
Setelah dari rumah Hamdan dan Rosa. Arsyad dan Zahra, pergi ke rumah Mama Laras dan Papa Gibran. Disana, keduanya disambut dengan raut yang teramat bahagia. Kemudian, keduanya lanjut ke rumah orang tua Melati.
Tak kalah hangat orang rumah tersebut dalam menyambut keduanya. Bahkan Kevin, adik Melati begitu senangnya mendapat hadiah dari luar negri berupa jam tangan yang unik.
"Terima kasih kak! Wah, keren sekali." puji Kevin sambil mengenakan jam tangan tersebut.
Zahra dan Arsyad tersenyum, melihat pemberian kecilnya begitu dihargai oleh semua orang.
"Sama-sama!" sahut keduanya.
"Tan! Maaf, kami langsung ke sebelah yah," ucap Zahra. Dia sebenarnya sudah sangat merindukan ponakan gemoy'nya. Tapi, tak mungkin kesana dulu jika belum ke rumah para tetua. Itu akan mengurangi kesan hormatnya pada yang lebih tua.
"Iya sayang! Alifa pasti akan sangat senang kamu pulang. Dia begitu nakal saat kamu tidak ada." ujar Cahaya.
"Baik Tan, Kev! Sampaikan salam kami buat Om Yoga. Lain kali insyaa allah kami akan main kesini lagi. Assalamualaikum!" ucap Zahra.
Yoga, tidak ada di rumah. Pria paruh baya itu, sedang dinas di luar kota. Ada perubahan dalam keluarga Melati, sejak wanita itu menikah. Cahaya yang dulunya seorang wanita karir yang gila kerja hingga tak punya waktu buat anak-anaknya. Kini memutuskan resign, demi untuk meluangkan waktu pada anak bungsunya, Kevin.
"Waalaikumsalam!" jawab Cahaya dan Kevin hampir bersamaan.
...
__ADS_1
Berpindah ke rumah sang saudara kembar. Zahra yang tidak memberitahu soal kepulangannya pada penghuni rumah itu, sukses mengejutkan mereka.
"Masya Allah! Uch, Zahra'ku!"
Melati merentangkan tangan dengan lebar untuk memeluk sang sahabat sekaligus adik iparnya. Namun, langkahnya dihalangi oleh seorang gadis gemoy yang berlari dan menghambur dalam pelukan Zahra.
"Aunty .... !!!" pekik Alifa girang.
Zahra, berjongkok dan memeluk tubuh gemoy ponakannya.
"Aunty kangen sekali. Alifa nakal tidak saat aunty tidak ada?"
"Hehe itu namanya Alifa nakal sayang! Anak baik dan pintar itu harus men?"
"Dengar!" sambung Alifa.
"Tuh tau!"
Zahra kemudian menggendong Alifa yang bobotnya lumayan juga.
Arsyad dan Zahra, beristirahat disana. Mungkin, usai makan malam barulah keduanya pulang.
__ADS_1
Sore harinya, Melati duduk berdua di halaman rumah bersama Zahra. Kedua wanita itu, melihat Alifa yang berlarian di depan sana mengejar Arsyad dan Zidan yang tak ada lelahnya menemani gadis kecil itu bermain.
"Gimana honey moon'nya? Sukses nggak?" tanya Melati kepo. Namun, yang ditanya menjadi kikuk.
Melati menyadari perubahan mimik Zahra, "Kenapa?"
"Mel, aku mau ngomong sesuatu. Sekalian minta saran dan nasehat. Jujur, aku akuin aku salah disini. Tapi, aku sungguh belum bisa."
"Tunggu! Maksud kamu ini apa? Apa yang kamu bicarakan?" tanya Melati bingung.
"Aku belum memberikan hak Arsyad sebagai suami," ucap Zahra lesu.
"Apa?" pekik Melati, lalu dengan cepat menutup mulutnya. Takut ada orang lain yang dengar.
"Kamu belum? Tapi kenapa?" tanyanya lagi setengah berbisik.
"Aku memang belum siap. Tapi, aku tidak menolaknya sama sekali. Karena aku tahu, wajib atas aku melakukan hal itu. Dan dosa hukumnya saat aku menolaknya."
Mulailah Zahra menceritakan segalanya. Tentang Arsyad yang berkata hanya akan menyentuhnya jika Zahra sudah benar-benar siap dan ikhlas tanpa beban dan pengaruh apapun.
Melati mencoba mencerna penuturan Zahra. Dia sebisa mungkin untuk bijak memahaminya.
__ADS_1