Islam Teman Sepiku

Islam Teman Sepiku
Bab 114


__ADS_3

Untuk sesaat, keduanya tak bersuara. Netra bulat mereka masih setia saling memandang.


"Mas akan sangat bahagia jika mendapatkan hak mas, saat istri cantik mas ini sudah siap dan ikhlas tanpa rasa ragu sedikit pun," ucap Arsyad penuh rasa dan kelembutan. Membuat Zahra merasa sangat terharu. Suaminya itu seakan begitu memahaminya. Meski coba ia sembunyikan. Tapi jujur, Zahra memang belum sesiap dan seiklas itu.


"Jangan pernah menjatuhkan air mata yang begitu berharga ini lagi di hadapanku. Aku tidak akan bisa melihatnya. Aku, hadir untuk membahagiakanmu. Melengkapi harimu. Jadi, jangan buat aku merasa kehadiranku ini tidaklah berharga." ujar Arsyad sambil mengusap pipi mulus Zahra yang dibasahi oleh air mata.


"Terima kasih mas! Aku berjanji, akan berusaha lebih dari sebelumnya untuk bisa menerima mas. Agar aku bisa siap menjadi istri mas yang seutuhnya," ucap Zahra.


Arsyad tersenyum. Dia menarik tubuh sang istri ke dalam dekapan hangatnya. Dia yakin, istrinya itu bukan tidak mau dan tidak bisa menerimanya. Tapi, istrinya hanya sedang dalam proses. Dalam mencoba bangkit dari keterpurukan masa lalunya.


Kali ini, Zahra menikmati dekapan hangat sang suami. Rasanya begitu damai dan menenangkan. Nyaman! sangat nyaman.


...


Dua hari kemudian. Urusan pekerjaan Arsyad telah selesai. Saatnya dia mempersiapkan honey moon'nya dengan Zahra. Bukan untuk itu. Tapi, sekedar jalan-jalan dan menikmati waktu berdua. Berharap, bisa membuat keduanya semakin dekat.

__ADS_1


"Apa kamu punya ide lain? atau ada tempat yang ingin kamu kunjungi? kita akan kesana," tanya Arsyad, meminta pendapat sang istri.


Keduanya kini duduk di tepi kasur.


"Tidak mas. Aku ikut kemana mas mau pergi saja. Disini juga sebenarnya bagus."


"Disini?"


Arsyad tampak memikirkan ucapan Zahra. Dan sesaat dia mengangguk. "Baik! Aku akan mengajak kamu mengelilingi negara ini. Kamu benar, negara ini juga tidak kalah bagus dari negara lain."


"Tidurlah. Besok pagi kita akan membutuhkan tenaga yang banyak untuk mengelilingi pusat kota ini," ujar Arsyad lalu merebahkan dirinya di atas kasur dan mulai memejamkan matanya.


Namun, sesaat kemudian dia kembali membuka mata. Menyadari sang istri belum juga berbaring di sebelahnya.


"Kenapa?" tanya Arsyad, yang mendapati Zahra masih bersender di tepi headboard sambil menatapnya.

__ADS_1


Apa sejak tadi istrinya itu menatapnya? pikirnya.


Zahra tersenyum, "Aku sangat beruntung menjadi istri pria sebaik dirimu mas. Terima kasih, dan maaf untuk penantian mas yang mungkin akan memakan waktu." ujar Zahra lembut.


Arsyad menarik tubuh Zahra. Membuat istrinya itu baring dengan berbantal dada bidangnya.


"Aku juga merasa begitu beruntung memiliki istri sebaik dan secantik dirimu. Dan, mas akan setia menanti istri mas ini dengan sabar. Sekarang tidurlah. Mas mencintaimu. Assalamualaikum!"


Arsyad memeluk erat tubuh Zahra yang masih setia berbaring di atas dadanya.


"Waalaikumsalam!"


Meski belum bisa membalas pernyataan cinta sang suami. Tapi, malam ini Zahra sudah bisa membalas pelukan Arsyad. Tangan putih gadis itu melingkar indah di badan sang suami yang terlihat memejamkan mata dengan senyum bahagia.


'Maafkan aku mas! Maaf juga Sam! Disaat bersamaan, aku tanpa berniat telah menyakiti kalian,' batin Zahra.

__ADS_1


Batin gadis itu masih bergelayut. Dia ingin menerima Arsyad dan menjadi istri yang sesungguhnya. Tapi, sebagian hati dan pikirannya masih terpenjara pada kenangan sosok mendiang Samuel. Cinta pertamanya!


__ADS_2