Islam Teman Sepiku

Islam Teman Sepiku
Bab 31


__ADS_3

"Aku mohon kak, hentikan. Jangan perpanjang masalah ini." Zahra mencoba menghalangi pukulan Sultan yang masih mengarah kepada Samuel.


Zahra juga menyadari jika semua ini juga berawal karena dirinya sendiri.


Seandainya dia tidak mengatakan jika Sultan adalah kekasihnya hingga membuat Samuel cemburu, mungkin Samuel tidak akan melakukan ini.


"Tapi Ra, bajingan ini..."


"Tolong kak, kita pulang. Aku sangat lelah dan..."


Zahra belum selesai berkata dan seketika jatuh pingsan.


Untungnya Sultan bisa dengan cepat menangkap tubuhnya.


"Zahra..." Samuel merasa sangat hawatir melihat Zahra kini tidak sadarkan diri, dia merasa sangat bersalah.


"Jangan dekati adikku!" Tegas Sultan saat Samuel refleks ingin ke arah Zahra.


"Aku akan menghitung hari ini." Ucap Sultan penuh penekanan, lalu dia menggendong adiknya itu keluar dari apartemen Samuel.


"Maafkan saya Gibran, saya akan melaporkan putra saya yang tidak waras itu ke kantor setelah ini." Ucap Hamdan dengan berat hati pada Gibran saat sampai di depan mobil.


"Tidak, kali ini kami memaafkan putramu. Sudahlah, lagian Zahra sepertinya hanya kelelahan. Aku permisi dulu."

__ADS_1


Setelah mengatakan itu, Gibran memasuki mobil dan mengikuti mobil Sultan yang membawa Zahra dari belakang.


Samuel melihat arah perginya mobil Sultan membawa Zahra merasa sangat bersalah. Dia mengutuki dirinya pria paling bodoh di dunia.


Mencintai seseorang tapi membuat orang yang dia cintai itu menderita hanya karena kebodohannya.


"Bodoh... bodoh...bodoh."


Samuel meninju dinding di sebelahnya karena saking marahnya pada dirinya sendiri.


Hamdan melihat putranya seperti itu merasa heran, apa yang membuat putranya menculik putri angkat sahabat baiknya.


Saat Hamdan mendapat telpon dari Gibran yang meminta bantuannya, Gibran segera melacak lokasi terakhir kali ponsel Zahra aktif.


Dan dia sangat terkejut saat melihat titik lokasinya pas berada di apartemen putranya.


Dan untung juga saat tadi dirinya dengan berat hati mengatakan akan melaporkan putranya sendiri ke kantor polisi, Gibran mengatakan telah memaafkannya.


Hamdan sekali lagi melihat putranya yang masih saja melampiaskan rasa bersalahnya pada dinding apartemen. Kemudian Hamdan pergi dari sana. Dia akan membicarakan hal itu nanti, tapi saat ini dia harus memberi waktu untuk putranya itu menenangkan diri. Karena sebagai seorang ayah, Hamdan sangat mengenali putranya, jika putranya melakuksn sesuatu itu pasti karena alasan besar.


...


"Zahra... sayang... apa yang terjadi pada putriku?"

__ADS_1


Laras yang melihat Sultan menggendong Zahra yang tidak sadarkan diri berlari menghampiri.


"Mungkin Zahra kelelahan."


Ucap Sultan lalu menggendong Zahra ke kamarnya.


Laras dengan cepat mengambil alat medisnya dan memeriksa kondisi Zahra sambil terus menangis.


Meski baru mengenal putri angkatnya itu, tapi Laras merasa sudah sangat menyayanginya sama seperti dia menyayangi Sultan.


"Sepertinya perutnya kosong terlalu lama, makanya Zahra terlalu lemah dan pingsan. Dan sepertinya Zahra memiliki magh." Ucap Laras sambil menghapus air matanya yang terus menetes dengan sendirinya.


Tak lama Zahra pun membuka matanya.


"Kakak."


Zahra hendak bangun tapi dicegah oleh Laras.


"Mama kenapa menangis? Zahra tidak apa-apa."


Zahra melihat ada sisa tetesan air mata di pipi Laras kemudian menghapusnya.


"Mama sangat hawatir sayang, mama takut kamu kenapa-kenapa." Ucap Laras.

__ADS_1


Zahra sangat bersyukur, karena saat ini ada begitu banyak orang yang mengelilinginya dengan kasih sayang yang tulus.


Zahra kembali teringat dengan Samuel dan membuatnya diam untuk sesaat.


__ADS_2