Islam Teman Sepiku

Islam Teman Sepiku
Bab 127


__ADS_3

Hari berganti hari. Kini usia kandungan Zahra telah memasuki tujuh bulan. Baru saja acara tujuh bulanan yang digelar usai. Sejak usia kandungannya masuk empat bulan. Arsyad dan Zahra kembali tinggal di rumahnya sendiri.


Semua keluarga nginap di rumah Arsyad. Termasuk Hamdan dan Rosa.


Hamdan dan Rosa sangat bahagia. Dia diperlakukan sama seperti orang tua kandung oleh Arsyad dan Zahra.


Rasanya, hidup kedua paruh baya itu begitu bermakna. Terutama, akan adanya sosok gemoy Alifa yang begitu mewarnai hari keduanya.


"Oma! Adik Ayifa bental lagi keluarkan? Lihat, perut aunty sudah mau meyetus!" ucap Alifa yang berada di pangkuan Rosa.


Sontak semua orang terkekeh akan ucapan Alifa yang terdengar ambigu.


"Melahirkan sayang! Aunty tidak lama lagi akan melahirkan adik Alifa."


Rosa membetulkan ucapan Alifa.


Alifa termangguk-mangguk.

__ADS_1


...


Selesai sarapan bersama, semua orang kembali pulang ke rumah masing-masing. Kecuali, Aisyah.


Aisyah memilih tinggal disana. Menemani sang menantu, selagi Arsyad bekerja. Aisyah akan diantar pagi hari oleh Hasan kesana dan akan dijemput saat Hasan pulang kerja. Begitulah seterusnya hingga sang menantu melahirkan.


Zahra merasa tidak enak karena merepotkan mertuanya. Tapi, sang mertua berkata jika itu tidaklah membuat mereka repot. Mereka justru senang. Terutama Aisyah, karena bisa menghabiskan hari bersama menantunya. Dan Hasan, sama. Dia pun tidak merasa direpotkan sama sekali. Karena, jalan menuju perusahaan melewati rumah Arsyad. Lagian, sudah tugas mereka sebagai orang tua menjaga anak menantunya disaat begini.


"Mah, bagaimana kalau kita buat kebun mini di belakang. Mas Arsyad sudah menyiapkan lokasinya dan sudah dibersihkan oleh tukang kebun. Kita bisa menanam sayuran seperti di rumah mama," ujar Zahra pada sang ibu mertua. Arsyad dan Hasan,sudah berangkat ke kantor beberapa menit yang lalu.


"Tapi, nanti kamu kecape'an sayang!" sahut Aisyah khawatir.


"Zahra akan berhenti kalau capek. Lagian, bukankah kata dokter, ibu yang hamil besar bagus jika banyak gerak. Itu akan mempermudah kelancaran proses melahirkan nantinya," ucap Zahra.


"Baiklah! Tapi, pelan-pelan dan hati-hati yah!"


"Iya mah!"

__ADS_1


Kedua wanita beda usia itu berjalan ke arah belakang rumah. Saat tahu istrinya senang berkebun seperti sang ibu. Arsyad meminta tukang kebun mengubah lahan yang biasa ia pakai berolahraga pagi, menjadi kebun mini.


Lahan seluas seperdua hektar itu, kini terlihat seperti kebun sungguhan. Bahkan, tukang kebun telah menanam beberapa buah-buahan hasil cangkokan disana.


"Wah, masya allah! Ternyata disini sudah ditanami beberapa tanaman. Mangga dan sawonya bahkan sudah berbunga," ujar Aisyah girang. Dia dulu pernah kesana, tapi hanya rerumputan yang memenuhi lahan itu.


"Iya mah! Mas Arsyad membeli beberapa pohon buah yang dicangkok, dan meminta tukang kebun langsung menanamnya," tutur Zahra.


Selang beberapa menit, keduanya mulai mengambil perkakas untuk digunakan berkebun yang ada disana. Keduanya menanam sayuran. Kemudian menyemai bibit cabai dan tomat. Kalau sudah tumbuh, barulah akan di tanam.


Sekitar empat puluh menit, Zahra sudah bercucur keringat.


"Sudah yah sayang! Kamu juga tidak boleh begitu kelelahan," ucap Aisyah.


Zahra mengangguk, rasanya dia memang sudah lelah.


Keduanya mencuci tangan dan kaki di keran air dekat kolam ikan koi milik Arsyad. Yah, Arsyad sangat senang melihat ikan koi sejak kecil. Dan dia memeliharanya dengan baik di kolam yang terletak di bagian samping rumah.

__ADS_1


__ADS_2