
Sore harinya Melati mengemasi barangnya yang ada di rumah Zahra, orang tuanya akan pergi lagi dan dia harus kembali ke rumah karena harus menjaga adiknya.
"Maaf ya, aku tidak bisa menemanimu."
Melati merasa berat meninggalkan Zahra seorang diri.
"Tidak masalah, aku sudah biasa sendiri di rumah ini." Kata Zahra sambil terseyum.
"Hmm, lagian kamu di ajakin tinggal bareng dirumah tidak mau."
Melati berkata sambil cemberut, sudah sering dia mengajak Zahra tinggal di rumahnya agar sahabatnya itu tidak kesepian lagi, tapi Zahra selalu menolak dengan alasan yang sama, jika meski sendiri tapi dia lebih merasa bahagia jika tetap dirumahnya, rumah tempat dia lahir, rumah tempat dia dulu tertawa bersama keluarganya, tempat dia dan kakaknya Zidan sering berlarian, rumah yang penuh kenangan.
Zahra hanya tersenyum melihat Melati.
"Daah, jaga diri baik-baik, kalau butuh teman ngobrol hubungi aku oke."
Melati memeluk Zahra seakan mereka tidak akan berjumpa lagi setelah itu.
...
Zahra yang sedang asyik melanjutkan tulisannya mendengar nada notifikasi pesan masuk dari handphonenya.
"Waalaikumsalam, lagi menulis, maaf kamu siapa?" Balas Zahra pada orang yang mengirimkannya pesan "Assalamualaikum, kamu sedang apa?" namun tidak mengenali nomor baru itu.
Orang yang mengirim pesan itu membaca balasan Zahra, mengetik sambil tersenyum.
"Aku tau kamu lagi menulis balasan pesan dariku, maksud aku saat ini kamu lagi ngapain?" Balas orang itu.
"Iya aku sedang menulis, bukan menulis balasan pesan anda tapi sedang melanjutkan novel" Balas Zahra, entah kenapa dia yang sangat jarang mau meladeni sms dari orang yang tidak dia kenal kini malah membalas pesan itu.
__ADS_1
"Apa kamu seorang penulis?" Tanya orang itu, dia terkejut karena sama sekali tidak tau jika Zahra seorang penulis.
"Iya, aku dikenal orang melalui novelku. Aku kira anda salah satunya, kalau anda tidak mengetahui aku seorang penulis lalu bagaimana anda mendapatkan nomor saya? apa anda salah sambung?" Tanya Zahra bingung, dia sering mendapat pesan dari orang yang tidak dia kenal karena orang itu merupakan penggemarnya, tapi dia bingung sepertinya orang yang dia ajak berkirim pesan itu tidak mengetahui jika dia seorang penulis novel, lalu bagaimana orang itu bisa mengenal Zahra dan mendapatkan nomornya?
"Bolehkah aku mengetahui nama pena dan judul novel kamu?" Orang itu tidak menjawab pertanyaan Zahra, namun meminta nama pena dan judul novel Zahra.
Zahra berpikir, lalu memberikan nama pena dan judul karya-karyanya.
Samuel melihat ada lebih dari sepuluh judul novel yang Zahra kirimkan merasa terkejut. Ini jelas membuktikan jika Zahra merupakan penulis yang sangat terkenal sekarang. Samuel mengingat saat dia menyelamatkan Zahra dari kerumunan hari itu dan mengerti jika mereka pasti penggemar Zahra.
Samuel mencari novel Zahra dan terkejut dengan jumlah pengikut Zahra.
"Islam Cinta Pertamaku."
Samuel menggumamkan judul novel Zahra yang membuatnya tertarik untuk membacanya.
...
"Orang yang aneh." Kata Zahra, lalu melanjutkan tulisannya.
(Bunyi notifikasi kontak masuk di akun novel Zahra)
Zahra melihat ada kontak masuk dari akun misterius yang mengkomen karya pertamanya yang sudah lama tamat.
"Jika cinta pertama kamu adalah islam, lalu siapa cinta tetakhir kamu?" Itu merupakan Samuel yang Zahra tidak ketahui.
Zahra berpikir dan merenung lalu membalasnya "islam, islam cinta pertama dan terakhirku."
"Lalu siapa cinta yang saat ini mengisi hatimu? tidak adakah?" Tanya Samuel yang bingung dengan Zahra, jika cinta pertama dan terakhirnya islam lalu adakah tempat untuknya di hati Zahra?
__ADS_1
Zahra yang membaca pesan itu refleks memikirkan Samuel.
"Seorang hamba Allah, yang mungkin tidak ditakdirkan denganku." Entah kenapa Zahra tertarik menjawab pertanyaan orang yang dia tidak sangka itu adalah Samuel sendiri, mungkin karena dari sekian banyak penggemar yang sering mengirim pesan padanya semua hanya membicarakan kepopuleran Zahra atau novel itu sendiri. Ini orang pertama yang bertanya tentang perasaan Zahra dan isi hatinya yang sebenarnya sangat ingin Zahra curahkan kepada seseorang.
Samuel termenung dengan jawaban Zahra.
"Kenapa kamu bilang begitu?" Tanya Samuel.
"Karena cinta yang menempati hatiku saat ini bertentangan dengan cinta pertama dan terakhirku."
"Bagaimana bisa?"
"Entahlah, mungkin ini ujian Allah untuk menguji seberapa besar cintaku padanya dibandingkan dengan cintaku ke hambanya."
"Lalu kamu lebih mencintai siapa?"
"Tentunya Allah. Tidak ada yang lebih aku cintai dari pada-NYA."
"Dan kamu melepaskan cinta dihatimu?"
"Cinta dihatiku akan selalu ada, hanya tidak bisa bersatu."
"Tidak adakah cara untuk menyatukan cinta kalian?"
"Mungkin ada, tapi itu mustahil." Jawab Zahra sambil menarik nafasnya, dia sedikit legah karena telah mengutarakan sedikit rasa yang selama ini dia tanggung sendiri.
"Apa?" Tanya Samuel, dia sangat ingin tau cara untuknya dan Zahra agar bisa bersatu, baginya asal Zahra mengatakan caranya, tidak ada yang mustahil untuk Samuel lakukan.
Zahra yang sadar jika dia sudah terlalu banyak bicara kepada orang asing merasa tidak boleh terlalu jauh mengatakan isi hatinya lagi.
__ADS_1
Zahra menutup akunnya lalu melanjutkan tulisannya lagi.