
Zahra, dengan gamis berwarna pink dusty, tentunya dengan jilbab dan niqab yang senada melangkah ke dalam gedung yang akan dijadikan tempat berlangsungnya pernikahan saudara kembarnya bersama sahabat baiknya.
Mendengar bunyi sepatu dari arah pintu masuk, Samuel yang sedang sibuk mengatur segala persiapan refleks berbalik dan betapa terpesonanya dia mendapati sosok bidadari yang menjelma sebagai makhluk bumi itu.
Ditatap tanpa berkedip oleh Samuel membuat Zahra merasa canggung.
"Ekhmmm, selamat pagi Sam. Saya kesini untuk membantu."
Suara Zahra memecah lamunan Samuel.
"Oh iya, aku akan sangat terbantu dengan kehadiran kamu disini. Karena kamu saudara serta sahabat baik calon mempelai, jadi kamu pasti sangat paham selera mereka."
Keduanya kemudian sibuk dalam persiapan itu. Hingga saat adzan dzuhur berkumandang, Zahra pamit untuk ke Mushola dekat gedung tersebut.
"Aku ke Musholah dulu yah."
"Ok. Aku akan memesan makan siang, setelah sholat kamu boleh makan di ruangan atas, disana tidak ada orang."
__ADS_1
Samuel tentu sudah sangat paham jika saat makan pun Zahra tidak mau di lihat oleh yang bukan mahramnya.
"Terima kasih."
Zahra tersenyum lalu melangkah keluar, menyisakan Samuel yang terpaku disana.
"Bisakah senyum itu selalu kamu persembahkan untukku Ra?" Batin Samuel.
...
Hingga sore hari Samuel dan Zahra masih sibuk dalam mempersiapkan pesta megah untuk Sultan dan Melati.
"Maa Syaa Allah. Ini indah sekali Sam. Kakak dan Melati pasti akan sangat bahagia. Terima kasih banyak."
Zahra memandang sekeliling gedung yang sudah selesai dihias sedemikian rupa indahnya. Penggabungan selera Sultan dan Melati. Sungguh gadis itu sangat mengagumi kinerja Samuel.
"Aku bisa menyiapkan yang lebih indah dari ini seandainya kamu mau menjadi mempelaiku." Gumam Samuel yang sedikit tertangkap oleh indra pendengaran Zahra.
__ADS_1
Zahra refleks menatap Samuel, mata syahdu lelaki itu tampak berkaca-kaca. Membuat Zahra lagi dan lagi merasa sangat bersalah karena telah mematahkan hati pria sebaik Samuel.
Namun apa daya, takdir tidak memihak pada pria malang itu dengan membuatnya jatuh hati pada wanita yang berbeda agama dengannya.
"Astagfirullah," batin Zahra karena sejak tadi memandang wajah pria yang bukan mahramnya.
Lama keduanya saling pandang dengan pemikiran masing-masing. Hingga Zahra yang lebih cepat mendapatkan kesadarannya memecah lamunan Samuel yang kini memikirkan entah.
"Emmm, ini sudah sore. Aku harus pulang."
Zahra tanpa menunggu respon Samuel, mengambil tasnya lalu hendak pergi.
"Boleh aku mengantarmu?" Tanya Samuel yang membuat langkah Zahra berhenti dan berbalik padanya.
"Tolong jangan menolak, sebelumnya aku sudah minta izin pada Kak Sultan dan dia mengizinkan."
Samuel memperlihatkan pesannya siang tadi dengan Sultan kepada Zahra, takut gadis itu mengiranya membual.
__ADS_1
Sultan tau Jika Zahra seharian membantu Samuel mempersiapkan pernikahannya. Dan tentunya karena akan pulang kesorean, Sultan yang mendapati permintaan Samuel untuk Mengantar Zahra pulang merasa itu ide yang baik. Karena dia sendiri tidak bisa menjemput adiknya itu berhubung dia sedang bersama Melati untuk melihat pakaian pernikahan.
Lagian Sultan percaya jika Samuel adalah pria baik. Kejadian malam itu hanya sebatas kekhilafan seorang pria saat setan berusaha menyesatkannya. Dan sekarang, Sultan percaya, Samuel tidak akan khilaf untuk kedua kalinya.