Islam Teman Sepiku

Islam Teman Sepiku
Bab 50


__ADS_3

"Me mereka, muslim?"


Suara Rosa bergetar karena terkejut. Dia sama sekali tidak berpikir jika keluarga itu adalah muslim. Bahkan dia menjadi semakin gemetar saat Hamdan memandangnya, seakan suaminya itu memperingatinya dengan tegas 'ingat janjimu yang ingin menjodohkan gadis kecil itu dengan putra kita!'


"Iya, mereka seorang muslim."


Jawaban orang suruhannya itu membuat Rosa semakin gugup sambil menelan ludahnya. Terlebih saat ini dari sisi lain area makam itu, seorang gadis dengan pakaian syar'i lengkap dengan niqabnya kini berjalan bersama seorang pria menghampiri makam yang sejak tadi mereka awasi.


"Kamu mau kemana?" Tanya Rosa spontan saat Samuel ingin ke area makam muslim itu.


"Tentu saja ke makam itu, dan bukan hanya Sam, tapi kita juga harus kesana."


Bukan Samuel yang menjawabnya, melainkan Hamdan, suaminya.


Hamdan sangat tau yang istrinya pikirkan saat ini.


Melihat Samuel melangkah duluan, Hamdan berkata pelan pada Rosa.


"Kamu sendiri yang berjanji, dan itu pun pada dirimu sendiri. Jadi, jika Sam setuju maka kamu tidak boleh keberatan."


Setelah mengatakan itu, Hamdan juga mempercepat langkahnya. Sudah belasan tahun dia menyimpan rasa bersalahnya, dan saat ini dia akan dengan berani menghadapi perbuatannya tiga belas tahun silam.

__ADS_1


Rosa seperti tidak dapat melangkah lagi, saat suara Samuel bergema di telinganya.


"Zahra!" "Zahra!" "Zahra!"


Samuel begitu terkejut saat melihat, Zahra dan Sultan duduk di hadapan kedua makam yang hendak dia datangi.


Dari jauh dia sudah merasa familiar dengan Zahra. Terlebih pakaian yang Zahra gunakan masih pakaian tadi saat di kantor.


Namun, Samuel berusaha menepis pikirannya karena mengira dirinya hanya sedang memikirkan Zahra saja.


Akan tetapi, saat sampai disana, betapa terkejutnya Samuel saat melihat jelas orang itu beneran Zahra, bahkan bersama Sultan, kakaknya.


"Samuel? eh kok ada disini?"


"Om, tante!"


Zahra mengatupkan kedua telapak tangannya memberi salam pada Hamdan dan Rosa.


"Nak Zahra, Nak Sultan! Kami... Kami kesini..."


Hamdan tidak dapat meneruskan perkataannya.

__ADS_1


Dia mengatupkan tangannya dan berlutut di hadapan kakak beradik yang tampak bingung dan terkejut itu.


"Paman..." Zahra refleks mundur saat Hamdan hendak sujud di hadapan telapak kakinya. Sedang Sultan langsung menuntun pria paruh baya itu berdiri.


"Apa yang paman lakukan?" Tanya Sultan bingung campur enggan, karena seorang orang tua yang seumuran ayahnya kini kekeh berlutut di hadapannya sambil menangis.


"Tidak, biarkan paman berlutut dan menyembah di hadapan kalian. Paman bahkan pantas tiada di tangan kalian. Tolong, maafkan kami, maafkan aku." Ucap Hamdan tanpa mau berdiri meski sekuat tenaga Sultan sudah menuntunnya berdiri.


Sultan dan Zahra semakin bingung saat ini.


"Kami tidak akan mau maafin paman, kecuali paman berdiri sekarang juga."


Zahra yang pintar, menangkap poin penting yang Hamdan ucapkan.


'Maaf!' Pria itu meminta maaf. Meski bingung tapi Zahra menggunakan hal itu untuk membuat pria itu berhenti berlutut disana.


Dan benar saja, Hamdan seketika langsung berdiri.


"Tolong, maafkan kami. Terutama aku. Mungkin kalian bingung, tapi setelah mengetahui ini maka kalian pasti akan sangat marah dan mungkin akan mengutuki kami. Tapi paman sungguh minta maaf. Saat itu, paman dan tante terlalu takut jika Samuel yang kecil harus hidup tanpa dampingan paman. Jadi..."


"Tunggu, apa yang paman bicarakan? Kami tidak paham."

__ADS_1


Sultan memotong perkataan Hamdan karena merasa bingung dengan arah bicara pria paruh baya itu.


__ADS_2