Islam Teman Sepiku

Islam Teman Sepiku
Bab 80


__ADS_3

Syanti meninggalkan gedung tinggi di depannya. Kembali ke kosnya dengan rasa kesal. Bagaimana tidak. Niatnya ingin membuat Isabel percaya padanya sehingga marah dan meninggalkan Vano, malah berakhir dia di depak dari sana.


"Silahkan kamu bilang? Baiklah. Kamu akan menyesal karena menantangku." ucapnya bermonolog.


Sedang Isabel kini menghubungi Vano dan memintanya bertemu malam nanti.


Yap, mau apalagi. Tentu ingin mengadukan Syanti. Mengadu? bukan marah atau mencecar Vano? tentu! Isabel sangat mempercayai Vano. Terlebih dalam hal kesetiaan.


Dan waktu tak terasa berganti malam. Sekarang, di sinilah mereka berada. Di sebuah resto dekat bar milik Vano. Tempat Syanti kini bekerja.


"Kenapa tidak sekalian ke bar honey?" tanya Vano bingung.


"Ngapain kesana? Mau lihat sih wanita tak tahu malu itu?" jawab Isabel nyolot. Yah, kena semprot juga Vano pada akhirnya. Padahal Isabel tidak bermaksud. Tapi, memikirkan Syanti, membuat tensinya naik.


Vano mengeryitkan dahinya, "apa maksud kamu honey? mana ada aku mau lihat-lihat wanita lain. Dan wanita mana yang kamu maksud?" kalau tidak salah membaca ekspresi sang kekasih. Sepertinya saat ini kekasihnya itu sedang kesal.


"Maaf! Aku lagi darah tinggi gara-gara jall*ng itu. Syanti. Wanita itu tidak tahu malu honey," ucap Isabel dengan wajah yang ia tekuk.

__ADS_1


"Syanti? Kenapa dengannya? Apa dia membuatmu marah? Cemburu? Tapi aku tidak pernah bertemu dengannya lagi honey."


Vano membela diri, padahal Isabel mana ada menuduhnya.


"Tadi sore dia ke apartemen aku."


"Ngapain?" tanya Vano heran.


"Dia memintaku meninggalkan kamu! Benar-benar tak tahu malu kan orang itu?" jawab Isabel menahan geram. Rasanya ingin sekali dia ke bar dan meminta Vano memecat Syanti. Tapi dia sadar, itu bukan tindakan profesional. Masalahnya dengan Syanti, adalah masalah pribadi. Bukan soal pekerjaannya.


"Apa?" seru Vano kaget.


ukhukk ukhukk...


Vano terbatuk mendengar ucapan Isabel. Buru-buru ia berkata, "tidak honey! Please jangan percaya gadis gila itu. Mana mungkin... ah aku akan menghabisinya."


Vano begitu marah hingga tak mampu berucap. Dia sangat takut jika saja Isabel percaya dengan omong kosong Syanti. Susah payah, dengan penantian yang sangat panjang. Isabel kini membalas cintanya. Dan jangan sampai gara-gara kebohongan wanita gila seperti Syanti, membuatnya kehilangan Isabel.

__ADS_1


"Tidak honey! Biarkan saja. Aku mengatakannya padamu bukan karena mempercayainya. Sedikit pun aku tidak meragukan kamu. Aku hanya ingin kamu lebih hati-hati. Sepertinya dia merencanakan sesuatu. Aku takut dia menjebak kamu sehingga mau tak mau harus bertanggung jawab atas bayi yang entah itu bibit siapa."


Isabel menahan Vano yang hendak keluar dan menghampiri Syanti di bar.


Vano melihat sang kekasih, "terima kasih honey. Tugas kamu hanya mencintai dan mempercayai aku. Yang lain biar aku yang urus," ucapnya memeluk erat Isabel.


...


Hari ini adalah weekend. Zahra dengan semangat keluar rumah.


Jika bagi gadis lain pada umumnya, akan menghabiskan weekend bersama kekasih. Berbeda dengan Zahra. Dia memasuki mobilnya dan melajukannya menuju rumah sang kakak.


Sedangkan Samuel? Dia kini dihadapkan dengan tumpukan buku tentang ilmu agama.


Yap, dia mempelajari 'keyakinan'nya dan juga 'keyakinan' sang pujaan hati dengan bersungguh-sungguh.


Dalam hati pria itu sebenarnya sedikit mengeluh. Ingin rasanya menghabiskan weekend bersama Zahra. Namun, tentu mustahil akan terjadi.

__ADS_1


"Tiga bulaaannnn! Cepatlah berlalu!" gumamnya lalu kembali fokus dengan buku di depannya.


__ADS_2