil menemukannya, meski kami sudah menua dan menjadi kakek nenek aku yakin suatu saat Allah akan menjawab doa dan usahaku." Kata Zahra sambil menjatuhkan setetes air mata yang tak mampu dia bendung.


Zahra juga bingung kenapa Sultan mengatakan itu menyangkut dirinya?


"Tolong maafkan aku jika pertanyaanku membuka dukamu tapi apakah kamu bisa mengenali saudaramu itu jika melihatnya?" Tanya Sultan pelan takut menyakiti Zahra.


"Mungkin, aku tau jika dia memiliki tanda lahir yang unik di punggungnya." Jawab Zahra yang membuat Sultan terkejut.


"Apa tanda lahir berbentuk huruf Z?" Tanya Sultan penuh harap karena dia juga memiliki tanda lahir di punggungnya.

__ADS_1


"Iya, makanya dia diberi nama Zidan sesuai dengan bentuk tanda lahirnya itu." Zahra menggangguk heran, bagaimana Sultan bisa tau tanda itu.


Melati dan Kevin hanya menyimak obrolan mereka saat ini.


Sultan semakin degdegan tapi masih menahannya.


"Kalau boleh tau apa dia jatuh dari atas sana dan hanyut di sungai ini?" Pertanyaan Sultan lagi-lagi mengejutkan Zahra.


"Iya, kata polisi yang mengurus kasus itu kemungkinan besar dia jatuh disungai ini dan terbawa arus, karena polisi tidak menemukan jasadnya sama sekali dan karena itulah aku sangat yakin jika kak Zidan masih hidup."


Perkataan Zahra mengejutkan Sultan.


"Kak Zidan?" Sultan mengucapkan nama itu lalu menangis.


"Zahra? Zahraaa? Zahraaaaaa?"


Sultan berdiri dan meneriakkan nama Zahra berulang kali hingga mendengung kemana-mana.


Zahra sontak berdiri dan berkata dengan sedikit gemetar "Kak Zi..dan?"


"Iya, aku kakakmu Zidan, aku kak Zidan." Kata Sultan sambil memeluk adik yang selama ini mencarinya.


Zahra tidak meragukan itu, suara gemaan Sultan yang memanggil namanya masuk sampai ke hatinya, dia yakin ini adalah jawaban dari Allah atas doa dan usahanya selama ini.

__ADS_1


Melati dan Kevin masih melongo melihat pemandangan di depannya.


"Mel, Allah menjawab doaku, pangeranmu ini adalah kakakku Zidan." Kata Zahra pada Melati sambil menumpahkan air mata bahagianya.


...


Laras menangis di pundak Gibran suaminya, saat melihat Sultan kembali membawa adik kandungnya Zahra.


"Mah, aku tetap anak mama, tolong jangan menangis, tidak ada yang berubah. Harusnya mama bahagia karena mama kini mendapatkan putri baru." Kata Sultan pada Laras yang dari tadi duduk di sofa bersandar di pundak suaminya sambil menangis. Laras sangat takut jika Sultan akan pergi bersama Zahra dan meninggalkannya.


Laras mengangkat kepalanya lalu menatap Sultan.


"Apa kamu tidak akan meninggalkan mama sendiri?" Tanya Laras.


"Tidak mungkin, aku tetap putra mama dan papa, dan lihat aku membawakan putri untuk mama papa."


Sultan sudah berdiskusi dengan Zahra sebelumnya, jika Sultan tidak bisa meninggalkan orang tua asuhnya karena meski bukan terlahir darinya tapi dia sama dengan orang tua kandung baginya, dan Zahra setuju, justru Zahra juga setuju saat Sultan menawarinya tinggal bersama di rumahnya.


Laras mendekati Zahra lalu bertanya sambil memegang dagu Zahra "Benarkah? putri? kamu mau menjadi putriku dan tinggal disini bersamaku?"


"Iya, aku mau." Zahra mengangguk pelan dan berkata iya.


Laras sangat bahagia lalu memeluk Sultan dan Zahra, ternyata ketakutannya hingga menyembunyikan identitas Sultan tidaklah benar, dia pikir saat Sultan menemukan keluarga kandungnya, Sultan akan meninggalkannya, ternyata dia salah, kini dia justru mendapatkan seorang anak lagi setelah Sultan mengetahui identitas aslinya.

__ADS_1


Gibran juga meneteskan air mata bahagianya, melihat istri tercintanya yang selama ini selalu mengatakan padanya takut jika suatu saat nanti Sultan menemukan ingatannya maka Sultan akan meninggalkan mereka. Dan betapa bersyukurnya dia saat melihat istrinya kini memeluk dua orang anak yang pastinya akan mereka sayangi tidak kurang dari kasih sayang orang tua kandung ke anak kandungnya.


__ADS_2