Islam Teman Sepiku

Islam Teman Sepiku
Bab 59


__ADS_3

Jika tadi pagi, anal laki-laki itu berusaha membuat kakak perempuannya menyisakan sebagian pakaiannya dengan cara mengejeknya. Maka, mala ini tidak.


Kevin menangis sambil mengatakan pada kakaknya itu isi hati dan kecemasannya.


"Dasar bodoh!" ucap Melati menjitak pelan kepala adiknya yang untuk pertamakali ia lihat menangis demikian.


Sebenarnya ia pun rasanya mau menangis, tapi ia upayakan tahan.


Lihat saja, mata kedua orang tuanya juga mulai berkaca-kaca. Kalau ia menangis, sudah pasti orang tuanya itu pun akan menangis.


"Kakak hanya pindah beberapa meter dari sini. Lagian kakak tidak membawa semua pakaian kakak kok."


Ucap Melati lagi. Iya, Melati memang pindah ke rumah yang telah suaminya sediakan. Tapi catat, rumah yang Zidan beli untuk mereka tempati hanya berjarak 50 meter dari pagar rumah orang tuanya saat ini. Ya, mereka tetanggaan.


Zidan bukan lelaki tidak berperasaan. Yang akan merenggut seorang putri dan kakak seseorang begitu saja. Zidan sengaja mencari rumah masa depannya yang letaknya tidak jauh dari rumah keluarga sang istri. Agar, tidak membuat pihak mana pun merasa kehilangan dan bisa bermain bersama seperti hari-hari biasa. Paling malamnya saja ia mengurung istrinya itu di kamar. Kalau siang hari bebas istrinya mau dimana.


"Huh tidak membawa semua. Tapi semalam Kevin lihat kakak memasukkan semua isi lemari itu sampai kosong." Ucap Kevin masih agak sesenggukan.


Jujur, saat ini Melati merasa geli melihat wajah adiknya. Ini bukan Kevin yang dia kenal.


Tapi mau ketawa juga nggak tega.

__ADS_1


"Cup adik kakak yang unyu-unyu. Ayo lihat seisi kamar kaka ini." Pinta Melati membuat Kevin bingung.


"Buat apa? kakak tuh lihat baik-baik seisi kamar kakak ini. Agar nanti saat berada di tempat baru kakak tidak melupakan tempat yang lama." gerutu Kevin.


Uh, Melati sangat gemas saat ini.


"Lihat dulu!" Ucap Melati lagi.


Meski berat, Kevin akhirnya mengikuti perintah kakaknya.


"Sudah lihat semua?" Tanya Melati.


"Sudah." jawab Kevin nggak ikhlas.


"Lihat!"


"Ada berapa?"


"Dua!"


"Terus yang kakak kemas isinya semalam lemari yang mana?"

__ADS_1


"Yang i_"


Seakan menyadari sesuatu. Kevin menghentikan ucapannya dan berganti berlari ke arah lemari kakaknya yang baru ia ingat semalam tidak kakaknya buka.


Dan saat melihat isinya masih penuh, anak laki-laki itu begitu bahagia.


"Hehe, tadi Kevin hanya akting nangisnya. Semuanya akting. Kakak sudah boleh pergi."


Wah, benar-benar nih anak. Tidak mau malu, jadinya beralasan akting katanya sejak tadi.


Semua yang disana hanya tersenyum melihat tingkah Kevin.


Sudah, drama sang adik sudah kelar. Saatnya Melati berpamitan.


Yoga dan Cahya mengantar kepergian anaknya sampai depan rumah. Meski anaknya itu hanya pindah beberapa meter, tetapi rasa sedih itu tidak bisa di pungkiri.


...


Mobil yang baru melaju pelan selama dua menit itu, kini berhenti di depan rumah besar.


Dalam hati Melati kagum dengan pemandangan rumah itu. Itu baru luarnya, belum dalamnya.

__ADS_1


Padahal, Melati sering melewati rumah itu. Tetapi tidak pernah memperhatikannya. Rumah itu baru selesai di bangun oleh pemilik awal. Namun karena suatu hal, rumah yang belum di tempati itu harus di jual. Dan kebetulan, Zidan sedang mencari rumah untuk persiapan masa depannya saat itu. Jadilah, Zidan yang menjadi pemilik rumah itu kini.


__ADS_2