
Hamdan meninggalkan Risa di kamar. Membiarkan sang istri merenungi kesalahannya.
Sedang Zahra kembali ke rumahnya. Bukan di rumah Laras. Namun, di rumahnya sendiri. Rumah masa kecilnya. Rumah peninggalan mendiang orang tuanya.
Iya! Setelah kepergian Samuel. Zahra memutuskan kembali ke rumahnya. Dia ingin hidup menyendiri. Bersama dengan kenangan Samuel yang tak seberapa banyak, namun abadi di dalam hati.
...
Gadis cantik itu, serasa kembali ke kehidupannya yang lama. Kehidupan saat belum bertemu sang kakak. Sholat, mengaji, lalu menyiapkan sarapan. Sama seperti dulu. Bedanya, setelah sarapan gadis itu tidaklah ke kampus. Melainkan berangkat bekerja.
Oh, berbicara tentang kampus. Zahra kembali teringat saat pertamakali bertemu Samuel di toilet dan hari-hari setelahnya.
Zahra menggeleng. Mencoba menepis bayangan sang pujaan hati. Dia ingin berangkat bekerja dan jangan sampai ia larut dalam kesedihannya lagi. Setidaknya saat jam kerja.
Zahra, mengemudikan mobilnya. Melaju dengan kecepatan sedang menuju perusahaan sang kakak.
Iya, Zahra sekarang resmi bekerja di perusahaan Zidan. Bukan dengan jabatan tinggi. Hanya staf biasa. Karena, ia tidak ingin memakai jalur singkat. Ia ingin bekerja dari nol dan melihat seberapa besar kemampuannya sendiri hingga suatu saat mampu berada di tingkat teratas. Semoga saja!
Saat Zahra di tengah jalan. Ponsel di tasnya berbunyi.
__ADS_1
"Waalaikumsalam Kak!" jawabnya.
"Alhamdulillah! Iya kak, Zahra ke rumah sakit sekarang."
Zahra mengambil jalur lain. Ia mengarah ke rumah sakit. Barusan Zidan mengabari kalau keponakannya sudah lahir.
Gadis itu mendapat semangat baru. Ia bergegas ke rumah sakit dan mencari ruangan sang kakak ipar. Dan betapa bahagianya dia saat melihat kondisi Melati dan bayinya.
Zahra menghampiri Melati, lalu memeluknya.
"Selamat Mel! Selamat kak! Masya Allah, lucunya."
"Boleh Zahra gendong kak?" tanyanya yang dijawab anggukan oleh Zidan dan Melati.
Zidan dan Melati saling lirik memberi kode. Seakan mengatakan 'lihat, Zahra kembali tersenyum!'
Zidan dan Melati merasa bahagia. Bukan hanya karena kelahiran sang putri yang baik-baik saja. Namun, karena ini kali pertama mereka melihat senyuman Zahra mencapai matanya setelah kepergian Samuel.
Apakah putri kecilnya itu yang membuat Zahra kembali tersenyum? Jika benar, maka semoga hari-hari berikutnya Zahra tetap tersenyum seperti saat ini.
__ADS_1
...
Zahra pulang terlebih dahulu. Ia berencana ke rumah Zidan. Sebelumnya ia singgah di pusat perbelanjaan. Membeli beberapa barang yang ia perlukan untuk menghias kamar ponakannya.
Lihatlah! Betapa antusiasnya gadis itu menghias kamar sang ponakan.
Dan setelah satu jaman ia pun tersenyum puas melihat hasil kerjanya.
...
Bunyi klakson mobil membuat Zahra berlari keluar rumah. Ia menyambut Zidan dan Melati. Tentunya ada baby 'A' (Alifa Zea Amanda) di gendongan Zidan.
"Sini Zahra yang gendong kak," ucap Zahra meraih sang ponakan yang terlihat gemoy dengan menghisap jari jempolnya.
Zahra menggendong baby 'A' menuju kamar yang sudah ia hias sedemikian rupa.
"Masya Allah, ini kamu yang hias Ra?" Melati tampak takjub dengan interior kamar bayi di depannya. Hiasan yang indah dengan nuansa pink berpadu putih. Ditambah beberapa barang yang Zahra tata serapi dan menempatkannya dengan posisi seaman mungkin.
"Terima kasih Dek!" ucap Zidan sambil mengelus kepala sang adik.
__ADS_1
'Ya Allah! Jangan lagi kau renggut senyuman adikku ini. Izinkanlah ia selalu bahagia, aamiin!' batin Zidan meminta.