Islam Teman Sepiku

Islam Teman Sepiku
Bab 73


__ADS_3

Di depan mata Syanti saat ini. Menjulang tinggi sebuah apartemen.


'Waw senangnya. Aku dibawa ke apartemennya. Sukses yah Syanti!" ujarnya pada diri sendiri.


"Ayo!"


Vano melangkah memasuki lift kemudian Syanti pun dengan senang hati menyusul.


"Maaf, merepotkan anda Tuan!" ucap Syanti pelan. Berusaha terlihat sungkan padahal hatinya lain.


"Tidak masalah. Aku yang bertanggung jawab atas kejadian malam ini. Jadi, sudah seharusnya." sahut Vano sambil mengaplikasikan telponnya sejak masih di jalan tadi hingga kini, tanpa henti.


"Terima kasih!" ujar Syanti lembut.


'Dan sebentar lagi, aku akan membuatmu melakukan tanggung jawab lain," lanjutnya membatin.


Pintu lift terbuka dan Vano langsung memencet bel di depan sebuah unit.


'Kamar sendiri kok pake pencet bel sih? apa itu akses modern yang baru?' pikir Syanti, yang masih terbilang deso itu.


Syanti menunggu pintu terbuka. Pikirnya tak lama lagi ia akan melancarkan aksi utamanya. Perasaannya degdegan saking tak sabarannya.

__ADS_1


Namun, suara yang menyapa telinganya bersamaan munculnya wajah cantik seseorang, membuatnya terkejut.


"Honey! Lama sekali. Aku hampir tertidur kembali," ucap Isabel yang baru membukakan pintu, lalu masuk ke dalam pelukan Vano.


Saat masih berstatus sahabat saja ia begitu manja. Apalagi saat ini, mereka telah berstatus kekasih.


"Maaf honey. Saat aku pertamakali mengirim pesan, kami baru keluar dari pintu rumah sakit." ucap Vano sambil mencium pucuk kepala sang kekasih.


Menyaksikan pemandangan di depannya, sungguh membuat Syanti bingung dan merasa berang.


Patah sudah khayalannya.


Sebelum Vano mengatakan akan membawa Syanti bersama. Dia sudah mengirim pesan pada Isabel. Vano tidak berani menelpon langsung karena merasa tidak enak pada Syanti, jika saja sampai mendengar Isabel menolak atau setidaknya ngambek karena dia mengatakan kejadian malam ini dan ditambah minta izin mau menitip Syanti di apartemen Isabel.


Tanpa Vano duga. Isabel dengan mudah mengiyakan dan berkata dengan senang hati menampung Syanti malam ini.


Dan disinilah mereka saat ini. Di apartemen Isabel yang sebenarnya tidak begitu jauh dari apartemen Vano sendiri.


"Eh, sorry! Ayo masuk, kamu pasti lelah dan mengantuk."


Isabel menyadari tatapan Syanti dan mengajaknya masuk ke dalam.

__ADS_1


"Aku langsung pulang yah honey. Aku juga sangat lelah. Tolong, besok temani aku mencari kos untuk Syanti. Kamu bisa kan honey?" ucap Vano.


"Tentu dong honey! Ok selamat malam cintaku. I love you."


"Selamat malam! I love you too my honey."


Wah, pemandangan yang menusuk mata bagi si licik Syanti.


...


"Bersihkan badanmu dan pakai ini. Jangan sungkan. Kekasihku membuatmu terluka. Dan sebagai kekasih yang baik, akulah yang mengambil alih tanggung jawab kekasihku."


Isabel memberikan satu set pakaian yang belum ia pakai pada Syanti.


"Terima kasih!" ucap Syanti menerima pemberian Isabel, kemudian berlalu ke kamar mandi.


'Aku Isabel. Niat licik kamu pada kekasihku, tercium jelas meski kamu merencanakannya dari jauh," batin Isabel, menatap tajam pintu kamar mandi yang tertutup rapat.


Jangan heran! Isabel juga wanita yang tak kalah licik jika ia telah memutuskan ingin demikian. Cara receh Syanti dapat ia tebak dengan mudah.


Dianya saja yang tak mau bermain licik dan curang saat menginginkan Samuel. Karena ia masih berpikir jernih dan ingin mendapatkan ketulusan Samuel. Yah, meski pada akhirnya menyerah karena ketulusan yang ia harapkan, ia dapatkan pada diri Vano yang saat ini telah memenuhi hatinya.

__ADS_1


__ADS_2