Islam Teman Sepiku

Islam Teman Sepiku
Bab 123


__ADS_3

Aisyah menyambut kedatangan putra dan menantunya dengan riang.


Tidak! Wanita paruh baya itu lebih terlihat menyambut girang sang menantu saja.


Arsyad ia abaikan dan mengajak Zahra ke kebun mininya.


"Masya allah, ini sayuran yang waktu itu Zahra tanam mah?" ujar Zahra saat Aisyah membawanya ke kebun sayuran.


"Iya sayang. Lihat, subur sekali kan!" sahut Aisyah.


"Tomatnya juga sudah berbunga. Lihat disana."


Aisyah kembali mengajak Zahra ke sisi lain kebun tersebut.


Keduanya melewati sore hari disana. Dari menyabut rerumputan hingga menyiram semua tanaman. Bahkan tanpa rasa jijik, keduanya memberi pupuk organik pada tanaman disana.


"Capek yah sayang?" tanya Aisyah saat keduanya mencuci kaki dan tangan di keran yang berada di belakang rumah. Masjid sudah melantunkan rekaman ayat suci. Tak lama lagi adzan berkumandang.

__ADS_1


"Sedikit mah. Tapi, Zahra sangat senang," sahut Zahra.


"Kalau Zahra suka, Zahra boleh sering-sering kesini."


"Insyaa allah mah."


Keduanya masuk ke dalam rumah. Namun, saat sampai di ruang keluarga yang bersebelahan dengan dapur, indra keduanya mencium wangi bumbu masakan.


"Emm, wangi sekali. Tumben jam segini bibi sudah masak," ucap Aisyah sambil melangkah ke dalam dapur. Hendak melihat. Biasanya bibi selalu masak setelah sholat maghrib. Tapi, ini baru mau adzan.


Wanita itu tak menyadari. Sejak masuk rumah, sang menantu menutup hidungnya. Zahra merasa tidak nyaman dengan wangi bumbu dapur yang menyeruak ke segala sudut rumah.


"Hanya kwetiau goreng mah. Kalau ada tambahan menu, nanti bibi yang buat." sahut Arsyad. Dia begitu antusias membuatkan istrinya kwetiau goreng ala dirinya. Berharap istrinya suka. Suka'lah, masa nggak. Dia sudah belajar berulangkali resep tersebut. Masa iya gagal.


Arsyad sedikit percaya diri akan kebolehannya. Dia memang pandai memasak. Namun, kwetiau goreng, baru kali ini ia buat.


"Sayang, mandi dulu yah. Sebentar lagi maghrib. Kwetiau buatan Arsyad juga tak lama lagi mateng. Setelah sholat kita makan malam cepat. Hehe kelihatannya kwetiau gorengnya enak." Aisyah mengajak Zahra keluar dari dapur. Keduanya berpisah di dekat tangga. Kamar Arsyad dan Zahra berada di lantai atas. Sedang Kamar sang mertua di lantai bawah. Rumah tersebut tidak dilengkapi oleh fasilitas lift seperti rumah Arsyad dan Zahra. Dan Aisyah tak ingin kelelahan naik turun tangga. Jadi dia memilih tidur di kamar yang terletak di lantai bawah.

__ADS_1


uwwekk uwwekk


Saat sampai di kamar, Zahra mengeluarkan isi perutnya yang sejak tadi ia tahan.


Wanita itu menyalakan keran air dan membasuh mulut serta wajahnya.


Tubuhnya terasa lemas tak bertenaga. Wajahnya pun memucat.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Aisyah panik, saat Zahra masuk ke ruang sholat keluarga.


"Tidak tahu mah, kepala Zahra pusing," jawab Zahra.


"Kenapa? Kamu sakit sayang?" Arsyad yang baru masuk ke ruang sholat pun terlihat cemas. Wajah istrinya begitu pucat.


"Tidak tahu Mas. Mungkin masuk angin." tutur Zahra karena dirinya pun merasa sangat mual.


"Ya udah, kita sholat trus panggil dokter kesini." Sahut Hasan.

__ADS_1


Keluarga itu jama'ah maghrib bersama. Dengan di imami oleh Hasan. Namun, Kekhusyu'an mereka sedikit terganggu sebab kepikiran kondisi Zahra.


__ADS_2