Islam Teman Sepiku

Islam Teman Sepiku
Bab 77


__ADS_3

Zahra memasuki kamar dengan perasaan yang sulit di terjemahkan.


Haruskah ia bahagia? Insyaa Allah besok Samuel sekeluarga dan keluarganya akan duduk bersama. Berusaha mencari jalan dari masalah asmaranya.


Akan tetapi, Zahra justru takut dan merasa sangsi. Takut jika musyawarah itu tidak membuahkan hasil sesuai yang ia harapkan. Bagaimana jika tida menemukan jalan dari masalah yang ada? Dia ingin menghubungi kakaknya untuk berbagi dan meminta pendapat juga saran. Tapi dia enggan melakukannya. Dia tidak mau merusak bulan madu kakaknya dengan memberinya beban pikiran.


Zahra membuka laptopnya. Mengalihkan kegundahannya dengan menulis. Hingga rasa kantuk datang. Barulah gadis itu menutup laptopnya.


...


Pagi ini, Samuel begitu semangat. Dia baru sampai rumah dan orang tuanya memberinya kejutan dengan memintanya bersiap untuk ke rumah Gibran. Katanya untuk mendiskusikan hubungan dia dan Zahra.


Berasa mimpi. Setelah dua hari merasa sesak di rumah sakit. Kini ia merasa begitu bahagia.


...

__ADS_1


Tepat pukul 2 siang. Kedua keluarga itu duduk bersama di ruang makan.


"Silahkan. Jangan sungkan. Bukankah kita sudah berteman lama?!" ucap Laras pada Hamdan dan keluarga.


Nyatanya, mereka memang sudah berteman sejak masih zaman kuliah. Tapi karena sibuk dengan urusan masing-masing. Mereka jadi jarang bertemu. Terlebih Laras dan Rosa. Sejak menikah dan memiliki anak. Keduanya sama sekali tidak lagi pernah nongkrong bareng lagi. Lain dengan Gibran dan Hamdan. Meski jarang bertemu, tapi keduanya masih kadang bertemu baik sengaja atau tidak.


Zahra muncul dari dapur, menyuguhkan minuman di gelas semua orang. Dia hanya menyapa Hamdan dan Rosa, lalu berlalu ke kamarnya.


Dia tentu tidak bergabung dalam acara makan siang ini. Tidak mungkin baginya melepas niqabnya di depan orang lain. Lain halnya di depan Gibran. Dia sudah menjadi anak dari pria itu, hingga jika hanya niqab. Zahra bisa melepasnya di hadapan Gibran. Mereka memang bukan mahram dalam aturan agama. Tidak ada ikatan darah. Tapi, anggap saja Zahra tidak sesuci itu hingga niqap mau saja ia lepas di hadapan sang ayah angkat.


...


"Bagaimana Nak Sam? apa kamu punya usul mengenai hal ini?" tanya Gibran di tengah musyawarah itu.


Yang ditanya mengangguk mantap. Sepertinya dia sudah menyiapkan jawabannya jauh-jauh hari.

__ADS_1


"Aku sangat mencintai Zahra Om, Tante!" ucapnya.


"Dan kalau dia bersedia, tentunya dengan restu kalian. Aku sudah siap menikahinya. Masalah 'keyakinan', bukankah semua keyakinan sama saja. Semua tergantung sang penganut. Aku sudah memutuskan. Aku akan mengikuti 'keyakinan' kalian," lanjut Samuel.


Semua orang diam sesaat. Mempertimbangkan keputusan Samuel yang terlihat sudah bulat.


"Bagaimana sayang? apa kamu punya usul? atau mungkin syarat atau hal lain yang ingin kamu utarakan?" tanya Laras lembut.


Zahra menarik nafas dan menghembuskannya perlahan. Membaca basmalah dalam hati.


"Apa boleh jika Zahra meminta sesuatu," tanyanya pada semua orang.


"Tentu Nak! Silahkan. Disini bukan hanya pendapat kami yang akan di pertimbangkan Tapi pendapat semua orang. Bukankah begitu Gib?" sahut Hamdan.


"Iya. Bicaralah sayang," ucap Gibran, menatap sang putri.

__ADS_1


"Aku meminta waktu ta'aruf selama tiga bulan. Dan dalam waktu itu, aku ingin Samuel mempelajari 'keyakinan'nya dan juga 'keyakinan' kita. Jika saat itu, Samuel telah menetapkan pilihannya pada salah satu dari dua 'keyakinan' itu. Dan telah memantapkan hati dan imannya pada pilihannya. Barulah aku akan memberi jawaban," ucap Zahra.


__ADS_2