Islam Teman Sepiku

Islam Teman Sepiku
Bab 15


__ADS_3

Sedang di ruangan sekertaris, Zahra di buat bingung oleh Samuel.


"Aku hanya seorang mahasiswi magang, kenapa kamu menempatkan aku disini?"


Tanya Zahra, menurutnya posisi itu tidak pantas untuknya saat ini.


"Kenapa? ada apa dengan ruangan ini? apa kamu tidak suka? nanti aku akan panggilkan orang untuk memperbarui ruangan ini seperti seleramu, kamu katakan saja apa yang kamu inginkan padanya."


Kata Samuel, dia pikir Zahra tidak menyukai dekorasi ruangan itu.


"Bukan itu, sudahlah katakan apa yang harus aku kerjakan?"


Zahra menyerah berdebat dengan Samuel dan menanyakan tugasnya.


"Aku akan menghubungimu kalau ada yang harus kamu kerjakan, untuk saat ini belum ada pekerjaan."


Kata Samuel yamg membuat Vano yang baru membuka pintu merasa terkejut mendengarnya.


"Apanya yang belum ada pekerjaan, bukannya sangat banyak berkas yang numpuk di ruangan Samuel?" Batin Vano.


"Ada apa?"

__ADS_1


Samuel yang melihat Vano berdiri seperti patung di depan pintu bertanya.


"Tunggu di ruanganku."


Melihat Vano diam saja, Samuel yang sudah sangat mengenal Vano mengerti jika pasti ada sesuatu penting yang ingin dia katakan tapi tidak berani mengatakannya disana.


...


"Apa? bagaimana mungkin aku menyuruhnya pergi. Isabel pasti akan terluka."


Kata Vano saat Samuel memintanya menyuruh Isabel pulang saja.


"Terus mau bagaimana? aku sudah punya sekertaris."


"Kenapa aku? kan kamu yang memintaku mencarikan pengganti Luna secepatnya."


Vano merasa kesal dengan Samuel.


"Ok, tidak perlu menyuruhnya pergi, katakan padanya jika mulai saat ini dia resmi menjadi sekertaris disini, tapi sekertaris mu." Kata Samuel dengan entengnya.


"Apa? aku tidak membutuhkan sekertaris, yang benar saja."

__ADS_1


Vano semakin tidak habis pikir dengan cara kerja otak sepupunya itu hari ini. Pertama menerima mahasiswi magang menjadi sekertaris dan sekarang Isabel yang seharusnya menjadi sekertaris sepupunya itu malah di suruh menjadi sekertaris nya sendiri.


"Terserah, kalau mau jadikan dia sekertaris mu dan atur ruangannya, tapi kalau tidak urus sendiri, aku masih banyak kerjaan."


Samuel mulai sibuk mengerjakan dokumen-dokumen yang ada di mejanya.


Vano merasa geram dengan Samuel, tadi dia bilang kepada Zahra jika belum ada kerjaan untuknya tapi nyatanya sekarang dia sibuk mengerjakan pekerjaan yang harusnya dikerjakan oleh Zahra. Terlebih lagi sekarang Samuel melempar masalah Isabel ke dirinya.


Vano keluar dari ruangan Samuel, lalu kembali ke ruangannya dimana Isabel masih menunggu disana.


"Bagaimana? apa aku diterima disini?" Tanya Isabel.


"Tentu, mulai sekarang kamu resmi menjadi sekertaris ku." Kata Vano yang membuat Isabel sontak berdiri karena terkejut, dia pikir dia disini untuk menjadi sekertaris Samuel tapi kenapa sekarang berbeda.


"Sekertaris kamu? tapi bukankah yang membutuhkan sekertaris itu Samuel?" Tanya Isabel.


"Emm, iya, Samuel juga mencari sekertaris, tapi dia sudah menemukannya, tapi aku juga memerlukan sekertaris dan aku rasa kamu yang paling cocok." Vano kalang kabut bagaimana cara mengatasi masalah ini tanpa menyinggung Isabel.


"Oh begitu, aku pikir aku kesini untuk menjadi sekertaris Samuel." Isabel duduk dengan cemberut, kecewa, jelas. Dia sudah bermimpi setiap hari dekat dengan pria yang dia cintai namun impian itu sekarang kandas.


"Jadi kamu hanya mau jadi sekertaris Samuel dan tidak mau menjadi sekertaris aku nih?" Vano pura-pura ikut cemberut, dia tahu jika Isabel pasti akan berkata oh tentu tidak setelah ini.

__ADS_1


"Oh tentu tidak, aku mau kok menjadi sekertaris mu, yang penting aku bekerja disini." Benar saja, seperti tebakan Vano, Isabel berkata demikian. Tapi yang tidak Vano ketahui adalah alasan Isabel tetap mau meski hanya sebagai sekertaris nya yaitu karena untuk mencari tahu siapa sekertaris yang lebih dipilih Samuel dari pada dirinya.


__ADS_2