Islam Teman Sepiku

Islam Teman Sepiku
Bab 7


__ADS_3

Melati memperhatikan Sultan yang dari tadi mencoba berbincang-bincang dengan Zahra.


"Tidak adakah aku di matamu?"


Mata Melati basah. Harus dia akui kalau dia cemburu melihat pria yang dia dambahkan mendekati sahabatnya sendiri. Namun, ia pun sadar. Sejak awal Sultan memang tertarik pada Zahra, bukan dirinya. Terlebih belakangan ini ia sering bertukar pesan dengan Sultan dengan menyamar sebagai Zahra.


Sedang Zahra yang merasa Sultan berbicara akrab dengannya, justru merasa canggung.


"Mel, sini!" panggilnya pada Melati. Ia sedikit kikuk berada dekat dengan Sultan.


Melati buru-buru menghapus air matanya lalu dengan tersenyum menghampiri Zahra dan Sultan.


"Aku mau pulang, kamu mau bareng atau masih disini?" tanya Zahra pada Melati.


"Aku balik nanti, aku harus membantu tante beres-beres dulu." jawab Melati.


"Ya sudah, aku balik duluan. Sampaikan maafku pada tante Salsa, aku tidak bisa lama-lama karena aku ada urusan."


...


Ditinggal berdua dengan Sultan, Melati yang aslinya bar-bar dan cerewet itu menjadi kaku. Dia bingung harus bersikap bagaimana.


Sejauh ini dia dan Sultan sudah sangat akrab. Namun, dalam berkirim pesan. Tidak secara langsung. Karena, selama ini Melati menyamar sebagai Zahra.

__ADS_1


Sepertinya dia harus menceritakan semuanya pada Zahra dan mencari waktu untuk berkata jujur pada Sultan sebelum semuanya runyam dan terjadi salah paham. Terlebih sekarang dia yakin jika dia sungguh serius telah menaruh hati pada Sultan.


"Maa syaa allah, suara kamu indah sekali, aku sampai tersentuh tadi."


Sultan memecah kesunyian dan memuji Melati dengan tulus.


"Terima kasih."


Melati saat ini menjadi lebih kalem karena larut dalam pikirannya.


"Sepertinya kamu tidak sekalem ini saat pertama kita bertemu."


Kata Sultan, membuat Melati mengangkat kepalanya dan menatap Sultan.


Melati kembali normal, dan membuat Sultan tertawa.


"Nah, ini baru Melati yang aku lihat saat pertamakali."


"Kamu lebih suka yang mana?"


Tanya melati refleks, kemudian menunduk karena malu.


Sultan awalnya bingung dengan maksud Melati. Namun, kemudian mengerti.

__ADS_1


"Apapun itu, aku selalu menyukai orang yang bersikap jujur dan apa adanya. Tidak perduli kalem atau cerewet dan apapun itu. Asalkan orang itu bersikap seperti dirinya yang sebenarnya. Aku pasti menyukainya. Jadi, selalu jadi dirimu yang sebenarnya."


Perkataan Sultan menghidupkan Melati.


"Benarkah? jadi tidak masalah jika aku cerewet dan bersikap bar-bar? apa kamu tidak risih atau ilfil padaku?"


"Tentu, aku malah sangat nyaman bicara padamu yang apa adanya."


Sultan berkata jujur, dia memang sangat mengagumi Zahra dengan kepribadiannya yang pendiam, lembut dan santai. Tapi dia juga sangat menyukai kepribadian Melati yang terlihat konyol dan lugu itu. Menurutnya, Melati gadis yang unik.


Melati sangat bahagia mendengar perkataan Sultan. Dia memutuskan secepatnya harus jujur pada Sultan kalau dialah yang selama ini berteman chat dan sering ngobrol dengannya.


...


Samuel keluar dari hotel, berjalan ke arah parkiran.


"Zahra?" batinnya.


Melihat Zahra memasuki mobilnya, Samuel buru-buru mengikutinya kembali.


Duh duh. Samuel kok kurang kerjaan yah???


Sambil menyetir, Samuel bertanya pada dirinya sendiri kenapa dia segitunya mengikuti Zahra? ada apa dengan dirinya? selama ini dia tidak pernah tertarik pada wanita manapun selain gadis kecil yang hampir setiap malam dia mimpikan. Tapi, kenapa dia bertingkah bodoh sejak mengenal Zahra yang bahkan jelas-jelas mengatakan tidak akan tertarik padanya karena mereka berbeda agama.

__ADS_1


Samuel kembali mengingat isi dakwah Zahra. Dia sungguh tersentuh dan merasa ter_ajak oleh Zahra.


__ADS_2