Islam Teman Sepiku

Islam Teman Sepiku
Bab 99


__ADS_3

Pagi hari, seusai sarapan. Zahra mengemudikan mobilnya ke kantor. Meski dia dan Zidan satu perusahaan. Tapi keduanya mengendarai mobil masing-masing. Sebab, jam pulang mereka kadang tidak sama. Sebagai staf biasa, Zahra pulang sesuai jam kerja. Namun, Zidan kadang harus lembur atau kesana kemari menemui klien.


Saat sampai di lobi perusahaan. Zahra berpapasan dengan seseorang.


"Zahra?"


Arsyad, tersenyum ceria saat dia melihat Zahra. Entah kebetulan atau sudah takdir. Dia sampai bertemu dua kali oleh gadis yang menarik perhatiannya.


Zahra merasa canggung. Sedikit risih juga sebenarnya. Namun, tak ayal gadis itu tersenyum sambil menunduk.


"Kamu ngapain disini?" tanya Asyraf. Sepertinya dia tipe pria yang cerewet.


"Aku bekerja disini." jawab Zahra pelan.


"Wah, benarkah? Kok aku tidak pernah melihat kamu sebelumnya, padahal perusahaan aku sudah lama bekerjasama dengan perusahaan ini? Bahkan tiga bulan sekali aku selalu kesini untuk bertemu Pak Sultan."


Yah, Arsyad adalah partner bisnis Zidan. Soal dia yang memanggil Zidan Sultan, itu karena dia memang dari awal tahunya Zidan itu Sultan.

__ADS_1


"Aku baru dua bulanan kerja disini."


"Oh, pantes saja. Kamu di bagian mana?"


Lihatlah. Pria itu sudah seperti reporter.


"Hanya staf kecil." ucap Zahra mulai risih. Kemudian gadis itu berkata, "maaf, aku sudah harus bekerja. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Arsyad masih ingin lebih banyak mengetahui tentang Zahra. Tapi, sepertinya ini bukan waktu yang tepat. Karena gadis itu sudah harus bekerja. Mungkin nanti dia bisa bertemu gadis itu lagi. Menunggunya pulang kerja, mungkin. Pikir Arsyad.


Hari ini ada meeting. Tiga bulan sekali, para petinggi perusahaan yang bergabung dengan perusahaan Zidan, akan melakukan pertemuan. Guna memantau perkembangan perusahaan mereka sekaligus mempererat hubungan kerja antar perusahaan tersebut.


Seperti saat ini. Di ruang meeting sudah berkumpul para petinggi berbagai perusahaan yang bekerjasama dengan perusahaan Zidan.


Zidan dan Zahra kini melangkah ke ruangan tersebut. Hari ini, Zahra pun bingung kenapa kakaknya itu mengajaknya ke ruang meeting. Biasanya tidak. Karena dia hanya staf kecil.

__ADS_1


"Assalamualaikum. Selamat pagi semua. Maaf, saya sedikit telat." Zidan kemudian duduk di kursi utama. Sebelumnya ia menarik sebuah kursi di dekatnya untuk Zahra dengan penuh perhatian.


Perilaku Zidan tersebut, tak lepas dari perhatian salah satu petinggi perusahaan yang bekerjasama dengan perusahaannya.


'Ternyata dia istri Pak Sultan.'


Arsyad, merasa miris. Dia mengira Zahra adalah istri Sultan yang ia dengar telah menikah tiga tahun lalu.


Bisa-bisanya dia jatuh cinta pada istri partner kerjanya. Pikir Arsyad.


'Sepertinya aku harus patah hati sebelum di tolak!' batinnya, merasa miris.


"Terimakasih atas kehadirannya. Disini selain, untuk membahas hasil kinerja tiga bulan belakangan. Saya juga ingin menyampaikan hal yang lain." ucap Zidan, menatap satu persatu orang di ruangan itu.


'Pasti Pak Sultan mau ngenalin istrinya. Selama ini kan dia belum pernah membawa istrinya ke perusahaan.'


Lagi-lagi batin Arsyad bermonolog. Untung tidak ada yang dengar. Bisa jadi bulan-bulanan dia kalau di dengar yang lain. Sebab, hanya dia yang tidak hadir di acara pernikahan Sultan waktu itu. Petinggi yang lain datang dan mengenal Melati sebagai istri Sultan.

__ADS_1


"Perkenalkan! Zahra, dia adalah saudari kembar saya. Dan mulai saat ini 15% saham perusahaan saya akan beralih kepadanya. Jadi, mari kita sambut dia dalam tim kita untuk kedepannya."


Semua orang bertepuk tangan tanda menyambut bergabungnya Zahra. Tapi, ada satu orang yang hanya terperangah disana. Arsyad!


__ADS_2