
Seminggu berlalu dengan cepat. Hari ini, Arsyad, Zahra, Zidan, Melati dan Alifa pergi berziarah ke makam mendiang orang tua Zidan dan Zahra.
Empat orang dewasa dan satu gadis kecil itu, berdoa dengan khusyu' disana.
Kemudian, Arsyad dan Zahra berpindah ke sisi lain makam itu. Keduanya menatap nisan mendiang Samuel.
"Assalamualaikum Samuel! Kenalkan, aku Arsyad, suami Zahra. Aku mau minta maaf dan berterima kasih padamu sekaligus. Maaf, jika kesannya aku berbahagia atas kepergianmu. Dan terima kasih, karena telah menjaga Zahra selama kamu hidup. Aku tahu betapa besarnya cinta kalian. Aku tidak akan menuntut Zahra melupakanmu. Aku berjanji, kehadiranku tak akan membuat wanita yang sama-sama kita cintai ini melupakanmu. Kamu tetap menjadi cinta pertama di hatinya. Namamu akan terpatri di sudut hatinya yang paling dalam. Semoga kamu merestui pernikahan kami."
Arsyad menatap nisan Samuel, dan berdialog dengannya. Mengucapkan isi hatinya. Berharap kiranya Samuel rela, dia dan Zahra melanjutkan masa depan.
Sedangkan Zahra menatap sendu pusara tersebut. 'Aku datang bersama suamiku Sam. Kamu tidak marah'kan? Benar yang mas Arsyad katakan. Aku tidak akan melupakan kamu. Kamu menempati sisi lain hatiku. Tak mungkin terhapuskan oleh masa. Doa ku selalu menyertaimu di setiap sujudku!' lirih batin Zahra berucap.
'Semoga kamu dapat mengerti. Jika mulai sekarang aku mungkin tak bisa sesering dulu menjenguk kamu. Ada tanggung jawab lain yang harus aku emban. Serta meski tak meminta, aku juga harus menjaga hati mas Arsyad. Dia tak mengatakannya, tapi aku tahu, hati kecilnya menginginkan cintaku seutuhnya.'
Sesaat kemudian, Zidan, Melati dan Alifa datang menghampiri. Mereka semua mendoakan Samuel, lalu beranjak dari sana.
__ADS_1
...
"Aunty kapan adik Ayifa jadi? Katanya mau buatkan Ayifa adik, tapi kok belum ada. Jangan bohong Aunty, dosa!"
Alifa yang duduk di pangkuan Zahra itu menagih janji pada Zahra. Padahal saat itu ibunya yang berjanji.
Zahra tak tahu harus menjawab apa. Dia menatap ke arah Melati yang tampak menanti jawabannya sama seperti Alifa.
"Sabar yah cantik! Adiknya masih dalam proses. Tidak bisa langsung jadi." ujar Arsyad yang melihat kebingungan sang istri.
"Hehe, iya sayang! Sabar yah. Untuk sekarang Alifa main sama barbie dulu, ok?"
"Hmm, baik paman!"
Alifa turun dari pangkuan Zahra dan memilih memainkan boneka barbie kesukaannya.
__ADS_1
"Bagaimana? Sudah ada pertanda belum?"
Yeh, anaknya pergi malah ibunya yang maju.
Melati menatap Zahra dan Arsyad bergantian. Membuat kedua orang itu sedikit kikuk.
Zidan diam memperhatikan. Dia tidak ikut bertanya, tapi tak dia pungkiri jika dia pun penasaran.
"Belum mbak! Tapi, tenang saja, tidak lama lagi insyaa allah ada kok," ujar Arsyad sambil menatap wajah merona sang istri.
Zidan tersenyum mendengarnya. Perkataan Arsyad menggambarkan sejauh mana hubungannya dengan sang adik tercinta. Zidan berharap, secepatnya keluarga kecil adiknya itu akan dilengkapi oleh sosok putra atau pun putri.
Begitu pun dengan Melati. Dalam hatinya begitu bahagia. Sahabat sekaligus adik iparnya itu kini terlihat lebih mantap menatap masa depannya. Tak lagi seperti kemarin-kemarin yang masih terjebak dalam masa lalunya.
Sore hari, Arsyad dan Zahra pamit dari rumah Zidan. Keduanya akan ke rumah orang tua Arsyad dan berniat nginap disana.
__ADS_1