Islam Teman Sepiku

Islam Teman Sepiku
Bab 34


__ADS_3

Melati teringat sesuatu dan memikirkannya dengan menghubungkan kecelakaan itu dengan kecelakaan yang pernah Zahra alami.


"Iya Waalaikumsalam."


Melati baru akan mengatakan pada Malik jika dia juga memiliki teman yang pernah mengalami kasus serupa, tapi tiba-tiba Sultan menelponnya.


Melihat ponakannya sedang sibuk dengan telponnya, Malik pun keluar dan berangkat ke kantor.


"Sebentar lagi aku akan menjemputmu."


Ucap Sultan dari seberang telpon.


"Oh iya, aku tunggu."


Meski Melati saat ini sedang di rumah Malik, tapi rumahnya tidak jauh dari sana. Saat Sultan datang, dia pasti sudah di rumah.


...


Samuel yang berada di kantor, mondar-mandir dengan terus memegang ponselnya.


"Apa aku hubungi saja?" Batin Samuel lalu dia pun memukul kepalanya.


"Bodoh, handphonenya bahkan masih ada padaku."


Ucap Samuel yang tadinya bimbang ingin menghubungi Zahra, kemudian teringat jika handphone Zahra masih ada padanya.

__ADS_1


"Apa aku ke rumahnya?" Pikir Samuel.


Samuel pun bergegas keluar dari ruangannya, meski resikonya dapat pukulan dari Sultan lagi, tapi dia harus menemui Zahra dan meminta maaf.


"Mau kemana?" Tanya Isabel yang melihat Samuel sepertinya akan keluar dari kantor.


"Bukan urusan kamu."


Samuel sama sekali tidak menghiraukan Isabel dan begitu saja melewatinya.


Isabel berlari memasuki ruang kerjanya.


"Huhu..."


Vano tau, hanya satu yang bisa membuat gadis itu menangis saat di perusahaan. Samuel.


"Cup cup, sudahlah jangan menangis lagi."


Vano menepuk pelan punggung Isabel untuk menenangkannya.


Isabel mengangkat wajahnya dan menatap Vano lalu berkata sambil terisak.


"Samuel jahat, meski dia mengetahui perasaanku tetapi dia sama sekali tidak menjaga perasaanku huhu."


Vano yang lagi-lagi harus melihat gadis yang dia cintai menangis karena sepupunya sendiri, merasa dilema dan akhirnya memutuskan untuk menyadarkan Isabel jika Samuel tidak mencintainya dan mungkin tidak akan pernah mencintainya karena hati Samuel sudah dimiliki oleh Zahra. Meski itu akan menyakiti Isabel, tapi mungkin dengan menyadarkan Isabel itu akan lebih baik, dari pada gadis itu terus berharap pada hal yang tak mungkin.

__ADS_1


"Dengarkan aku, berhentilah menangisi sesuatu yang tak pantas kamu tangisi."


Ucap Vano yang membuat Isabel bingung.


"Apa maksud kamu?"


Tanya Isabel sambil terus menjatuhkan bening-bening air matanya.


Vano menghapus air mata di pipi gadis itu dengan penuh perhatian lalu lanjut berkata "Dengar, Samuel tidak mencintai kamu, dia mencintai Zahra dan aku bisa melihat dengan jelas jika Samuel sangat serius dengan gadis itu. Jadi berhentilah berharap karena..."


"Tidak, meski saat ini Samuel belum mencintai aku tapi suatu saat dia pasti akan membalas cintaku. Dan tentang gadis muslim itu, sampai kapan pun merekalah yang tidak akan bersatu karena tante Rosa tidak akan mengizinkannya." Teriak Isabel memotong perkataan Vano.


"Tidak Bel, kamu tidak mengerti. Samuel bukan orang yang mudah menyerah terlebih hanya karena tante Rosa tidak mengizinkan."


Vano masih berusaha untuk menasehati Isabel dengan lembut.


"Tidak, pokoknya Samuel hanya akan menjadi milikku. Jika tante Rosa tidak bisa memisahkan dia dengan gadis muslim itu, maka aku sendiri yang akan memisahkan mereka."


Setelah mengatakan itu, Isabel mengambil tasnya dan berlari keluar dari sana.


"Bel.. Isabel...?"


Vano mengejar Isabel tapi saat dia sampai di depan perusahaan, Isabel sudah memasuki mobilnya dan melaju pergi.


"Apa yang membuatmu begitu menggilai Samuel? tidakkah kamu melihat hatiku Bel? aku yang mencintaimu..." Gumam Vano sambil melihat arah hilangnya mobil Isabel dari pandangannya.

__ADS_1


__ADS_2