Islam Teman Sepiku

Islam Teman Sepiku
Bab 62


__ADS_3

Melati mencoba menasehati dirinya sendiri dan bersikap tenang.


Namun, saat tangan kekar Zidan melingkar di badannya. Oh, jantungnya tetap tidak bisa di ajak kompromi.


"Apa kamu mendengarnya sayang? jantungku berkali-kali lipat diletakkannya?


Bukan Melati, namun Zidan yang berkata demikian.


"Aku mencoba membujuknya, tapi dia tidak mendengarkan." lanjut Zidan.


Seakan tidak memberi waktu sang istri bicara, Dia kembali berkata "Hanya denganmu. Hanya dengan kamu, jantung ini bekerja melebihi batasnya. I love you. Aku sungguh mencintaimu karena-NYA."


Melati yang mendengarkan penuturan sang suami, merasa melayang. Dia sedikit rileks saat ini. Kiranya hanya dia yang merasa gugup dan degdegan. Ternyata suaminya pun demikian.


Bukankah begitulah cinta? Membuat dua insan merasakan detakkan yang luar biasa.


Entah keberanian dari mana. Perlahan, Melati berdiri dan menggenggam jemari sang suami dengan satu tangannya. Sedangkan tangan lainnya, terulur ke atas dan mengusap lembut pipi sang suami.


"Aku pun demikian. Aku sangat-sangat mencintai Mas Zidan. Semoga cinta kita selalu dalam ridho-NYA." ucap Melati. Kali ini dia lebih berani dan menatap lekat wajah yang ia dambahkan.

__ADS_1


"Aamiin!"


Zidan mengaminkan. Dan sedetik kemudian, tubuh sang istri tidak lagi berpijak pada lantai disana. Zidan menggendong Melati, dan meletakkannya di atas tempat tidur.


Angin malam dan dinginnya suhu AC di kamar itu. Tak lantas bisa membuat dua insan tersebut merasa kedinginan. Keduanya justru saling memberi kehangatan satu sama lain.


Dengan di saksikan bulan dan bintang, yang mengintip dari celah jendela. Keduanya memenuhi kewajiban masing-masing.


...


Zahra mengemudikan mobilnya menuju rumah sang kakak dan sahabat yang kini berstatus iparnya.


"Assalamualaikum pengantin baruku." Goda Zahra mengerlingkan matanya saat Melati membukakan pintu untuknya.


Jika yang menggodanya hanya seorang sahabat. Melati tidak akan malu begini. Tetapi, ia melihat adik ipar yang kini menggodanya. Dan langsung saja, wajah Melati dibuat memerah.


"Wah, apa ini? Sahabatku kini mempunyai sisi pemalu kah?" Zahra kembali menggoda Melati karena melihat wajah salah tingkah sang sahabat.


"Zahra! Jangan menggoda kakak iparmu begitu. Lihat, wajahnya kembali memerah." Tegur Zidan menghampiri dua wanita yang masih betah di depan pintu tersebut.

__ADS_1


"Kembali memerah? Apa sebelumnya wajahnya merah juga kak? karena apa?"


Tapi lihatlah Zahra. Entah polos atau sengaja lanjut menggoda sang sahabat sekaligus iparnya itu. Dia malah mempertanyakan hal yang membuat Melati berlari kecil ke dalam rumah.


"Ada apa dengannya?" Gumam Zahra, membuat Zidan geleng-geleng.


"Kamu terlalu jauh bertanya. Lihat, kakak iparmu itu pasti merasa malu." kata Zidan sambil menyusul sang istri yang kini duduk di ruang tamu.


"Padahal aku hanya bertanya. Malu kenapa? Oh tidak! Apa aku tadi mempertanyakan hal pribadi mereka?" Zahra refleks menutup mulutnya sendiri setelah menyadari suatu hal.


"Ekhmm, sudah siang. Berangkat yuk!"


Kini Zahra yang merasa malu, berhadapan dengan sang kakak dan sahabatnya itu.


"Ayo sayang!" Zidan refleks menarik tangan Melati untuk berdiri dan disusul memeluk pinggangnya.


"Astaghfirullah!" Tanpa sadar Zahra berucap. Dia yang belum terbiasa melihat sang kakak dan sahabat seintens demikian. Merasa kaget.


Zidan melihat adiknya dengan bingung. Sedang Melati yang peka langsung mengatur jarak dari sang suami. Barulah, Zidan juga mengerti.

__ADS_1


__ADS_2