
"Assalamualaikum, boleh kita bertemu?" Melati yang masih nginap di rumah Zahra menulis pesan itu lalu menimbang-nimbang apakah harus mengirimnya atau tidak.
"Zahra!"
Zahra yang gemes melihat Melati yang belum juga mengirim pesannya pada Sultan memencet tombol kirim pada handphone Melati dan pesan itu langsung terkirim.
"Sudah di tulis, mubazir kalau tidak dikirim." Kata Zahra lalu menutup tubuhnya dengan selimut sambil tersenyum.
"Waalaikumsalam, in syaa allah bisa, dimana?" Balas Sultan yang kini merasa sangat bahagia, akhirnya yang dia nantikan datang juga.
Karena sudah dimulai maka harus dilanjutkan.
"Besok siang di top cafe." Balas Melati.
"Ok."
Sultan merasa sangat bahagia, akhirnya yang dia nantikan datang juga, dia tau bahwa besok pasti Melati akan menemuinya dan berkata jujur padanya jika dialah yang selama ini menjadi teman chatnya dan bukan Zahra, sebelum Sultan menerima pesan dari Melati, tadi Zahra yang diam-diam mengambil nomor Sultan dari kontak Melati dan mengatakan segalanya untuk memastikan jika saat sahabat baiknya bertemu dengan Sultan, maka Sultan tidak akan mematahkan hatinya.
__ADS_1
Zahra mengintip Melati dari balik selimut sambil tersenyum bahagia karena dia sudah bisa menebak jika esok adalah hari bahagia sahabatnya itu.
...
Esok harinya saat jam makan siang, Melati dan Sultan bertemu di top cafe dekat perusahaan.
Melati yang duduk di hadapan Sultan hanya diam dan menundukkan kepalanya, semalam dia sudah bekerja keras latihan untuk menjelaskan segalanya pada Sultan, tapi sekarang jangankan menjelaskan, memulainya saja dia gemetar.
"Tidak perlu mengatakan apapun, Zahra sudah menjelaskan segalanya padaku."
Sultan yang merasa tidak lagi tega melihat Melati yang begitu gugup akhirnya membuka suara.
"Kamu pasti kecewa dan marah padaku, maaf aku tidak bermaksud tapi aku tetap melakukannya." Kata Melati.
"Tidak, aku sama sekali tidak marah ataupun kecewa, aku justru bahagia karena akhirnya yang aku nantikan telah tiba."
Perkataan Sultan membuat Melati bingung.
__ADS_1
"Yang kamu nantikan?" Melati mengulangi perkataan Sultan.
"Iya, sudah lama aku menantikan kesiapan kamu untuk jujur padaku, Maaf sebenarnya aku sejak awal sudah tau jika kamulah yang selama ini bertukar chat denganku." Kata Sultan yang membuat Melati terkejut.
"Bagaimana kamu bisa tau? lalu jika kamu tau kenapa kamu bersikap seakan tidak tau?" Tanya Melati, kali ini sikapnya sudah normal, Melati yang tidak pemalu dan berani menatap Sultan, memang sangat berbeda dengan pakaian syar'i yang seharusnya menggambarkan pribadi pendiam, pemalu dan lembut. Tapi Melati adalah Melati, dia menutup aurat karena aturan agama, sedang baginya sikapnya yang bar-bar, cerewet, dan ceplas-ceplos tidaklah melanggar aturan agama, karena diantara aurat dan sikap itu dua hal yang berbeda.
Sultan tersenyum lalu berkata "Semua orangpun jika diposisiku akan tau, jika Zahra tidak bisa menulis kata-kata kocak dan konyol seperti yang selama ini kamu kirimkan, itu hanya bisa dilakukan satu orang saja, yaitu Melati."
"Dan bukannya aku bersikap seakan tidak tau, tapi kamu sendirilah yang beranggapan seperti itu." Sambung Sultan lagi yang membuat Melati terdiam disana.
"Ya sudah jika sudah tau berarti semuanya sudah selesai, aku permisi." Melati mau pergi dari sana tapi dihentikan dengan satu kalimat Sultan yang bahkan di dengar jelas oleh semua orang yang sedang makan siang disana.
"Maukah kamu ta'aruf denganku sampai kamu bersedia menjadi pendampingku untuk selamanya?" Sultan berdiri dan mendekati Melati tanpa menyentuhnya.
Melati tidak sanggup mengeluarkan suaranya, dia menangis karena merasa sangat bahagia saat ini, dia datang kesana hanya untuk menjelaskan kebenaran dan meminta maaf pada Sultan itupun jika Sultan bersedia memafkannya, tidak terpikir di hatinya untuk mendengar pertanyaan itu dari Sultan sama sekali, karena dia kira Sultan tidak mungkin menyukainya.
Melati menghapus air matanya sambil mengangguk.
__ADS_1
Semua orang disana bersorak melihat kedua insan itu menyatakan perasaannya namun tetap bisa menjaga kehormatan masing-masing.