Islam Teman Sepiku

Islam Teman Sepiku
Bab 40


__ADS_3

Malam itu, Melati sekeluarga dan juga Sultan, sholat jama'ah di ruang sholat rumah sakit dengan di imami oleh Yoga, ayah Melati.


"Bagaimana mah? apa ada kemajuan dengan kondisi Kevin?" Tanya Sultan.


Setelah sholat, Sultan dan yang lain kembali ke depan ruangan Kevin.


"Semuanya stabil, hanya Kevin belum sadar." Ucap Laras.


"Tapi kalian semua sudah boleh masuk ke dalam." Sambungnya lagi.


Semua orang masuk ke ruangan Kevin.


"Kevin... buka mata sayang, mama dan papa pulang. Bukankah Kevin ingin mama papa terus bersama kamu dan kak Melati? bangun sayang, mama janji akan lebih banyak waktu buat kalian setelah ini."


Cahaya memeluk tubuh Kevin. Dia sangat merasa bersalah, lebih dari rasa bersalah Melati, karena dirinyalah yang menelpon Melati tadi hingga Melati memarkir mobil di lain sisi sekolah Kevin.


...


Sedang di apartemen, Samuel menyalakan sebatang rokok dan menghisabnya lalu menghembuskan asapnya.

__ADS_1


"Dimana kamu?" Gumam Samuel.


Dari siang sampai malam dia menunggu Zahra di depan rumahnya, dia melihat gerbang rumahnya tergembok. Tapi dia tetap menunggu hingga malam disana dan Zahra tak kunjung pulang.


Saat Samuel akan mengisap rokoknya kembali, dia berhenti lalu membuang rokok itu.


"Sultan! iya, kakak Zahra Sultan. Dia pasti membawa Zahra tinggal bersamanya."


Samuel kemudian mengingat saat Sultan datang menjemput Zahra di apartemennya. Ada satu orang lagi disana selain Sultan dan Hamdan, ayahnya.


Samuel mengingat Gibran lalu bergegas pulang ke rumahnya. Dia yakin, ayahnya kenal dengan Gibran dan mengetahui rumahnya. Samuel ingin ke rumah itu untuk meminta maaf pada mereka semua secara langsung.


Rosa melihat Samuel datang dan ingin mengajaknya berbicara, tapi Samuel tidak menggubrisnya dan berlalu begitu saja menuju ruang kerja ayahnya


"Bahkan sekarang kamu membangkang karena gadis itu." Lirih Rosa, menganggap Zahra membawa pengaruh tidak baik bagi Samuel.


"Pah, pria yang kemarin malam datang bersama papa di apartemenku, apa dia teman papa?" Tanya Samuel tanpa basa-basi pada ayahnya.


Hamdan mendongakkan kepala dan menatap putranya itu.

__ADS_1


"Gibran? atau Sultan?" Tanya Hamdan, karena dia datang bertiga malam itu.


"Sama saja, tapi aku rasa yang bernama Gibran itu pasti teman papa. Apa papa tau rumahnya?" Ucap Samuel.


"Iya Gibran teman papa, dan Sultan adalah putranya. Kenapa kamu menanyakan itu?"


Hamdan tidak langsung menjawab tapi balik bertanya.


"Aku harus kesana untuk meminta maaf secara langsung kepada mereka semua, terutama pada Zahra." Jawab Samuel pelan.


"Tidak! buat apa kamu kesana? lagian tadi papa kamu sudah menelpon Gibran, dan dia bilang gadis itu baik-baik saja dan mereka juga tidak mempermasalahkan hal itu lagi. Sudahlah tidak perlu berurusan dengan gadis itu lagi dan lupakan dia."


Rosa yang mendengar Samuel ingin kesana langsung tidak setuju, Tapi tidak dengan Hamdan. Hamdan merasa keputusan putranya untuk kesana dan meminta maaf secara langsung itu sangat baik dan merupakan sikap seorang pria yang sesungguhnya.


"Ini kartu nama Gibran, disana tertera alamatnya. Pergilah... dan tunjukkan jika kamu beneran putra papa."


Hamdan mengambil kartu nama Hamdan dari dompetnya dan memberikannya pada Samuel.


"Terima kasih pah, tapi aku akan kesana besok. Jika malam begini aku takut mengganggu."

__ADS_1


Samuel kemudian keluar dari ruangan itu dan lagi-lagi melewati ibunya begitu saja. Bukan karena dia membenci ibunya, hanya saja dia menyadari jika menyangkut hal ini dia dan ibunya sudah jelas bertentangan, jadi tidak ada gunanya membicarakan apa pun dengan ibunya. Karena saat ini, Samuel hanya mau fokus menyelesaikan masalah hatinya saja.


__ADS_2