Islam Teman Sepiku

Islam Teman Sepiku
Bab 104


__ADS_3

Sekitar pukul delapan malam. Arsyad dan kedua orang tuanya datang ke rumah Zidan.


"Assalamualaikum!" ucap keluarga itu.


"Waalaikumsalam! Silahkan masuk. Om, Tan apa kabar? Maaf, Sultan tidak sempat main ke rumah Om dan Tante. Semenjak jadi suami dan ayah, waktu Sultan habis oleh mereka." ucap Zidan setelah menyalami orang tua Arsyad.


Catatan! orang tua Arsyad tahunya nama Zidan itu Sultan. Entah sudah tahu nama yang sekarang atau tidak. Karena Arsyad sudah tahu. Bisa jadi Arsyad sudah menceritakan tentang masa lalu Zidan pada orang tuanya. Bisa juga belum.


"Alhamdulillah kabar kami baik! Tidak masalah. Kami mengerti. Sudah seharusnya, saat sudah berkeluarga maka waktu kita adalah milik keluarga kita. Papi juga begitu kan pi?" ujar Ibu Arsyad, Aisyah yang dibalas anggukan oleh sang suami. Ayah Arsyad, Hasan.


Berpindah ke lantai atas. Di dalam kamar, Melati sibuk mendandani Zahra.


"Sudah Mel, tidak kelihatan juga nantinya."


Zahra protes saat Melati terus saja memoles pipinya. Benar kata Zahra, percuma. Toh nanti ketutup cadar.

__ADS_1


"Biar ah. Biar pancaran aura kamu lebih berkilau." bantah Melati.


Sekitar sepuluh menit. Melati dan Zahra turun ke lantai bawah. Menemui Arsyad dan orang tuanya.


Dua wanita bercadar menuruni tangga. Membuat orang tua Arsyad bingung yang mana calon anaknya.


"Perkenalkan ini istri Sultan, Melati! Dan ini saudari kembar Sultan, Zahra!"


Usai Zidan memperkenalkan keduanya. Barulah orang tua Arsyad tahu yang mana gadis yang hendak putranya pinang.


Setelah saling berkenalan. Mulailah Hasan membuka suara tentang niat baiknya.


"Kalian tentu sudah tahu maksud inti kedatangan kami malam ini. Namun, saya tetap akan mengatakannya lagi. Kami datang dengan membawa niat baik. Putra kami, Arsyad ingin melamar Zahra. Kami datang dengan harapan besar. Semoga bisa pulang dengan kebahagiaan." ucap Hasan mewakili sang putra.


"Terima kasih atas niat baik kalian. Kami sungguh merasa tersanjung. Namun, jawaban atas niat baik kalian. Tentu akan kami serahkan sepenuhnya pada Zahra." sahut Zidan mewakili keluarganya. Lalu, pandangan pria itu beralih ke adiknya yang sejak tadi diam dan menunduk.

__ADS_1


Zahra mengerti. Ini waktunya dia buka suara. Semua orang diam, tandanya menunggu jawabannya.


Arsyad bahkan keringat dingin menanti jawaban Zahra. Sebenarnya pria itu sedikit ragu apakah Zahra sudah move on dari masa lalunya dan mau menerimanya atau tidak. Tapi, dia sungguh telah jatuh hati pada gadis di depannya itu dan ingin segera menghalalkannya.


Satu detik.


Dua detik.


Tiga detik.


Dan, Zahra mengangguk, "Insya Allah, saya menerima!" ucapnya dengan suara bergetar.


Semua orang menghembuskan nafas lega. Melati bahkan sampai memeluk Zahra dengan sangat erat. Dan Zidan, tanpa bisa ia cegah, air matanya menetes. Dia sangat bersyukur. Akhirnya adiknya hendak menikah juga. Jujur, sedikit pun Zidan tidak menyangka jika sang adik akan menerima. Dia bahkan sudah siap menjelaskan pada Arsyad dan keluarga jika tadi Zahra menolak.


Kedua keluarga itu sangat bahagia. Mereka kembali membahas persiapan dan tanggal pernikahannya dengan semangat. Sesekali mereka meminta pendapat Zahra, yang gadis itu kembali menyerahkannya pada pihak laki-laki. Sepertinya hanya gadis itu yang tidak tersenyum disana.

__ADS_1


Yah, Zahra menerima lamaran itu karena tidak mau Zidan kecewa dan malu. Sedang hatinya, masih pada sang pujaan hati, Samuel! Entah bagaimana nasib rumah tangganya dengan Arsyad nanti. Akankah pria itu menerima Zahra yang ternyata tidak sedikit pun menaruh rasa padanya?


__ADS_2