Islam Teman Sepiku

Islam Teman Sepiku
Bab 111


__ADS_3

Arsyad kembali membuka matanya saat merasakan Zahra telah berbaring di sampingnya.


"Aku mencintaimu!" ucapnya lirih.


Zahra menatap Arsyad dengan rasa tak enak hati. Istri macam apa dia? Disentuh suaminya tidak mau. Lalu, dia juga tak mampu membalas cinta suaminya, karena dia memang tidak mencintai Arsyad.


"Maafkan aku!" Zahra kembali meneteskan air mata.


"Mungkin aku tidak begitu mengerti diri dan masa lalu mu. Tapi, aku akan berusaha memahaminya. Aku pun tahu, saat ini kamu sedang berjuang keras untuk bangkit dari sana. Dan, aku akan dengan sabar menantimu. Sekarang tidurlah. Jangan pikirkan apapun lagi."


...


Zahra bangun saat adzan subuh berkumandang. Dia duduk, kemudian menatap sang suami yang masih tidur di sampingnya. Wajah tampan dan damai Arsyad membuat hatinya teduh. Seulas senyum terbit di bibir gadis itu. Entah dia sadari atau tidak.


"Mas! Sudah adzan," ucap Zahra pelan.


"Mas! Sudah subuh." ucapnya lagi sambil menepuk pelan lengan Arsyad.


Arsyad menggeliat, lalu membuka matanya. Wajah cantik sang istri yang menyambutnya itu membuat Arsyad tersenyum bahagia.

__ADS_1


"Sudah adzan yah! Maaf, mas memang kadang susah bangunnya kalau waktu subuh. Biasanya selalu pasang alarm yang keras. Tapi, semalam lupa," ucap Arsyad lalu ikut duduk di samping Zahra dan mencium kening istrinya itu.


Zahra sedikit terkejut. Namun, mencoba tenang.


Keduanya lalu mengambil wudhu dan sholat bersama. Setelahnya, Zahra hendak turun ke dapur untuk memasak.


"Mau kemana?" tanya Arsyad saat melihat Zahra membuka pintu kamar.


"Mau ke dapur mas. Nyiapin sarapan," sahut Zahra.


"Tidak perlu. Itu tugas Bi Camelia," ujar Arsyad.


"Baiklah, kalau begitu mas juga ikut ke dapur."


Arsyad menggandeng tangan Zahra keluar kamar dan memasuki lift yang berada di dekat kamar tersebut.


"Ngapain mas ikut ke dapur? Kan mas harus siap-siap ke kantor." tanya Zahra saat keduanya telah sampai di lantai bawah.


"Mas masih cuti. Kan besok juga, kita mau berangkat ke Belanda. Setelahnya kita akan ... "

__ADS_1


Arsyad tidak menyelesaikan ucapannya. Dia sudah merencanakan bulan madunya dengan sang istri setelah urusannya di Belanda selesai. Tapi, mengingat semalam, Arsyad menjadi bingung. Apa masih perlu melakukan bulan madu atau membatalkannya. Dia takut Zahra tidak suka.


"Kita akan pergi mas!" ucap Zahra, yang memahami kebingungan sang suami.


Arsyad sontak menatap Zahra, "tapi ... "


"Aku tidak masalah mas. Hanya saja, untuk emm ... maaf mas. Jujur, aku belum siap. Tapi, aku juga tidak akan me_meno_lak ka_lau mas mau."


Zahra tergagap saat mengatakannya.


"Terima kasih. Kita akan pergi, tapi mas tetap akan menepati ucapan mas semalam. Mas hanya akan melakukannya jika kamu dengan sendirinya datang pada mas dalam keadaan siap," ucap Arsyad sambil mengusap kepala Zahra.


"Aku yang berterima kasih mas! Mas begitu pengertian sama aku."


Zahra, sungguh merasa tak enak hati pada Arsyad. Suami mana yang akan sebaik dan sesabar suaminya itu?


Arsyad tersenyum pada Zahra dan menggandengnya melangkah ke dapur.


Di dalam dapur, Bi Camel dibuat senyum-senyum sendiri atas tingkah Arsyad dan Zahra. Pasangan itu membantu Bi Camel membuat sarapan. Namun, sesekali pasangan di sampingnya itu terlihat salah tingkah dan malu-malu, saat tangan keduanya saling sentuh jika mau mengambil bahan masakan.

__ADS_1


__ADS_2