
Zahra merasa kikuk mau menjawab apa. Berbohong tidak mungkin bagi seorang Zahra. Tetapi, mau mengatakan kalau sebenarnya seharian ia stay di rumah sakit, apa itu tidak terdengar aneh nantinya di telinga Vano?
"Emm iya. Aku disini. Bagaimana keadaan Samuel?"
Akhirnya Zahra mengambil jalan tengah. Menjawab tanpa mengatakan yang sebenarnya secara detail, tetapi tidak juga berbohong. Dia berkata seadanya, sesuai pertanyaan Vano.
"Dia sudah mendingan kok. Tapi belum boleh pulang saja. Masih menunggu dia benar-benar vit."
Vano tidak menjelaskan keadaan Samuel yang sesungguhnya pada gadis berbalut pakaian syar'i di depannya. Dia tidak mau, Zahra merasa khawatir, terlebih Vano takut jika Zahra malah merasa bersalah dan berpikir dialah yang bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada Samuel.
...
Zahra merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Pikirannya kalut. Mencoba memejamkan mata, namun tak bisa juga.
Pikiran gadis itu berkelana jauh, hingga dia tersadar sesuatu.
"Ya Allah! Ternyata sungguh tidak semudah yang kami harapkan. Bukan hanya perkara 'keyakinan' yang tak sama. Namun, juga restu pun terlihat sulit kami dapatkan."
Zahra terbayang wajah tak bersahabat Rosa. Terlihat jelas, demi apa pun. Wanita paruh baya itu tidaklah menyukainya. Dan itu menjadi PR tambahan bagi Zahra jika ingin bersatu dengan Samuel.
...
Ciiiiittt...
Decit ban mobil yang remnya Vano injak tiba-tiba itu sedikit membuat telinga linu.
Pria itu buru-buru keluar dari mobil dan melihat orang yang tersungkur karena menghindari mobilnya yang hampir menyerempet tubuh orang itu.
"Sor_sorry! Apa kamu baik-baik saja?" tanya Vano panik.
Tempat itu sedikit sepi, makanya ia yang merasa begitu lelah sedikit menancap pedal gas agar bisa lebih cepat sampai di apartemen dan beristirahat. Tapi, entah dari mana. Seorang wanita tiba-tiba sudah berada di depan mobilnya dan hampir saja ia menabraknya.
__ADS_1
"A_aku tidak apa-apa," jawab wanita itu, lalu berusaha berdiri dengan dibantu uluran tangan Vano.
"Syanti?!" seru Vano saat wanita itu menghadap padanya.
"Tuan Vano!?"
"Ma_maaf! Aku sungguh menyesal. Aku tidak melihatmu tadi," sesal Vano penuh rasa tidak enak hati.
"Tidak masalah, aku ba ... aouch!"
Syanti yang berusaha berjalan menjerit kesakitan sambil memegang kakinya dengan posisi sedikit menunduk.
"Sepertinya kamu terluka. Kita ke rumah sakit ok?!"
Tanpa menunggu respon Syanti. Vona menuntun gadis itu ke dalam mobilnya.
'Yes! Langkah pertama berhasil.' batin Syanti dengan senyum yang ia sembunyikan.
...
Kata Dokter, kakinya hanya lecet sedikit. Tapi mungkin karena terkejut dan lelah, gadis itu kini terlelap.
Derrrtt...
Telpon Vano yang berada di saku celananya bergetar. Dia melihat nama yang tertera disana dan membuatnya cemas.
My Honey
'Isabel!? Aku harus bilang apa? Dia bisa marah kalau tahu aku sedang menemani Syanti.' batin Vano bimbang.
Vano masih ingat, betapa kesalnya kekasihnya saat cemburu pada Syanti yang malam itu hanya berbicara padanya. Itu pun saat mereka belum resmi pacaran. Bagaimana reaksi Isabel jika tahu ia sekarang menemani Syanti di rumah sakit? akankah Isabel mengerti?
__ADS_1
"Halo honey! Kamu belum tidur?"
Dengan sedikit bimbang, Vano mengangkat panggilan Isabel. Berharap kekasihnya itu tidak menanyakan posisinya atau aktifitasnya. Agar dia tidaklah berbohong. Karena kalau Isabel bertanya, rasanya dia ragu untuk jujur. Isabel tipe wanita ngambekan dan sedikit keras kepala. Egois pun kadang. Vano sangat mengenal sifat kekasihnya tersebut.
"Ini baru mau tidur. Tapi aku nelpon kamu dulu. Biasanya kamu duluan yang hubungi aku. Tapi sekarang tidak."
Suara Isabel terdengar sedikit merajuk. Bisa Vano bayangkan bagaimana reaksi Isabel jika mengetahui alasan Vano sejak tadi sengaja tidak menghubunginya. Yah, Vano tidak mungkin melupakan kekasihnya itu. Tapi pria itu takut jika ia menghubungi Isabel. Maka gadis itu akan bertanya ini itu yang pada akhirnya Vano tidak bisa menutupi posisinya saat ini.
"Maaf Honey! Aku seharian stay di rumah sakit menemani Sam. Aku baru beberapa saat yang lalu pamit dari sana. Rencananya, sampai di apartemen barulah aku menghubungimu. Tapi kamu menelpon ku duluan honey."
Vano tidak berbohong kan?
Hehe cuma menutupi!
"Oh, ya sudah. Aku hanya merindukan suara kamu dan kamu terlambat menelponku, jadinya aku dengan berat hati menelpon kamu."
"Jadi kamu keberatan menelpon aku honey?" goda Vano.
"Iya! pulsaku bisa habis." canda Isabel, menahan senyumnya.
"Aku akan menggantikannya berkali lipat. Bahkan kamu tidak perlu mengisi pulsa di handphone kamu. Aku pastikan sebelum habis, aku akan selalu mengisinya kembali."
"Kamu merayuku dengan pulsa?" tanya Isabel.
"Hehe tidak mungkin honey! Kamu terlalu mahal untuk bisa aku rayu dengan pulsa saja. Bahkan dengan memberi mu pulau pun itu masih kurang jika harus di bandingkan dengan dirimu. Kamu berharga. Dan tidak bisa dihargai dengan apapun."
Rayuan panjang lebar Vano, membuat wajah Isabel bersemu hingga tak dapat berucap.
"Tidurlah honey! Aku mencintaimu," ucap Vano kemudian.
"Aku juga mencintaimu." balas Isabel.
__ADS_1