
Dua gadis dengan berbeda penampilan itu memasuki pelataran rumah sakit bersama. Itu menjadi pemandangan aneh bagi beberapa orang yang melihatnya Satu dengan pakaian yang Masya Allah syar'i sekali. Sedang yang satu dengan pakaian minimnya dan menampilkan semua lekuk tubuhnya.
Isabel tentu peka dengan cara pandang orang disana. Tapi dia tidak mempermasalahkannya. Banyak kok wanita seksi disana. Tapi mungkin tidak mencolok karena berjalan sendiri atau bersama sesama wanita yang berpenampilan sama seksinya. Lain hal dengan dia, karena jalan beriringan dengan gadis yang tertutup sempurna.
...
Zahra merasa gugup saat Isabel membuka pintu ruang rawat Samuel. Gadis itu mengikuti Isabel yang masuk kesana. Yang pertama Zahra lihat adalah tubuh Samuel yang terbaring lemah sambil memejamkan mata. Kemudian Zahra menyadari. Disana ada Rosa, ibu Samuel dan Vano.
" Selamat pagi tante, Pak Vano!" Sapa Zahra pada keduanya.
"Pagi!" balas Vano.
Sedang Rosa, hanya menganggukkan kepalanya.
Sepertinya ibu Samuel itu, masih tidak menyukai Zahra. Terlebih Vano menjelaskan alasan Samuel bisa terbaring disana.
Rosa merasa tidak rela, jika putranya bersanding dengan Zahra. Tentunya bukan masalah etika atau pun keadaan sosial. Karena Zahra adalah wanita mandiri yang berstatus sosial tinggi dengan warisan peninggalan orang tuanya. Apalagi, karya-karya Zahra pun berpenghasilan sangat tinggi. Ditambah Zahra memiliki kakak laki-laki dan orang tua angkat yang begitu terpandang. Etika? siapa pun bisa melihat, jika Zahra merupakan malaikat yang menjelma menjadi penduduk bumi. Tapi, alasan Rosa masih tidak menyetujui hubungan Samuel dan Zahra. Tentunya karena perkara 'keyakinan'. Yang hingga saat ini pun masih menjadi jarak di antara Samuel dan Zahra.
__ADS_1
Samuel yang sejatinya tidak tidur begitu lelap. Mendengar suara sang dambaan hatinya.
Pria itu tidak menyangka, jika Zahra akan datang menjenguknya.
Saat ini Samuel menjadi bingung. Haruskah ia menyapa Zahra dalam keadaan memalukan seperti itu atau berpura-pura tidur saja.
Samuel tidak percaya diri, bertemu dengan Zahra dalam keadaannya yang demikian. Lemah!
Huh, belum tahu saja Samuel ini. Kalau Zahra bahkan sudah melihat sisi paling lemahnya dari rekaman yang Vano kirim.
Melihat suasana yang begitu canggung di depannya. Isabel angkat suara.
"Aku bisa melihatnya dari sini kok." jawab Zahra yang masih berdiri di ambang pintu.
"Ya ellah. Jangan berdiri disitu, nanti kaki kamu pegal. Sini duduk bareng kami." ucap Vano yang disetujui oleh Isabel
Rosa merasa tidak enak juga membiarkan orang yang datang menjenguk anaknya hanya berdiri disana.
__ADS_1
"Sini, duduk di dekat kami." Rosa berdiri, dan menarik tangan Zahra untuk mengajaknya duduk di sofa.
Zahra menurut saja. Matanya sempat melirik Samuel yang terlihat tidur nyenyak.
Hoho, tidak tahu saja. Samuel kini merasa kalut dan bimbang. Apakah dia harus bangun dan menyapa Zahra atau tetap memejamkan matanya.
Sampai akhirnya, Vano membangunkannya.
"Sam! Bangun. Zahra datang nih. Nggak nyesel apa kalau nantinya Zahra pulang sebelum kamu menyapanya?"
Vano mah tahu tuh, kalau Samuel tidak tidur. Tadi, dia sempat menangkap mata pria itu bergerak saat Zahra baru masuk.
'bagaimana bisa dapet? syukur-syukur sudah di datengin. Eh malah pura-pura tidur.' batin Vano.
Dengan perasaan bimbang. Perlahan, Samuel membuka matanya.
"Hai Ra! Kok ada disini?" Tanya Samuel sambil tersenyum canggung.
__ADS_1
"Eh, mau shopping! Pake acara nanya. Tentu saja jenguk pangeran kodok yang lagi sakit lah."
Bukan Zahra, namun itu suara Vano.