Islam Teman Sepiku

Islam Teman Sepiku
Bab 8


__ADS_3

Zahra mengemudikan mobilnya menuju pemakaman umum. Gadis itu memarkir mobilnya kemudian berjalan ke arah sebuah makam.


"Selamat hari jadi pernikahan Mah, Pah." ucapnya sambil mencium dua nisan di depannya secara bergantian.


"Mah, Pah, maafkan Zahra yah. Zahra belum bisa membawa kakak kesini. Doakan Zahra dari sana, semoga Zahra bisa segera menemukan kak Zidan."


Samuel yang melihat Zahra menangis di hadapan makam kedua orang tuanya merasa simpati. Namun, detik berikutnya Samuel tersentak saat melihat mata Zahra.


Entah Samuel sadari atau tidak. Mata itu sama persis dengan mata gadis kecil yang selalu menghantuinya dalam mimpi.


Zahra merasa ada yang mengawasinya. Ia pun berbalik dan terkejut mendapati Samuel berada tidak jauh darinya.


"Maaf, tadi aku tidak sengaja lewat dan melihat mobilmu di pinggir jalan. Jadi aku singgah."


Kata Samuel tanpa ditanya. Lalu, pria itu berjongkok di hadapan makam kedua orang tua Zahra dan mendoakannya dengan cara keyakinannya.


"Kenapa harus singgah?"


Tanya Zahra terdengar sedikit judes. Dia ingin menjaga jarak dengan Samuel karena orang-orang di kampus mulai membicarakan dia dan pria itu.


"Apa salah?" tanya Samuel balik.


"Kurang pantas!"


Jawab Zahra lalu bangkit dan pergi dari sana.

__ADS_1


"Kenapa kurang pantas? Apa karena aku seorang non-muslim? aku dengar islam tidak membedakan seseorang, tapi ternyata itu salah."


Zahra menghentikan langkahnya dan berkata, "aku bukannya mau membedakan kamu. Tapi tolong jaga jarak dariku."


"Tapi kenapa?"


Tanya Samuel, rasanya dia tidak bisa menerima perkataan Zahra begitu saja.


"Seperti yang kamu bilang tadi, karena kamu seorang non-muslim. Dengan pria muslim saja aku selalu menjaga jarak, apalagi kamu. Maaf kalau kamu tersinggung, tapi mungkin kamu sudah mendengar gosip orang-orang di kampus yang sudah salah paham dengan kita."


Zahra mau memasuki mobilnya tapi dihalangi oleh Samuel.


"Mereka tidak salah paham, aku memang menyukaimu."


Deg!


"Maaf, aku harus pulang."


Zahra hendak membuka pintu mobilnya. Tapi Samuel menghentikannya.


"Aku sungguh menyukaimu, aku berkata jujur, sumpah demi Tu..."


Samuel mau bersumpah atas tuhannya tapi menghentikan perkataannya. Dia kembali teringat dengan perbincangan Zahra dan Melati di kampus, kalau Zahra tidak mungkin menyukainya karena mereka berbeda keyakinan.


"Aku akan buktikan kalau aku sungguh menyukaimu meski kamu tidak sudi memandangku."

__ADS_1


Samuel melangkah mundur, mempersilahkan Zahra masuk ke mobilnya.


Zahra dengan perasaan campur aduk meninggalkan Samuel disana.


...


Sedang di sebuah kamar yang begitu mewah. Sultan yang baru selesai sholat Maghrib memegang kepalanya seperti sedang menahan sakit.


"Mah? aakhh..."


Sultan memukul-mukul kepalanya. Sekilas dia melihat sosok orang tua yang sedang tertawa dan gadis kecil yang berlarian seperti sebuah iklan singkat di kepalanya. Kemudian dia berganti melihat mobil hitam menyenggol mobil lain sampai terguling yang rasanya dia seakan berada di dalam mobil yang terguling itu.


"Sayang kamu kenapa?"


Laras, ibu Sultan datang dan memeluk putranya.


"Sakit sekali Mah."


Keluh Sultan, wajahnya sangat pucat dan keringat membasahi tubuhnya.


Laras yang tidak tega melihat putranya kesakitan mengambil jarum suntik dan menyuntikkan obat penenang pada Sultan.


"Maafkan Mama, Sebagai Dokter Mama tidak tahu apa yang harus mama lakukan untuk menghilangkan rasa sakit kamu selain dengan cara ini."


Laras menangis memeluk Sultan yang sudah agak tenang.

__ADS_1


"Jangan menangis Mah, ini sudah sangat membantu aku dari rasa sakit itu."


Sultan menghapus air mata di pipi Laras lalu perlahan ia pun tertidur.


__ADS_2