
"Tidaaakkk! Dia milikku. Dia ayah anakku. Yah dia ayah anakku. Aku yang akan menikah dengannya. Bukan Isabel atau wanita manapun."
Syanti mengamuk di kosnya. Dia pulang dengan amarah besar. Yap, Dia yang memang selalu membuntuti kemana pun Vano pergi jika tidak lagi bekerja, harus menyaksikan lamaran romantis Vano ke Isabel.
...
Satu minggu kembali berlalu. Dengan berbekal kenekatan. Syanti mendatangi apartemen Isabel.
Sungguh bodoh, kalau kata author!
Isabel yang baru saja pulang kantor, bergegas membuka pintu. Pikirnya kenapa Vano kembali setelah baru saja pergi? apa ada yang dia lupakan?
"Kamu?!" seru Isabel heran.
Dia mendapati Syanti, berdiri dan menangis di depannya.
"Masuklah."
Meski bingung, Isabel meminta Syanti segera masuk. Dia tidak mau ada yang melihat Syanti berdiri dan menangis di depan pintu apartemennya. Bisa-bisa orang berpikir dia yang membuat gadis itu demikian.
"Ada apa? Apa kamu di usir dari kos lagi?" tanya Isabel bingung.
__ADS_1
Masa iya gadis yang bekerja di bar besar dengan posisi yang lumayan. Tidak bisa membayar kos. Mustahil Kan kalau kecopetan lagi. Pikir Isabel.
Tapi sesuatu yang Syanti keluarkan dari tasnya, membuat matanya membola.
Alat penguji kehamilan, dengan dua garis merah terlihat jelas di depan matanya.
"Tolong, jauhi Tuan Vano," ucap Syanti tanpa tahu malu dan sukses membuat Isabel melongo.
"Apa? Maksud kamu apa?" tanya Isabel berusa menahan emosinya.
Perlu di ingat yah. Isabel bukan wanita sebaik Zahra. Dia bisa meledak satu atau dua detik kemudian jika wanita tak tahu malu di depannya itu masih berkata nggak masuk akal.
plakkk
Benar saja. Tangan Isabel telah mendarat di pipi mulus Syanti.
"Heh, hamil? Mungkin iya, bagi wanita murahan kayak loe. Tapi, anak Vano loe bilang? Ngayal loe!"
Hilang sudah rasa hormat Isabel dan keramahannya.
Isabel bukan wanita naif dan bodoh. Dia sudah sangat hafal dengan karakter-karakter pelakor. Terlebih dia sangat mempercayai Vano. Jika dirinya saja yang Vano cintai dari kecil, tak pernah Vano sentuh. Lalu, apakah dia akan percaya jika Vano akan menyentuh wanita biasa yang bahkan baru Vano kenal karena menolongnya di jalan? Tidak!
__ADS_1
"Kamu harus menjauhinya. Aku sungguh mengandung anak Vano. Dan dia harus bertanggung jawab," ucap Syanti tak mau mundur.
"Tuan Vano! Ingat, calon suamiku itu pemilik bar tempat loe bekerja. Mengerti? Dan apa loe pikir gue percaya dengan omongan loe itu? heh, bahkan jika ada orang yang lebih aku percaya dari sang pencipta, maka orang itu adalah Vano. Calon suami gue!"
Isabel memberi penekanan pada setiap kata yang ia ucapkan.
"Sekarang pergi dari sini. Sebelum gue memanggil pihak keamanan untuk menyeret tubuh murahan loe itu dari sini," usir Isabel.
Namun, yang diusir tidak beranjak.
"Jika kamu tidak meninggalkan Vano. Maka, aku akan menyebarkan ke semua orang kalau aku sedang mengandung bayi Vano."
Lama-lama berang juga Isabel dibuatnya.
"Silahkan. Dan loe akan merasakan efek dari kebodohan loe itu."
Setelah mengatakannya, Isabel menelpon pihak keamanan dan memintanya menyeret Syanti.
Dengan cepat pihak keamanan datang. Siapa yang berani membantah putri semata wayang pemilik apartemen tempat mereka bekerja?!
Isabel Muller! Putri satu-satunya pemilik berbagai usaha properti di berbagai negara. Hansen Muller.
__ADS_1