Islam Teman Sepiku

Islam Teman Sepiku
Bab 90


__ADS_3

Samuel mengalihkan pandangannya pada seorang Ustadz yang berdiri di sisinya. Kemudian mengangguk samar.


"Ikuti saya yah ... Asyhadu ..." Ustadz itu menuntun Samuel mengucapkan dua kalimat syahadat. Ternyata, waktu tiga bulan yang dulu Zahra berikan untuknya memperdalam kedua keyakinan itu. Membuat Samuel sungguh meyakini islam. Di tambah waktu empat bulan saat menunggu wisuda Zahra. Samuel menggunakannya untuk semakin mendalami islam. Dan kini, ia sangat yakin dengan pilihan terakhir hidupnya.


Mungkin Zahra tak berjodoh dengannya di dunia ini. Tetapi, dia sangat bersyukur dan bahagia meski ajal terlihat sudah menghampirinya. Karena, dengan mengenal Zahra dia bisa mempelajari islam dan mendapat jalan kebenaran. Dan, semoga ia akan kembali di pertemukan dengan Zahra di surga sana.


Hidayah! Mungkin itu yang Samuel dapat.


"Asyhadu,"


Samuel mengikuti ucapan Ustadz dengan penuh keyakinan. Semua orang yang ada disana hanya bisa menangis dan saling memeluk.


"An laa," lanjut Ustadz.


"An laa,"


"Ilaaha illallahu,"


"Ilaaha illallahu,"


"Wa asyhaduannaa,"Ustadz itu bahkan menangis saat terus menuntun Samuel mengucapkan dua kalimat indah itu. Rasa haru ia rasakan.


"Wa asyhaduannaa," Samuel terus mengikuti ucapan Ustadz tersebut. Dengan melafalkan artinya di dalam hati dengan penuh rasa yakin.

__ADS_1


"Muhammadarrasuulullah."


"Muhammadarrasuulullah."


Samuel tersenyum dengan air mata yang menetes ke pipinya. Bersamaan dengan itu, matanya tertutup.


Samuel, menghembuskan nafas terakhirnya.


"Saaaammmm!"


"Tidak, jangan tutup matamu Sam. Buka, buka matamu. Bangun Sam banguuunnn!"


Rosa begitu histeris. Ia mengguncang jasad Samuel yang terlelap damai. Lihatlah! Senyum terukir di wajah jasad Samuel. Menandakan dirinya ikhlas menemui sang pencipta.


"Beristirahatlah dengan tenang Sam. Tunggu hingga kita berkumpul kembali," ucapnya lirih.


...


Suasana di kediaman Hamdan ramai akan pelayat. Semua terkejut dan sungguh tidak menyangka dengan kepergian Samuel. Sosok pemuda cerdas dan berwibawa tinggi.


Zahra! Jangan tanya dimana dan bagaimana kondisi gadis itu.


Syok! Zahra sangat syok. Ditinggal mati saat pernikahan sudah di depan mata. Siapa yang mampu? Zahra tidak sekuat itu.

__ADS_1


Dan, gadis itu kini terbaring di kamar Samuel yang berada di rumah duka itu.


Yah, gadis malang itu berulangkali pingsan saat melihat jasad Samuel.


Melati menemani Zahra. Dia pun tak kalah sedihnya. Rasanya, baru kemarin ia dibuat terpesona dengan ketampanan sosok pria yang menghampirinya dan bertanya dimana letak toilet.


Masih Melati ingat jelas. Bagaimana ia dengan konyolnya salah menunjuk toilet untuk Samuel waktu di kampus saat itu.


Tanpa bisa ia cegah, mata yang sempat kering itu kembali basah.


"Jangan terlalu larut dalam kesedihan sayang. Ingat, kamu sedang mengandung."


Zidan yang baru masuk untuk melihat keadaan adiknya, memeluk tubuh sang istri.


Perut Melati semakin besar. Usia kandungannya sudah tujuh bulan lebih. Melati mengusap perutnya. Berusaha menahan air matanya.


Zidan pun sangat terpukul dengan kepergian Samuel. Kenapa Tuhan setega itu pada Samuel dan adiknya? Perjuangan cinta Samuel yang tak mudah, kenapa harus kalah oleh maut?


Dan, Zahra! Bagaimana perasaan adiknya itu? Hari yang seharusnya menjadi hari paling bahagia baginya, terganti menjadi hari yang paling menyakitkan.


Bagaimana adiknya akan melanjutkan hidup setelah ini?


Zidan, tak sanggup membayangkannya.

__ADS_1


Sedang di lantai bawah. Rosa, bersandar lemas di bahu sang suami yang sebisa mungkin menguatkan diri dan hati. Hamdan harus kuat. Jika ia lemah, bagaimana dengan istrinya?


__ADS_2