
Zahra terpaku mendengar ajakan Samuel. Bagaimana mungkin dirinya bisa makan bersama pria yang bukan mahromnya dan itu pun di tempat umum.
"Maaf, tapi aku tidak bisa melepas niqabku dan..." Lirih Zahra sehati-hati mungkin, takut lagi-lagi menyakiti hati Samuel karena penolakannya.
Inilah yang tidak Samuel pikirkan. Bagaimana bisa Zahra makan tanpa melepas niqabnya dan tentunya tidak mungkin bagi Zahra melepas niqabnya bukan?
"Oh, tidak. Aku yang minta maaf karena tidak memikirkan itu." Ucap Samuel dengan senyum yang dia paksakan.
Zahra sangat mengerti ada rasa perih dan kecewa dibalik senyuman Samuel.
"Ya sudah, aku akan membereskan pekerjaanku."
Zahra tidak sanggup berlama-lama disana. Selain itu tidak pantas, namun juga karena dia tak sanggup melihat kekecewaan Samuel saat ini.
Melihat Zahra menghilang dari balik pintu, Samuel tersenyum getir.
"Heh, munafik kamu Sam! Bisakah kamu terus-terusan seperti ini?" Gumam Samuel mengatai dirinya sendiri.
Entah sampai kapan dia bisa pura-pura terlihat fine dengan persahabatannya dengan wanita yang dia impikan menjadi ibu dari anaknya.
...
"Semua sudah siap, aku juga sudah disini bersama Isabel."
Vano yang duduk bersama Isabel di restoran, menghubungi Samuel.
"Kalian makanlah berdua, aku tidak jadi datang." Ucap Samuel datar.
"Loh kenapa? apa..."
__ADS_1
Perkataan Vano dipotong oleh Samuel.
"Aku yang terlalu konyol, berharap hal kecil namun mustahil darinya. Mana mungkin seorang muslimah bercadar sepertinya mau makan di tempat umum, heh."
Samuel tersenyum kecut memikirkan kembali kekonyolannya.
Vano tidak mengerti dengan maksud Samuel, dia hendak bertanya lagi namun Samuel telah memutuskan sambungan telponnya.
"Ada apa?"
Melihat mimik wajah Vano tidak baik, Isabel merasa penasaran.
"Mereka tidak datang." Ucap Vano masih dalam kebingungan.
"Kenapa?"
"Aku juga bingung. Kata Sam..."
Vano mengucapkan ulang yang Samuel ucapkan tadi.
"Ya ampun, pantes saja. Kita memang konyol seperti yang Samuel katakan."
Isabel memukul jidatnya mengerti.
"Maksud kamu?" Tanya Vano masih belum mengerti.
"Tentu saja Zahra tidak akan mau makan bersama kita. Bukan hanya bersama kita, tapi pasti dia tidak akan mau makan dengan siapa pun di tempat umum. Seorang muslimah bercadar, bagaimana bisa melepas cadarnya itu? dan bagaimana bisa seseorang makan jika mulutnya tertutup kain cadar gituan?!"
Barulah Vano mengerti saat ini.
__ADS_1
"Hmm, rumit!"
Hanya itu yang mampu Vano ucapkan saat ini.
Dia merasa prihatin dengan nasib percintaan sepupunya itu.
...
Sedang Zahra yang baru keluar dari toilet, mendapati sebuah kotak makan cantik dan unik di atas mejanya.
"Tolong diterima pemberian kecil temanmu ini😊. Selamat makan!"
Itu tulisan yang ada di atas kotak makan itu.
Zahra tersenyum dan membuka kotak makan itu. Dia tentu tidak akan mengecewakan pengirim makanan itu.
Setelah mengunci pintu, Zahra dengan lahap menyantap habis isi kotak makan tersebut.
Samuel yang melihat Zahra mengunci pintu, tersenyum. Dia yakin gadis itu menerima kotak makan siang itu.
Dan benar saja, Zahra mengirim pesan padanya.
"Terima kasih."
Tulisan singkat dari Zahra, namun sudah sangat membuat seorang Samuel bahagia.
Saat Samuel mau kembali ke ruangannya, ibunya menelpon.
Setelah menerima panggilan ibunya, Samuel terlihat buru-buru pulang.
__ADS_1