
Sultan mondar-mandir sambil menggenggam handphonenya.
Dari tadi dia terus melihat handphonenya itu, berharap Melati yang selama ini menjadi teman chatnya sebagai Zahra mengirimkan chat padanya.
Sudah beberapa hari, Melati tidak lagi mengirim chat padanya dan Sultan merasa ada yang hilang setelah itu.
"Assalamualaikum, apa kabar? apa kamu sibuk?"
Akhirnya Sultan memberanikan diri mengirimkan chat pada Melati.
Saat melihat pesannya di read Sultan merasa degdegan sambil berdoa semoga pesannya segera di balas.
"Ada apa dengannya? kenapa seperti dia sengaja menghindariku?" Pikir Sultan setelah menunggu beberapa menit bahkan sampai sejaman pesannya masih dalam keadaan read saja.
...
Sedang Melati yang lagi duduk menunggu pihak perusahaan tempat dia akan magang tak hentinya membaca pesan dari Sultan, namun karena sudah memutuskan untuk menghentikan hubungan maya itu sebelum terlalu jauh, Melati tidak membalasnya.
Sebenarnya dia sungguh menyadari benar-benar telah jatuh cinta pada Sultan, namun karena awalnya dia minder mengatakan kalau dia sebenarnya Melati dan bukan Zahra saat chat pertamakalinya dengan Sultan, maka sekarang dia bingung bagaimana mengatasi hal tersebut.
"Nona, anda boleh masuk." Seorang wanita yang merupakan sekertaris bos perusahaan disana memanggil Melati dan membuatnya sadar dari lamunannya.
Melati memasuki ruangan atasan perusahaan tempat dia sangat berharap akan diterima magang disana.
__ADS_1
"Melati?"
Sultan yang merupakan pemilik perusahaan itu terkejut saat melihat ternyata mahasiswi yang akan magang di perusahaannya adalah Melati.
Sedang Melati merasa sangat gugup mengetahui Sultan adalah pemilik perusahaan itu.
Sebenarnya Sultan juga baru hari ini mulai bergabung dengan perusahaan ayahnya. Dia baru lulus kuliah tahun ini dan langsung di amanahkan perusahaan ayahnya yang katanya ingin pensiun dini.
"Silahkan duduk." Sultan mencoba menenangkan dirinya yang entah kenapa merasa degdegan melihat Melati.
Melati duduk di kursi yang berada di depan Sultan dengan dipisahkan oleh sebuah meja kerja.
"Selamat, mulai hari ini kamu resmi bergabung di perusahaan kami selama tiga bulan kedepan." Kata Sultan.
...
"Aku mau cerita."
Malam hari, Zahra dan Melati bicara secara bersamaan.
"Oh kamu dulu."
Lagi-lagi keduanya bicara secara bersamaan.
__ADS_1
"Kamu dulu." Kata Melati.
"Tadi aku bertemu Samuel. "Kata Zahra yang membuat Melati kembali memperlihatkan sisi hebohnya.
"Apa? Samuel? dimana?" Tanya Melati tak sabar ingin mendengar cerita Zahra.
"Ternyata dia pemilik perusahaan tempat aku magang dan dia menunjukku menjadi sekertarisnya selama aku magang disana."
"Oh benarkah? asyik donk akhirnya pangeran yang menghilang telah kembali."
"Hmm kamu ini, katakan tadi kamu pasti mau curhat lagikan?" Zahra yang sudah beberapa hari ini selalu menjadi tempat Melati curhat tentang Sultan bisa menebak jika kali ini sahabatnya ini juga pasti akan membawakan materi yang sama.
Melati menjadi diam, lalu berkata pelan "Tadi aku juga bertemu Sultan, sama denganmu ternyata dia juga pemilik perusahaan yang aku tempati magang."
"Yech sama darimananya? kamu suka Sultan aku ngak suka Samuel yah." Bantah Zahra yang membuat Melati heran.
"Ich bukannya bilang oh terus-terus atau lalu bagaimana? lah kamu kok malah bilang gitu." Kata Melati.
"Iya, terus bagaimana?" Tanya Zahra.
"Yah aku sebisa mungkin menghindarinya." Jawab Melati.
"Kamu ini, kenapa dihindari? ini kesempatan bagi kamu untuk menunjukkan padanya kalau kamu itu mencintainya. Dan saranku yah, sebaiknya kamu jujur saja padanya, aku yakin dia tidak akan marah."
__ADS_1
Zahra menjitak kepala Melati dan membuatnya berpikir.