Islam Teman Sepiku

Islam Teman Sepiku
Bab 113


__ADS_3

Sekitar pukul sembilan pagi. Pasangan baru itu berangkat ke bandara. Sekitar empat belas jam, waktu penerbangan. Arsyad dan Zahra tiba di Amsterdam - Belanda.


Waktu Indo-Belanda, berjarak sekitar lima jam. Dan saat keduanya sampai di Amsterdam, waktu disana masih menunjukkan pukul enam malam.


Arsyad dan Zahra kini berada di apartemen Arsyad yang berada di pusat kota Amsterdam.


Keduanya istirahat sejenak sambil menunggu pesanan menu makan malam yang Arsyad pesan.


Selang beberapa menit, makanan yang Arsyad pesan.


"Sholat dulu yah Mas. Mas wudhu duluan," ucap Zahra sambil menata makanan di atas meja.


Arsyad mengangguk, lalu melangkah ke kamar mandi. Tak lama, ia keluar dan giliran Zahra yang mengambil wudhu.


Pasangan itu sholat berjama'ah lalu makan bersama.

__ADS_1


...


"Tidurlah. Aku mau menyelesaikan sedikit pekerjaan dulu. Besok aku ada pertemuan dan aku perlu mempersiapkan diri," ujar Arsyad dan dibalas anggukan oleh Zahra. Pria itu keluar kamar dan menuju ruang kerja yang sengaja ia tambahkan di apartemennya itu.


'Maafkan aku mas! Tapi, aku belum siap. Dan entah kapan aku baru bisa siap,' batin Zahra. Dia merasa bersalah dan berdosa pada sang suami. Tapi, dia tidak menolak Arsyad. Arsyad yang tidak mau menyentuhnya.


Zahra merebahkan dirinya di atas kasur. Tapi matanya tak mampu terpejam. Entah karena memang belum ngantuk, atau pikirannya lagi kalut.


Sampai sekitar dua puluh menitan lamanya. Arsyad telah kembali ke kamar dan sedikit heran melihat sang istri yang tengah duduk bersender di kepala ranjang.


Bersabarlah! Suatu saat kesabaranmu akan berbuah indah.


"Mas!"


Zahra menatap Arsyad. Terlihat wanita cantik itu ingin mengatakan sesuatu, namun merasa enggan.

__ADS_1


"Ya?"


"A_apa mas bisa me_mena_hannya?" tanya Zahra dengan teramat kikuk. Dia sebenarnya malu bertanya prihal demikian. Tapi, setelah ia pikir-pikir, sudah seharusnya ia membahas hal ini.


Arsyad sontak terperangah. Apa maksud istrinya itu? Dia bukan anak labil yang tidak paham arah bicara Zahra. Namun, lebih tepatnya Arsyad tak berani mempercayainya. Takut, dia salah memahami. Dan berakhir berharap.


"Maksud kamu?" tanya Arsyad sedikit lirih.


Ditanyai balik, membuat Zahra semakin kikuk.


"Emmm ... apa mas ... itu ... " Zahra sungguh menahan malu mati-matian. "apa mas bisa menahan diri mas? Ka_kalau tidak, aku siap kok mas," ucap Zahra sambil menundukkan kepalanya. Dia tidak berani mengangkat wajahnya yang memerah karena harus menahan malu.


Arsyad justru tersenyum. Pria tampan itu memegang dagu sang istri dan membuat wajah istrinya itu terangkat. Manik mata keduanya bertemu. Membuat jantung mereka berdetak melebihi ritme seharusnya.


"Aku pria normal. Tentu akan memiliki keinginan. Tapi, meski sulit aku bisa menahannya. Setidaknya sampai kamu benar-benar siap."

__ADS_1


Mungkin terdengar naif. Tapi, Arsyad mengatakannya dengan sungguh-sungguh.


__ADS_2