
Zahra pikir dengan mengatakan dirinya sudah mencintai pria lain, itu akan membuat Samuel mundur dan melupakannya. Tetapi salah, yang terjadi saat ini sungguh diluar nalar Zahra.
Pria yang biasanya sangat manis kepadanya itu, kini memperlihatkan sisi gilanya dengan menculik dirinya.
"Kalau begitu makanlah sendiri, kamu pasti sangat lapar bukan?"
Suara Samuel sangat lembut penuh perhatian, berbanding terbalik dengan yang dia lakukan dengan menyekap Zahra.
"Tolong lepaskan aku, aku harus pulang."
Ucap Zahra pelan, namun membuat darah Samuel mendidih.
"Pulang? apa priamu itu sedang menunggumu lagi malam ini?"
Samuel sangat emosi membayangkan apa yang telah Sultan lakukan pada gadis yang dia cintai kemarin malam di dalam rumah Zahra.
"Iya, dia pasti sangat menghawatirkan aku, tolong biarkan aku pulang." Ucap Zahra memohon, semakin membuat Samuel marah karena salah menerka.
"Biarkan saja pria brengsek itu menunggu sampai mati. Aku tidak akan membiarkanmu bersamanya lagi."
Samuel benar-benar panas memikirkan Sultan dan Zahra.
"Apa yang kamu katakan? Kami baru bersatu kembali dan kamu sudah akan memisahkan kami lagi?"
Perkataan Zahra sangat menusuk telinga Samuel.
"Baru bersatu kembali? jadi kalian sudah pernah berhubungan sebelumnya dan baru bertemu kembali? wah hebat Zahra, jadi kemarin malam kali keberapa kalian melakukannya?"
__ADS_1
Samuel semakin larut dalam kesalah pahamannya.
"Apa maksudmu itu? aku tidak mengerti. Tolong Samuel lepaskan aku, aku harus pulang."
Zahra tidak mengerti arah bicara Samuel. Zahra hanya terus memohon untuk pulang.
"Tidak, aku tidak akan membiarkanmu bersamanya lagi. Sekarang buka kain itu, dan segeralah makan."
Setelah mengatakan itu, Samuel keluar dari sana dan mengunci pintu.
"Samuel, please... lepaskan aku. Aku harus pulang."
Zahra menangis sambil menggedor pintu.
Samuel yang tidak pergi jauh dari sana merasa sakit mendengar suara tangisan gadis yang dia cintai itu. Akan tetapi sakit yang dia rasa saat memikirkan Zahra tidur dengan pria lain membuatnya harus melawan rasa tidak teganya.
"Samuel, setidaknya kembalikan handphoneku. Aku harus mengabari kakakku." Suara Zahra mulai mengecil akibat kelelahan menangis, terlebih dia belum makan sejak siang hari, dan Samuel tidak bisa mendengarnya dari luar sana.
...
Di rumah, Sultan sangat syok saat mendengar Melati berkata Zahra sudah pulang dari masih siang.
"Iya, kami hanya berkeliling jalanan dari pagi. Dan siang hari, Zahra bahkan tidak masuk rumah dan langsung pulang."
Melati juga sangat cemas saat Sultan bilang Zahra belum pulang.
"Baiklah, aku akan mencarinya."
__ADS_1
Karena cemas, Sultan bahkan begitu saja memutuskan sambungan telpon dengan Melati.
"Apa yang dia katakan? dimana putriku?"
Laras sudah mendengar percakapan Melati dan Sultan. Tapi dia tetap bertanya sambil menangis.
"Sepertinya terjadi sesuatu pada Zahra, aku akan mencarinya."
Sultan dengan buru-buru meraih kunci mobilnya di atas meja lalu pergi dari rumah meninggalkan Laras yang menangis dipelukan Gibran.
"Tenanglah, aku akan menghubungi temanku yang seorang polisi agar membantu mencari Zahra."
Gibran tau aturan polisi. Tidak menerima laporan kehilangan jika belum mencapai waktu 24 jam. Tapi jika meminta langsung bantuan temannya itu pasti bisa.
...
Sultan melaju ke rumah lama Zahra, meski ragu tapi dia harus memulai pencarian dari rumah itu.
Sejak tadi dia sudah menghubungi nomor adiknya itu, tapi nomornya tidak juga aktif.
...
Sedang Zahra yang kelelahan menangis, ditambah perutnya yang kosong, membuatnya lemas dan ketiduran di lantai.
(kleekk)
Samuel yang dari tadi hanya menunggu diluar, membuka pintu dengan pelan saat tidak lagi mendengar suara tangisan Zahra.
__ADS_1
"Maafkan aku, aku rela kamu benci tapi tidak akan pernah rela tubuhmu selamanya dimiliki pria lain." Gumam Samuel yang merasa perih saat melihat gadis mungil yang dia cintai dengan gila itu, tertidur di lantai.
Samuel ingin menggendong Zahra ke tempat tidur. Tapi baru saja dia menyentuh pinggang gadis itu, Zahra terbangun dan mendorongnya.