
Sekitar dua jam perjalanan. Kini, Zahra telah sampai di rumah sang suami. Rumah yang mulai saat ini akan menjadi rumahnya juga.
Arsyad menggandeng tangan Zahra memasuki rumah. Membuat jantung Zahra berdetak cepat. Ah, sepertinya gadis itu belum terbiasa dengan perlakuan sang suami.
Hasan dan Aisyah ikut mengantar. Namun, saat mulai siang, mereka memutuskan pulang ke rumah sendiri.
Kini, tinggallah Zahra dan Arsyad di rumah besar itu. Pelayan rumahnya sudah kembali ke rumah kecil yang Arsyad sediakan yang letaknya di belakang rumah utama tersebut.
Susana menjadi lebih canggung.
"Ayo, ke kamar. Tidak lama lagi waktu dzuhur. Mandi, lalu sholat. Setelah itu istirahatlah." ujar Arsyad memecah keheningan.
Zahra pun mengikuti Arsyad memasuki lift yang menuju ke lantai dua rumah itu. Rumah Arsyad terdiri dari tiga lantai. Lantai ke tiga adalah ruangan yang khusus pria itu gunakan sebagai tempat kerja saat pekerjaan di kantor tidak dapat ia selesaikan.
"Mandi saja, biar aku yang bereskan."
Arsyad mengambil koper yang hendak Zahra tata isinya ke dalam lemari.
"Tidak, biar aku saja. Mas saja yang mandi duluan." sahut Zahra.
"Baiklah. Mas mandi duluan yah. Sebelah kiri lemari itu kosong. Simpan di sana saja."
Saat Arsyad memasuki kamar mandi. Zahra segera menyusun semua pakaiannya ke dalam lemari Arsyad. Lemari dengan empat pintu yang sebelah kirinya mungkin sengaja telah Arsyad sediakan untuknya.
Sekitar sepuluh menit, Arsyad keluar dari kamar mandi.
__ADS_1
"Astagfirullah!" pekik Zahra dan refleks menutup matanya. Membuat Arsyad mengernyitkan alisnya heran.
Namun, sesaat kemudian dia paham.
Arsyad tersenyum dan menghampiri Zahra yang masih enggan membuka matanya.
"Apa suamimu ini terlihat menakutkan? Kenapa kamu tidak mau melihatku?"
Arsyad semakin mendekati Zahra. Membuat aroma tubuhnya tercium jelas oleh indra sang istri.
"Tidak, aku hanya belum terbiasa Mas, maaf." Perlahan, tangan Zahra yang menutup matanya ia turunkan. Takut, suaminya itu tersinggung dengan sikapnya.
"Jadi, apa suamimu ini tidak menakutkan?" tanya Arsyad. Sepertinya pria itu hendak menggoda sang istri.
"Tidak." Zahra menggeleng. membuat Arsyad tersenyum jahil.
"Tidak." lagi, Zahra menggeleng.
"Apa suamimu ini tampan?"
Lah pede bener!
Ragu, Zahra mengangguk.
"Apa tubuh suamimu ini bagus?"
__ADS_1
Pertanyaan Arsyad yang semakin kesini membuat Zahra salah tingkah. Namun, gadis itu tetap mengangguk samar. Membuat Arsyad tersenyum puas. Pria itu tiba-tiba meraih tubuh Zahra dam memeluknya sejenak.
"Mandilah, baru bersiap untuk sholat." ucap Arsyad lembut.
Untung lagi mau sholat. Kalau tidak, sudah minta jatah siang hari bolong tuh Arsyad. Sikap istrinya yang malu-malu itu membuatnya gemas dan ingin segera meminta haknya.
...
Sore hari, Arsyad mengajak Zahra duduk santai di halaman rumah. Di bawah sebuah gazebo, mereka menikmati nuansa sore yang tak lama lagi berganti senja.
"Silahkan Tuan, Nyonya!"
Seorang pelayan menghampiri mereka dengan dua cangkir teh dan sepiring cemilan.
"Terima kasih!" ucap Zahra ramah.
"Sama-sama Nyonya. Saya permisi dulu Tuan, Nyonya."
Pamit pelayan, undur diri.
"Ayo, minum! Teh buatan Bi Camelia sangat enak. Cobain." ucap Arsyad.
Zahra meraih secangkir teh buatan Bi Camelia dan menyesapnya perlahan.
"Bagaimana?" tanya Arsyad.
__ADS_1
"Enak." jawab Zahra jujur. Namun, begitu seadanya. Dia belum terbiasa dengan Arsyad. Entah kapan dia baru bisa terbiasa dengan pria yang kini berstatus suami baginya itu.