Islam Teman Sepiku

Islam Teman Sepiku
Bab 52


__ADS_3

Rosa begitu panik, dari tadi dia menangis di pelukan Hamdan.


Hingga dia baru menyadari, jika Zahra dan Sultan juga ada disana.


Dengan ragu, canggung serta gugup, Rosa berdiri dan menghampiri Zahra.


"Tolong, kalian bisa menghukum kami. Tapi tante mohon, bebaskan Samuel. Dia tidak bersalah, tapi selama tiga belas tahun ini dia harus menderita karena peristiwa itu. Dia sudah melakukan apa pun demi untuk menemukan kalian, itu hanya untuk mendapat pengampunan kalian atas kesalahan yang kami, orang tuanya lakukan. Tante mohon, maafkan dia, biarkan dia lepas dari traumanya hiks."


Rosa berlutut dan menggenggam tangan Zahra. Dia bergantian melihat Zahra dan Sultan sambil memelas.


"Tante berdirilah, kami tidak pernah menyalahkan kalian, terutama Samuel. Harus kami akui, kami memang kecewa dengan keputusan kalian yang meninggalkan kami saat itu, tapi kami tidak menyalahkan kalian. Ini sudah kehendak Sang pencipta dan kami harus menerimanya."


Zahra membantu Rosa untuk duduk di sampingnya, lalu berkata dengan lirih.


"Kalian sungguh memaafkan kami? ka kalian tidak akan menuntut kami?" Tanya Rosa gugup.


Zahra menggeleng pelan.


"Tidak, kami tidak akan menuntut kalian. Lagi pula orang tua kami pasti sudah tenang disana. Kami meyakini jika dendam itu tidaklah baik, dan orang tua kami pasti lebih tau hal itu. Jadi sudah, tante jangan menangis. Kasian Samuel saat ini membutuhkan tante."

__ADS_1


Zahra penuh rasa kasihnya, menghapus air mata di pipi Rosa.


Hal itu membuat hati Rosa bergetar. Harus dia akui, jika saja Zahra bukan seorang muslim, dia pasti akan segera memeluknya dan memintanya menjadi menantunya.


Namun tidak, Rosa harus menarik janjinya sendiri karena biar bagaimana pun dia tidak mau putranya yang merupakan penerus satu-satunya keluarganya itu menikah dengan orang muslim.


Terlebih Rosa yakin, jika mereka bersama maka pasti Samuel yang akan mengalah dan meninggalkan keyakinannya.


Rosa melirik Hamdan yang kini juga berdiri di sampingnya.


Hamdan hanya menggeleng pelan, mengerti dengan jalan pikir istrinya itu.


...


"Bagaimana kondisi Samuel dok?" Tanya Hamdan.


Laras membuka maskernya lalu berkata.


"Alhamdulillah sekarang dia jauh lebih baik..."

__ADS_1


Laras menjelaskan keadaan Samuel secara detail.


Semua orang, termasuk Zahra dan Sultan masuk melihat kondisi Samuel.


Saat membuka mata, yang Samuel cari langsung sosok Zahra.


Samuel memandangi Zahra begitu dalam, sampai Zahra merasa canggung dan menunduk.


"Maaf!"


Satu kata itu mewakili seluruh rasa bersalah yang selama ini membayangi Samuel.


Sebenarnya ada beribu kata yang ingin dia ucapkan, namun entah kenapa dia tidak mampu mengutarakannya.


Memikirkan ulang kejadian tiga belas tahun silam, serta bagaimana seorang Zahra yang saat itu masih sangat kecil harus bertahan seorang diri sampai saat ini, dada Samuel menjadi sesak.


"Tidak, kamu tidak bersalah. Dan aku atau pun kak Sultan, sudah mengikhlaskan kejadian itu."


Zahra berkata dengan sangat yakin, agar Samuel pun merasa percaya jika dia sungguh sudah merelakan semuanya, sehingga Samuel bisa melepas beban yang harusnya tidak dia pikul.

__ADS_1


"Tidak, kamu dan Sultan tidak boleh memaafkan aku dan orang tuaku begitu saja. Setidaknya mintalah sesuatu dari kami sebagai kompensasi atas penderitaan kalian selama ini. Apa pun itu kami akan melakukannya, meski kalian meminta nyawa kami sekali pun."


Tetap saja, Samuel tidak bisa begitu saja melepas rasa bersalahnya.


__ADS_2