
Laras menyelimuti Sultan lalu mencium keningnya. Dia begitu menyayangi putranya itu. Meski bukan dia yang melahirkannya, tapi dia menganggap Sultan terlahir dari rahimnya sendiri.
Laras teringat saat dia dan suaminya sedang piknik kecil di tepi sungai. Dia melihat tubuh anak kecil yang terseret air.
Laras dan suaminya menyelamatkan anak itu, dan membawanya pulang. Dia tidak melaporkannya pada polisi, karena dia enggan melepas anak yang sangat tampan dan imut yang telah menyentuh hati keibuannya.
Laras dan suaminya belum ditakdirkan memiliki anak kandung. Tapi mungkin Allah menakdirkannya menjadi ibu dari anak itu.
Laras melihat Sultan sambil menghapus air matanya. Iya, anak itu kini tumbuh dewasa. Dia adalah Sultan.
...
Samuel juga mengalami hal yang tidak jauh beda dengan Sultan. Tubuhnya keringat dingin. Lagi-lagi dia memimpikan gadis kecil itu, bahkan dia melihat gadis kecil itu mendatanginya dan mengutuknya karena telah merenggut nyawa keluarganya.
"Aaaaahhhh..."
Samuel berteriak dan terbangun dari mimpi buruknya.
"Kamu bermimpi lagi yah sayang?"
Rosa berlari ke kamar Samuel. Sudah jadi kebiasaan, hampir setiap malam dia terbangun karena teriakan Samuel.
__ADS_1
"Kenapa waktu itu kita meninggalkan mereka Mah? kenapa?"
Samuel sangat tertekan karena rasa bersalahnya itu. Dia pernah mencoba mencari jejak gadis kecil itu saat usia 15 tahun. Tapi kejadian bertahun lalu tidak mudah digali. Dia bertanya pada warga sekitar kejadian, tapi tidak ada yang tahu dimana gadis itu sekarang. Orang-orang hanya mengatakan, kalau kedua orang tua gadis malang itu meninggal dunia, dan saudara laki-lakinya hilang terbawa arus sungai.
Bahkan, sampai sekarang Samuel masih mencari jejak gadis kecil itu. Tapi hasilnya nihil.
"Maafkan Papa, seharusnya waktu itu Papa bertanggung jawab dan tidak melarikan diri seperti pengecut."
Hamdan datang dan meminta maaf pada putranya yang harus menanggung akibat dari perbuatannya selama 13 tahun ini.
"Bagaimanapun kita harus mencari gadis itu. Hanya dengan mendapatkan pengampunannya aku baru bisa lepas dari rasa bersalah dan mimpi buruk ini."
"Papa akan fokus mencarinya sekarang. Papa akan bicara dengan teman papa yang sekitar tahun itu bertugas disana. Semoga dia memiliki data gadis itu yang dapat membantu kita."
Hamdan seorang polisi, dia berencana menghubungi temannya yaitu Malik yang dia perkirakan sudah bertugas disana saat kejadian kecelakaan itu.
...
"Kenapa kamu tiba-tiba ingin mencari tahu kasus kecelakaan tunggal itu?"
Tanya Malik pada Hamdan saat mereka bertemu di sebuah kafe.
__ADS_1
Iya, polisi mengira kecelakaan itu adalah kecelakaan tunggal. Karena tidak ditemukan jejak dari kendaraan lain dan tidak ada saksi mata dan kamera pengawas yang terpasang disana.
"Aku hanya merasa kasus itu belum tuntas. Sebab yang aku dengar putra dari korban menghilang dan sampai sekarang belum ditemukan."
"Kasus itu sudah sangat lama, jadi akan sulit untuk mendapatkan filenya. Tapi aku akan berusaha mencarinya. Aku juga merasa bersimpati pada gadis kecil yang malang itu. Dia menangis memeluk jasad orang tuanya yang berlumur darah. Bahkan gadis itu tidak mau melepas jasad orang tuanya saat akan di makamkan."
Perkataan Malik seperti angin segar bagi Hamdan.
"Kamu hadir di pemakaman korban?"
Tanya Hamdan begitu antusias. Itu sebuah jejak besar baginya.
"Tidak, kebetulan saat itu aku dikirim keluar kota. Tapi temanku menghadiri pemakaman itu."
"Tolong aku Lik! Tanyakan pada temanmu itu dimana letak makam itu. Aku akan sangat berterima kasih padamu."
Hamdan menggenggam tangan Malik, membuat Malik heran kenapa temannya ini segitu ingin mengetahui kasus itu.
"Oke, aku akan membantumu. Lagian itu juga masih tugasku sebagai seorang polisi."
Kata Malik tanpa menaruh curiga jika temannya itulah penyebab kecelakaan 13 tahun silam.
__ADS_1