
"Jangan berkata begitu. Justru pemikiran kamu inilah masalah yang sebenarnya. Kita akan bicarakan semuanya nanti. Sekarang istirahatlah, agar kamu bisa cepat pulih. Aku menunggumu."
"Aku sudah sembuh." ucap Samuel dan hendak melepas paksa infusnya.
"Jangan!" teriak Zahra panik. Itu suara Zahra yang paling nyaring yang pernah Samuel dengar.
"Jangan melepasnya. Kamu mau tante Rosa memarahiku? Istirahatlah. Aku menunggu salah satu dari mereka kembali. Lalu aku akan kembali ke kantor." Zahra kembali duduk, setelah tadi refleks berdiri.
"Tidak bisakah kamu disini saja?" tanya Samuel penuh harap.
"Tidak bisa! Masih ada keluarga dan kerabatmu yang bisa menemanimu. Aku kurang pantas stay disini." jawab Zahra membuat Samuel bungkam.
Mana berani dia memaksakan keinginannya? Takut banget dia kalau Zahra malah berubah pikiran karena sifat pemaksa nya.
Lagian Samuel sadar. Bagi seorang Zahra, pantang berlama-lama berada satu ruangan dengan pria yang bukan mahramnya. Ini saja, sudah beruntung sekali karena Zahra mau menemaninya saat yang lain keluar.
" Ok! Aku istirahat. Kalau mau pulang bangunin aku." pinta Samuel dan kemudian memejamkan matanya saat Zahra telah mengangguk setuju.
Rasanya, kepalanya sangat sakit saat ini. Dadanya juga sesak. Tapi, dia tidak mungkin mengatakannya pada Zahra. Dia tidak mau gadis itu kepikiran.
Zahra melirik sekilas ke arah Samuel. Tapi dia sangat terkejut saat melihat wajah pria itu penuh keringat.
__ADS_1
Cepat, Zahra berdiri dan mendekat ke arah pria yang ternyata berusaha sebisa mungkin menahan rasa sakitnya yang entah kenapa kian menjadi.
"Sam? Ya Allah Sam?"
Zahra begitu panik, dia menekan tombol yang berada disisi Samuel berulang kali. Agar Dokter atau perawat segera datang.
"Tidak, jangan cemas. Aku tidak kenapa-kenapa."
Di tengah rasa sakitnya. Samuel masih sempat tersenyum dan berusaha menenangkan Zahra.
Zahra tidak bisa berucap. Dia malah berlari keluar ruangan untuk melihat apakah sudah ada Dokter yang datang.
Dan syukurnya, seorang Dokter dan dua orang perawat telah berjalan cepat ke arahnya.
...
Rosa, Vano dan Isabel datang bersama. Ketiganya bingung saat melihat Zahra berjalan mondar-mandir di depan pintu ruangan Samuel yang tertutup.
"Ada apa?" tanya Rosa mewakili semuanya.
"Sam_Samuel, dia..." Zahra bingung bagaimana menjelaskannya pada semua.
__ADS_1
Dia sendiri juga belum tahu apa yang terjadi pada Samuel. Dia hanya yakin, jika pria itu kini kesakitan.
Selang beberapa saat, Dokter keluar dari ruang rawat Samuel dan di susul oleh suster yang tadi membantunya.
"Apa yang terjadi Dok? Putraku baik-baik saja kan? Aku hanya meninggalkannya beberapa menit dan tadi dia baik-baik saja."
Rosa mencecar Dokter dengan pertanyaannya.
"Sepertinya kita harus melakukan pemeriksaan lebih detail lagi. Semoga kekhawatiran kami tidak terbukti." ucap Dokter, kemudian pamit undur diri.
"Apa maksud Dokter itu? Sam? Putraku tidak mungkin menderita hal serius kan?"
Entah pada siapa Rosa bertanya. Wanita paruh baya itu terlihat begitu khawatir.
Rosa memasuki ruang rawat sang Putra. Di susul oleh semuanya. Kecuali Zahra, yang hanya mampu mengintip dari celah pintu dengan pikirannya yang entah.
...
Waktu sudah menunjukkan pukul enam malam saat Samuel kembali membuka matanya. Siang tadi, Dokter terpaksa menyuntikkan obat tidur padanya agar tidak kesakitan.
"Zahra? Dimana Zahra?"
__ADS_1
Itu hal pertama yang pria itu tanyakan, saat mendapati Semua orang terdekatnya ada disana termasuk sang ayah. Namun, pria itu tak mendapati orang yang ia cari.