
Syanti merasa terbakar mendengar semua rayuan Vano pada Isabel. Ya, rupanya sejak tadi gadis itu tidak tidur. Dia hanya berpura-pura agar bisa menahan Vano tetap di sana bersamanya.
'Kamu milik ku Tuan Vano. Aku akan menjadikanmu ayah dari bayi yang aku kandung saat ini.' batin Syanti dengan berjuta rencana liciknya.
Syanti baru kemarin menyadari keterlambatan tamu bulanannya. Dengan perasaan ragu, ia pun membeli alat uji kehamilan dan pagi tadi di depan kedua matanya, terpampang dua garis merah di alat uji kehamilan itu dengan sangat jelas.
Syanti begitu syok. Dia berpikir, apa yang akan ia lakukan? siapa yang akan ia mintai pertanggung jawaban sedang yang melecehkannya ada banyak orang. Itu pun tak ia kenali.
Sampai akhirnya ia memberanikan diri untuk menggugurkan kandungannya. Tapi, entah kebetulan atau tidak. Saat ia berjalan mencari alamat dukun beranak yang ia dapat dari seseorang. Dari jauh dia melihat mobil yang begitu ia kenali. Dan akhirnya, secara spontan muncullah ide licik di kepalanya. Dia akan mendekati Vano, menjebaknya dan membuatnya naik ke tempat tidur. Dengan begitu, ia tak perlu mengambil resiko dengan menggugurkan kandungannya yang bisa saja berakibat fatal pada dirinya. Ia pun sekaligus bisa mendapatkan pria yang telah membuatnya jatuh hati pada saat pertemuan pertama.
...
Hingga pukul 11 malam. Syanti baru membuka matanya. Vano yang sejak tadi, duduk di sofa yang ada di ruangan itu, bangkit dan menghampirinya.
__ADS_1
"Apa kamu sudah baikan?" tanya Vano cemas. Bukan lagi mencemaskan keadaan Syanti. Tapi dia cemas kalau gadis itu tidak keluar rumah sakit bisa-bisa dia juga terpaksa stay disana.
Perlu diketahui. Rumah sakit tempat Syanti saat ini berbeda dengan rumah sakit tempat Samuel dirawat.
"Maaf, aku sepertinya kelelahan jadinya tertidur. Tapi aku sudah baikan kok."
Akhirnya, Vano merasa lega juga. Syanti boleh pulang saat ini juga yah karena gadis itu memang tidak kenapa-kenapa selain ada sedikit lecet di kakinya. Itu pun sengaja ia lakukan.
"Aku akan mengantarmu pulang. Dimana alamat kamu?" tanya Vano saat keduanya sudah memasuki mobil.
"Emmm... aku tidak tahu mau kemana. Aku hanya gadis yatim piatu dari desa dan mengembara ke kota besar untuk mencari sesuap makanan. Tadinya, aku tinggal di kos tapi, aku baru saja di usir dari sana karena telat bayar."
"Loh kok bisa?" pertanyaan Vano yang terbilang terkejut itu membuat Syanti mengerti. Vano pasti heran bagaimana mungkin Syanti yang merupakan ketua pelayan di bar terbesar di kota itu tidak mampu membayar sebuah kosan. Yah, walau gadis itu baru sebulan lebih bekerja disana tapi seharunya uang yang ia peroleh lebih dari cukup dong untuk membayar kos.
__ADS_1
Syanti sudah menduga respon Vano ini Dan dia, tentu sudah menyiapkan jawabannya.
"Aku memang sudah gajian dua minggu lalu. Tapi saat pulang dari bar malam itu. Aku di copet oleh beberapa preman. Makanya sekarang aku terlantar lagi." ucapnya terlihat kasihan."
"Ya sudah, kita ke kos kamu. Nanti biar aku yang bayar tunggakannya," sahut Vano tak keberatan.
"Emmm tetap saja, tidak bisa. Kos aku itu sudah langsung di isi orang lain. Mau mencari kos di jam segini juga mustahil. Semua orang sudah tidur."
Wah, ternyata ini sebabnya sehingga wanita licik itu, tadi pura-pura tidur hingga selarut ini.
Vano tak merespon. Dia berpikir harus bagaimana saat ini. Pada akhirnya, dengan berat hati pria itu pun berkata, "Ya sudah, kamu ikut aku dulu malam ini. Besok aku bantu cari kosan baru."
Ingin sekali Syanti berteriak 'berhasil' saat ini. Tapi ia menahan diri.
__ADS_1
'sedikit lagi. Kamu akan berada dalam pelukanku Tuan Vano ku sayang," batinnya licik.